BAB I
MASA REVOLUSI FISIK INDONESIA (
1945-1950 )
A.Perjuangan Mempertahankan
Kemerdekaan
Meskipun kemerdekaan Indonesia telah
di proklamasikan, ternyata bangsa Indonesia masih mengalami berbagai macam
rongrongan atau gangguan yang datang baik dari dalam maupun dari luar.
Pemerintah Belanda masih tetap ingin menguasai wilayah Indonesia. Namun, kali
ini kedatangan pasukan Belanda ke wilayah Indonesia bersama-sama dengan pasukan
Sekutu-Inggris. Kedatangannya disambut dengan berbagai bentuk perlawanan oleh
bangsa Indonesia. Sejak 1945 hingga tahun 1950 telah terjadi berbagai macam
pertempuran antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda yang dibantu oleh
pasukan Sekutu-Inggris.
Perjuangan bersenjata dan diplomasi
Indonesia sudah menyatakan dirinya sebagai negara merdeka. Namun, hal itu bukan berarti keadaan dalam negeri menjadi tenang. Kemerdekaan itu harus dipertahankan dari ancaman pihak asing. Untuk mempertahankan kemerdekaan, Pemerintah Indonesia menempuh dua cara, yakni perjuangan diplomasi dan perjuangan bersenjata. Perjuangan diplomasi melahirkan beberapa perjanjian, sedangkan perjuangan bersenjata mengakibatkan terjadinya berbagai pertempuran.
1.Pertempuran Surabaya (10 november 1945)
Pertempuran di Surabaya melawan sekutu tidak lepas kaitannya dengan peristiwa yangmendahuluinya, yaitu usaha perebutan kekuasaan dan senjata dari tangan Jepang yang dimulai sejak tanggal 2 september 1945. Perebutan kekuasaan dan senjata yand dilakukan oleh para pemuda berubah mejadi situasi revolusi yang konfrontatif antara pihak Indonesia dengan Sekutu.
Latar belakang pertempuran Surabaya, antara lain :
1)keinginan Sekutu untuk merebut senjata milik Jepang yang sudah dikuasai oleh para pemuda Indonesia.
2)Inggris yang mengingkari janjinya dengan pemerintah Indonesia, dan berhasil membebaskan seorang kolonel Belanda dari penjara dengan melakukan penyerangan.
3)terbunuhnya Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby pada pertempuran 28, 29 , dan 30 oktober 1945.
4)ultimatum Inggris yang mengeluarkan instruksi agar pemimpin bangsa Indonesia dan semua pihak di kota Surabaya menyerah kepada Inggris.
2.Pertempuran Ambarawa
Pertempuran di Ambarawa terjadi pada tanggal 20 november 1945 dan berakhir pada tanggal 15 desember 1945. Pertempuran ini terjadi antara TKR bersama rakyan Indonesia melawan pasukan Sekutu-Inggris
Latar
belakang pertempuran Ambarawa, antara lain :
1)Insiden di Magelang sesudah mendaratnya Brigade Artileri, yang kedatangannya diikuti oleh orang-orang NICA
2)pihak Sekutu yang mengingkari janjinya terhadap persetujuan yang sebelumnya telah disetujui oleh kedua belah pihak.
3)Sekutu melakukan pengeboman terhadap kampung-kampung yang berada di sekitar
Ambarawa.Perjuangan bersenjata dan diplomasi
Indonesia sudah menyatakan dirinya sebagai negara merdeka. Namun, hal itu bukan berarti keadaan dalam negeri menjadi tenang. Kemerdekaan itu harus dipertahankan dari ancaman pihak asing. Untuk mempertahankan kemerdekaan, Pemerintah Indonesia menempuh dua cara, yakni perjuangan diplomasi dan perjuangan bersenjata. Perjuangan diplomasi melahirkan beberapa perjanjian, sedangkan perjuangan bersenjata mengakibatkan terjadinya berbagai pertempuran.
1.Pertempuran Surabaya (10 november 1945)
Pertempuran di Surabaya melawan sekutu tidak lepas kaitannya dengan peristiwa yangmendahuluinya, yaitu usaha perebutan kekuasaan dan senjata dari tangan Jepang yang dimulai sejak tanggal 2 september 1945. Perebutan kekuasaan dan senjata yand dilakukan oleh para pemuda berubah mejadi situasi revolusi yang konfrontatif antara pihak Indonesia dengan Sekutu.
Latar belakang pertempuran Surabaya, antara lain :
1)keinginan Sekutu untuk merebut senjata milik Jepang yang sudah dikuasai oleh para pemuda Indonesia.
2)Inggris yang mengingkari janjinya dengan pemerintah Indonesia, dan berhasil membebaskan seorang kolonel Belanda dari penjara dengan melakukan penyerangan.
3)terbunuhnya Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby pada pertempuran 28, 29 , dan 30 oktober 1945.
4)ultimatum Inggris yang mengeluarkan instruksi agar pemimpin bangsa Indonesia dan semua pihak di kota Surabaya menyerah kepada Inggris.
2.Pertempuran Ambarawa
Pertempuran di Ambarawa terjadi pada tanggal 20 november 1945 dan berakhir pada tanggal 15 desember 1945. Pertempuran ini terjadi antara TKR bersama rakyan Indonesia melawan pasukan Sekutu-Inggris
1)Insiden di Magelang sesudah mendaratnya Brigade Artileri, yang kedatangannya diikuti oleh orang-orang NICA
2)pihak Sekutu yang mengingkari janjinya terhadap persetujuan yang sebelumnya telah disetujui oleh kedua belah pihak.
3.Pertempuran Medan Area
Pada tanggal 9 november 1945, pasukan sekutu dibawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D Kelly mendarat di Sumatera Utara yang dikuti oleh pasukan NICA. Brigadir ini menyatakan kepada pemerintah RI akan melaksanakan tugas kemanusiaan, mengevakuasi tawanan dari beberapa kamp di luar kota Medan. Dengah dalih menjaga keamanan, para bekas tawanan diaktifkan kembali dan dipersenjatai.
Latar belakang pertempuran Medan Area, antara lain :
1) bekas tawanan yang menjadi arogan dan sewenang-wenang.
2) ulah seorang penghuni hotel yang merampas dan menginjak-injak lencana merah-putih.
3) ultimatum agar pemuda Medan menyrahkan senjata kepada Sekutu.
4. Bandung Lautan Api
Pasukan Sekutu Inggris memasuki kota Bandung sejak pertengahan oktober 1945. Menjelang november 1945, pasukan NICA semakin merajelela di Bandung dengan aksi terornya. Masuknya tentara sektu dimanfaatkan oleh NICA untuk mengembalikan kekuasaanya di Indonesia. Tapi semangat juang rakyat dan para pemuda Bandung tetap berkobar.
Latar belakang Bandung Lautan Api, antara lain :
1) Pasukan sekutu Inggris memasuki kota Bandung dan sikap pasukan NICA yang merajalela dengan aksi terornya.
2) Perundingan antara pihak RI dengan Sekutu/NICA, dimana Bandung dibagi dua bagian.
3) Bendungan sungai Cikapundung yang jebol dan menyebabkan banjir besar dalam kota
4) Keinginan sektu yang menuntut pengosongan sejauh 11km dari Bandung Utara.
5. Peristiwa Merah Putih di Manado
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 14 februari 1946 di Manado. Para pemuda Manado bersama laskar rakyat dari barisan pejuang melakukan perebutan kekuasaan pemerintahan di Manado, Tomohon, dan Minahasa. Sekitar 600 orang pasukan dan pejabat Belanda berhasil ditahan.
Adapun latar belakang dari peristiwa ini yaitu keinginan pemuda untuk merebut kembali kekuasan di seluruh Manado yang berada di tangan Belanda.
6. Pertempuran Margarana (20 november 1946)
Pada tanggal 2 dan 3 maret 1946, lebih kurang 2.000 tentara Belanda mendarat di pulau Bali. Ketika Belanda mendarat, pimpinan laskar Bali Kolonel I Gusti Ngurah Rai, sedang menghadap ke markas tertinggi TKR di Yogyakarta.
Latar belakang pertempuran Margarana, antara lain :
1) kedatangan Belanda yang memporak-porandakan pasukan Igusti Ngurah Rai
2) tidak behasilnya Belanda yang membujuk Pimpinan Laskar Bali untuk bekerja sama.
3) pasukan I Gusti Ngurah Rai berhasil menyerang markas Belanda yang menyebabkan kemarahan dari pihak Belanda.
7. Perjanjian Linggarjati
Perlawanan hebat dari rakyat dan para pemuda Indonesia, untuk mempertahankan kemerdekaan menyebabkan Inggris menarik suatu kesimpulan bahwa sengketa antar Indonesia dan Belanda tidak mungkin dapat diselesaikan dengan kekuatan senjata, melainkan dengan cara diplomasi. Untuk menyelesaikan pertikaian Indonesia-Belanda, makap ada tanggal 10 november 1946 diadakan perundingan di Linggarjati. Pihak Indonesia dipimpin oleh dr. Sudarsono, jenderal Soedirman dna jenderal Oerip Soemohardjo. Sedangkan Belanda Van Mook, serta Inggris mengirim Lord Killearn sebagai penengah. Isi persetujuan Linggarjati, antara lain :
1) Pemerintah RI dan Belanda bersama-sama membentuk negara federasi bernama Negara Indonesia Serikat.
2) NIS tetap terikat dalam ikatan kerja sama dengan kerajaan Belanda.
3) Belanda mengakui secara de facto RI dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah de facto.
8. Agresi Militer I Belanda
Pada tanggal 27 mei 1947, Belanda mengirimkan Nota Ultimatum, yang harus dijawab dalam 14 hari yang menuntut agar segera dibentuk pemerintahan sementara bersama dan pembentukan pasukan bersama. Namun ultimatum ini dijawab dengan penolakan oleh Bangsa Indonesia. Sehingga, pada tanggal 21 juli 1947 Belanda melakukan serbuan pertama ke berbagai wilayah RI. Serangan ini dikenal sebagai Agresi Militer I Belanda. Dalam waktu singkat Belanda berhasil menguasai kota-kota, sasaran utama Belanda ialah menguasai daerah-daerah penghasil devisa. Akibatnya wilayah yang dikuasai RI semakin sempit dan pada umumnya adalah daerah minus.
9. Perjanjian Renville
Sementar peperangan sedang berlangsung, Dewan Keamanan PBB, atas desakan Australia dan India, mengeluarkan perintah peletakan senjata tanggal 1 agustus 1947, dan segera setelah itu mendirikan suatu Komisi Jasa-Jasa Baik, yang terdiri dari wakil-wakil Australia yang dipilih oleh Indonesia, Belgia yang dipilih oleh Belanda, dan Amerika Serikat sebagai penengah perselisihan itu. Yang dikenal dengan Komisi Tiga Negara.
Dengan perantara KTN, pada tanggal 8 desember 1947 dimulantara RI dan Belanda. Perundingan diadakan ditempat netral, yakni diatas kapal perang Amerika Serikat USS enville di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta sebab RI menolak berunding di daerah yang dikuasai Belanda. Perundingan akhirnya menghasilkan persetujuan yang ditandatangani pada tanggal 17 juanuari 1948 yang dikenal dengan perjanjian Renville. Persetujuan itu menmpatkan RI pada posis yang sulit. RI terpaksa mengakui pendudukan Belanda di daerah-daerah yang mereka rebut selama Agresi Militer I.
10. Agresi Militer II Belanda
Pihak Belanda yang masih ingin menguasai wilayah Indonesia, mencari cara untuk mengingkari persetujuan yang sudah disepakati. Sebelum macetnya perundingan itu sudah ada tanda-tanda bahwa pihak Belanda akan melanggar Perjanjian Renville. Oleh karena itu, pemerintah RI sudah memperhitungkan bahwa sewaktu-waktu Belanda akan melakukan aksi militernya untuk menghancurkan RI dengan kekuatan senjata.
Seperti yang telah diduga seblumnya, akhirnya Belanda pun melakukan aksi militernya yang kedua, yang menyebabkan berhasil di dudukinya ibukota Yogyakarta. Setelah serbuan ke Yogya dan daerah RI yang lain. Belanda mengalami tekanan politik dan militer. Terutama dari USA dan negara Asia yang bersimpati pada perjuangan RI. Dari segi militer, taktik gerilya dan sistem wehrkreise yang dilaksanakan Angkatan perang RI berhasil mengacaukan strategi dan taktik Belanda. Perjuangan yang paling terkenal adalah Serangan Umum 1 Maret. Karena secara militer Belanda tidak akan dapat menaklukkan RI, jalan satu-satunya untuk menyelesaikan konflik adalah kembali ke meja perundingan.
B. AKHIR PERANG KEMERDEKAAN (AKHIR REVOLUSI FISIK)
B. Perjuangan mewujudkan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesi (NKRI)
Meski kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan, Belanda tetap saja tidak mau mengakui kelahiran negara Indonesia. Belanda masih ingin menguasai wilayah Indonesia. Masa-masa revolusi fisik merupakan masa yang cukup berat bagi bangsa Indonesia karena disamping harus berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah diraihnya harus juga berjuang mewujudkan negara kesatuan RI. Wilayah Indonesia telah dipecah-pecah oleh Belanda. Oleh karena itu, bangsa Indonesia berjuang untuk merebut kembali wilayah yang menjadi miliknya melalui perjuangan diplomasi maupun angkat senjata.
1. Perjanjian Roem Royen
Akibat dari Agresi Militer tersebut, pihak Internaisonal melakukan tekana kepada Belanda, terutama USA yang mengancam akan menghentikan bantuannya kepada Belanda, akhirnya dengan terpaksa Belanda bersedia untuk kembali berunding dengan RI. Pada tanggal 27 mei 1949, RI dan Belanda menyepakati perjanjian Roem Royen. Perjanjian ini merupakan perundingan yang membuka jalan ke arah terlaksananya Konferensi Meja Bundar yamg menjadi cikal bakal terwujudnya NKRI. Perundingan ini dilakukan untuk meredakan konflik Indonesia-Belanda setelah bangsa Indonesia dengan gigih mempertahankan wilayahnya dari segala agresi Belanda. Inti dari perjanjian ini yaitu akan dilaksanakanya KMB yang akan membahas tentang kedaulatan bangsa Indonesia.
2. Konferensi Inter-Indonesia
Sebagai tindak lanjut dari perjanjian Roem Royen, pada tanggal 22 juni 1949 diadakan perundingan formal antara RI. Hasil konferensi Inter-Indonesia yang disetujui bersama, antara lain :
1) NIS disetujui dengan nama RIS
2) Angkatan perang RIS adalah angkatang perang Nasional
Selain itu, disetujui pula bahwa bendera kebangsaan adalah sang saka Merah Putih, lagu kebangsaan adalah Indonesia Raya, bahasa nasional adalah Bahasa Indonesia, dan hari nasional adalah tanggal 17 agustus.
3. Konferensi Meja Bundar dan Pengakuan Kedaulatan
Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antar pemerintah RI dan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 agustus hingga 2 november 1949, yang menghasilkan kesepakatan bahwa Belanda mengakui kedaulatan RIS. Sesuai dengan hasil KMB, pada tanggal 27 desember 1949 berlangsung upacara pengakuan kedaulatan oleh pemerintah Belanda kepada pemerintah RIS.
4. Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam penyelesaian konflik Indonesia-Belanda
PBB turut membantu dan berusaha menyelesaikan pertikaian bersenjata anatar Indonesia-Belanda selama masa revolusi fisik (1945-1950). Pada tanggal 24 januari 1949 Dewan Keamanan PBB bersidang dan dalam sidang tersebut Amerika mengeluarkan resolusi yang disetujui oleh semui negara anggota, yaitu :
1) Membebaskan Presiden dan Wakil Presidan serta pemimpin RI yang ditangkap pada 19 desenber 1948
2) Memerintahkan KTN agar memberikan laporan lengkap mengenai situasi di Indonesia sejak 19 desember 1948.
Dengan pengakuan kedaulatan tanggal 27 desember 1949, maka berakhirlah masa revolusi bersenjata di Indonesia dan secar de jure pihak Belanda telah mengakui kemerdekaan Indonesia dalam bentuk RIS. Namun atas kesepakatan rakyat Indonesia tanggal 17 agustus 1950, RIS dibubarkan dan dibentuk NKRI. Selanjutnya pada tanggal 28 september 1950, Indonesia di terima menjadi anggota PBB yang ke-60. Hal ini berarti bahwa kemerdekaan Indonesia secara resmi telah di akui oleh dunia internaisonal.
BAB II
INDONESIA MASA DEMOKRASI LIBERAL (1950-1959)
INDONESIA MASA DEMOKRASI LIBERAL (1950-1959)
Pelaksanaan demokrasi liberal sesuai dengan konstitusi yang
berlaku saat itu, yakni Undang Undang Dasar Sementara 1950. Kondisi ini bahkan
sudah dirintis sejak dikeluarkannya maklumat pemerintah tanggal 16 Oktober 1945
dan maklumat tanggal 3 November 1945, tetapi kemudian terbukti bahwa demokrasi
liberal atau parlementer yang meniru sistem Eropa Barat kurang sesuai
diterapkan di Indonesia. Tahun 1950 sampai 1959 merupakan masa berkiprahnya
parta-partai politik. Dua partai terkuat pada masa itu (PNI & Masyumi)
silih berganti memimpin kabinet. Sering bergantinya kabinet sering menimbulkan
ketidakstabilan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan keamanan. Ciri-ciri
demokrasi liberal adalah sebagai berikut :
- Presiden dan Wakil Presiden
tidak dapat diganggu gugat
- Menteri bertanggung jawab atas
kebijakan pemerintah
- Presiden bisa dan berhak berhak
membubarkan DPR
- Perdana Menteri diangkat oleh
Presiden
a. KABINET NATSIR (6 September 1950 – 21 Maret 1951)
Merupakan kabinet koalisi yang
dipimpin oleh partai Masyumi.
Dipimpin
Oleh : Muhammad Natsir
Program
:
1.Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman.
2.Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan.
3.Menyempurnakan organisasi Angkatan Perang.
4.Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat.
5.Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat.
2.Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan.
3.Menyempurnakan organisasi Angkatan Perang.
4.Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat.
5.Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat.
Hasil
:
Berlangsung perundingan antara
Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai masalah Irian Barat.
Kendala/
Masalah yang dihadapi :
- Upaya memperjuangkan masalah Irian Barat dengan Belanda mengalami jalan buntu (kegagalan).
- Timbul masalah keamanan dalam negeri yaitu terjadi pemberontakan hampir di
seluruh wilayah Indonesia, seperti Gerakan DI/TII, Gerakan Andi Azis, Gerakan
APRA, Gerakan RMS.
Berakhirnya
kekuasaan kabinet :
Adanya mosi tidak percaya dari PNI
menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI
menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu
menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Natsir harus
mengembalikan mandatnya kepada Presiden.
b. KABINET SUKIMAN (27 April 1951 – 3 April 1952)
Merupakan kabinet koalisi antara
Masyumi dan PNI.
Dipimpin
Oleh: Sukiman Wiryosanjoyo
Program
:
- Menjamin keamanan dan
ketentraman
- Mengusahakan kemakmuran rakyat
dan memperbaharui hukum agraria agar sesuai dengan kepentingan petani.
- Mempercepat persiapan pemilihan
umum.
- Menjalankan politik luar negeri
secara bebas aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI
secepatnya.
Hasil
:
Tidak terlalu berarti sebab programnya
melanjtkan program Natsir hanya saja terjadi perubahan skala prioritas dalam
pelaksanaan programnya, seperti awalnya program Menggiatkan usaha keamanan dan
ketentraman selanjutnya diprioritaskan untuk menjamin keamanan dan ketentraman
Kendala/ Masalah
yang dihadapi :
- Adanya Pertukaran Nota
Keuangan antara Mentri Luar Negeri Indonesia Soebardjo dengan Duta Besar
Amerika Serikat Merle Cochran. Mengenai pemberian bantuan ekonomi dan
militer dari pemerintah Amerika kepada Indonesia berdasarkan ikatan Mutual
Security Act (MSA). Dimana dalam MSA terdapat pembatasan kebebasan
politik luar negeri RI karena RI diwajibkan memperhatiakan kepentingan
Amerika.
Tindakan
Sukiman tersebut dipandang telah melanggar politik luar negara Indonesia yang
bebas aktif karena lebih condong ke blok barat bahkan dinilai telah memasukkan
Indonesia ke dalam blok barat.
- Adanya krisis moral yang
ditandai dengan munculnya korupsi yang terjadi pada setiap lembaga
pemerintahan dan kegemaran akan barang-barang mewah.
- Masalah Irian barat belum juga
teratasi.
- Hubungan Sukiman dengan militer
kurang baik tampak dengan kurang tegasnya tindakan pemerintah menghadapi
pemberontakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan.
Berakhirnya
kekuasaan kabinet :
Muncul
pertentangan dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik
dukungannya pada kabinet tersebut. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa
Sukiman harus mengembalikan mandatnya kepada presiden.
c. KABINET WILOPO (3 April 1952 – 3 Juni 1953)
Kabinet
ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar
yang ahli dalam biangnya.
Dipimpin
Oleh : Mr. Wilopo
Program :
- Program dalam negeri : Menyelenggarakan pemilihan umum (konstituante,
DPR, dan DPRD), meningkatkan kemakmuran rakyat, meningkatkan pendidikan
rakyat, dan pemulihan keamanan.
- Program luar negeri :
Penyelesaian masalah hubungan Indonesia-Belanda, Pengembalian Irian Barat
ke pangkuan Indonesia, serta menjalankan politik luar negeri yang
bebas-aktif.
Hasil : -
Kendala/
Masalah yang dihadapi
:
- Adanya kondisi krisis ekonomi
yang disebabkan karena jatuhnya harga barang-barang eksport Indonesia
sementara kebutuhan impor terus meningkat.
- Terjadi defisit kas negara
karena penerimaan negara yang berkurang banyak terlebih setelah terjadi
penurunana hasil panen sehingga membutuhkan biaya besar untuk mengimport
beras.
- Munculnya gerakan sparatisme
dan sikap provinsialisme yang mengancam keutuhan bangsa. Semua itu
disebabkan karena rasa ketidakpuasan akibat alokasi dana dari pusat ke
daerah yang tidak seimbang.
- Terjadi peristiwa 17 Oktober
1952. Merupakan upaya pemerintah untuk menempatkan TNI sebagai alat
sipil sehingga muncul sikap tidak senang dikalangan partai politik sebab
dipandang akan membahayakan kedudukannya. Peristiwa ini diperkuat dengan
munculnya masalah intern dalam TNI sendiri yang berhubungan dengan
kebijakan KSAD A.H Nasution yang ditentang oleh Kolonel Bambang Supeno
sehingga ia mengirim petisi mengenai penggantian KSAD kepada menteri
pertahanan yang dikirim ke seksi pertahanan parlemen sehingga menimbulkan
perdebatan dalam parlemen. Konflik semakin diperparah dengan adanya surat
yang menjelekkan kebijakan Kolonel Gatot Subroto dalam memulihkan
keamanana di Sulawesi Selatan.
Keadaan ini menyebabkan muncul
demonstrasi di berbagai daerah menuntut dibubarkannya parlemen. Sementara itu
TNI-AD yang dipimpin Nasution menghadap presiden dan menyarankan agar parlemen
dibubarkan. Tetapi saran tersebut ditolak.
Muncullah
mosi tidak percaya dan menuntut diadakan reformasi dan reorganisasi angkatan
perang dan mengecam kebijakan KSAD.
Inti
peristiwa ini adalah gerakan sejumlah perwira angkatan darat guna menekan
Sukarno agar membubarkan kabinet.
- Munculnya peristiwa Tanjung
Morawa mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli).
Sesuai dengan perjanjian KMB pemerintah mengizinkan pengusaha asing untuk
kembali ke Indonesia dan memiliki tanah-tanah perkebunan. Tanah perkebunan
di Deli yang telah ditinggalkan pemiliknya selama masa Jepang telah
digarap oleh para petani di Sumatera Utara dan dianggap miliknya. Sehingga
pada tanggal 16 Maret 1953 muncullah aksi kekerasan untuk mengusir para
petani liar Indonesia yang dianggap telah mengerjakan tanah tanpa izin
tersebut. Para petani tidak mau pergi sebab telah dihasut oleh PKI.
Akibatnya terjadi bentrokan senjata dan beberapa petani terbunuh.
Intinya
peristiwa Tanjung Morawa merupakan peristiwa bentrokan antara aparat kepolisian
dengan para petani liar mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur
(Deli).
Berakhirnya
kekuasaan kabinet
:
Akibat peristiwa Tanjung Morawa
muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet
Wilopo. Sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada presiden.
d. KABINET ALI SASTROAMIJOYO I (31 Juli 1953 – 12 Agustus
1955)
Kabinet ini merupakan koalisi antara
PNI dan NU.
Dipimpin
Oleh : Mr. Ali Sastroamijoyo
Program
:
- Meningkatkan keamanan dan
kemakmuran serta segera menyelenggarakan Pemilu.
- Pembebasan Irian Barat
secepatnya.
- Pelaksanaan politik bebas-aktif
dan peninjauan kembali persetujuan KMB.
- Penyelesaian Pertikaian politik
Hasil
:
- Persiapan Pemilihan Umum untuk
memilih anggota parlemen yang akan diselenggarakan pada 29 September 1955.
- Menyelenggarakan Konferensi
Asia-Afrika tahun 1955.
Kendala/
Masalah yang dihadapi
:
- Menghadapi
masalah keamanan di daerah yang belum juga dapat terselesaikan, seperti
DI/TII di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh.
- Terjadi
peristiwa 27 Juni 1955 suatu peristiwa yang menunjukkan adanya
kemelut dalam tubuh TNI-AD. Masalah TNI –AD yang merupakan kelanjutan dari
Peristiwa 17 Oktober 1952. Bambang Sugeng sebagai Kepala Staf AD
mengajukan permohonan berhenti dan disetujui oleh kabinet. Sebagai
gantinya mentri pertahanan menunjuk Kolonel Bambang Utoyo tetapi panglima
AD menolak pemimpin baru tersebut karena proses pengangkatannya dianggap
tidak menghiraukan norma-norma yang berlaku di lingkungan TNI-AD. Bahkan
ketika terjadi upacara pelantikan pada 27 Juni 1955 tidak seorangpun
panglima tinggi yang hadir meskipun mereka berada di Jakarta. Wakil
KSAD-pun menolak melakukan serah terima dengan KSAD baru.
- Keadaan
ekonomi yang semakin memburuk, maraknya korupsi, dan inflasi yang
menunjukkan gejala membahayakan.
- Memudarnya
kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.
- Munculnya
konflik antara PNI dan NU yang menyebabkkan, NU memutuskan untuk menarik
kembali menteri-mentrinya pada tanggal 20 Juli 1955 yang diikuti oleh
partai lainnya.
Berakhirnya
kekuasaan kabinet :
Nu menarik dukungan dan menterinya
dari kabinet sehingga keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus
mengembalikan mandatnya pada presiden.
e. KABINET BURHANUDDIN HARAHAP (12 Agustus 1955 – 3 Maret
1956)
Dipimpin
Oleh :
Burhanuddin Harahap
Program :
- Mengembalikan kewibawaan pemerintah,
yaitu mengembalikan kepercayaan Angkatan Darat dan masyarakat kepada
pemerintah.
- Melaksanakan
pemilihan umum menurut rencana yang sudah ditetapkan dan mempercepat
terbentuknya parlemen baru
- Masalah
desentralisasi, inflasi, pemberantasan korupsi
- Perjuangan
pengembalian Irian Barat
- Politik
Kerjasama Asia-Afrika berdasarkan politik luar negeri bebas aktif.
Hasil :
- Penyelenggaraan
pemilu pertama yang demokratis pada 29 September 1955 (memilih anggota
DPR) dan 15 Desember 1955 (memilih konstituante). Terdapat 70 partai
politik yang mendaftar tetapi hanya 27 partai yang lolos seleksi.
Menghasilkan 4 partai politik besar yang memperoleh suara terbanyak, yaitu
PNI, NU, Masyumi, dan PKI.
- Perjuangan
Diplomasi Menyelesaikan masalah Irian Barat dengan pembubaran Uni
Indonesia-Belanda.
- Pemberantasan
korupsi dengan menangkap para pejabat tinggi yang dilakukan oleh polisi
militer.
- Terbinanya
hubungan antara Angkatan Darat dengan Kabinet Burhanuddin.
- Menyelesaikan
masalah peristiwa 27 Juni 1955 dengan mengangkat Kolonel AH Nasution
sebagai Staf Angkatan Darat pada 28 Oktober 1955.
Kendala/
Masalah yang dihadapi :
Banyaknya mutasi dalam lingkungan
pemerintahan dianggap menimbulkan ketidaktenangan.
Berakhirnya
kekuasaan kabinet :
Dengan berakhirnya pemilu maka tugas
kabinet Burhanuddin dianggap selesai. Pemilu tidak menghasilkan dukungan yang
cukup terhadap kabinet sehingga kabinetpun jatuh. Akan dibentuk kabinet baru
yang harus bertanggungjawab pada parlemen yang baru pula.
f. KABINET ALI SASTROAMIJOYO II (20 Maret 1956 – 4 Maret
1957)
Kabinet
ini merupakn hasil koalisi 3 partai yaitu PNI, Masyumi, dan NU.
Dipimpin
Oleh : Ali Sastroamijoyo
Program
:
Program kabinet ini disebut Rencana
Pembangunan Lima Tahun yang memuat program jangka panjang, sebagai berikut.
- Perjuangan pengembalian Irian
Barat
- Pembentukan daerah-daerah
otonomi dan mempercepat terbentuknya anggota-anggota DPRD.
- Mengusahakan perbaikan nasib
kaum buruh dan pegawai.
- Menyehatkan perimbangan
keuangan negara.
- Mewujudkan perubahan ekonomi
kolonial menjadi ekonomi nasional berdasarkan kepentingan rakyat.
Selain itu program pokoknya adalah,
- Pembatalan KMB,
- Pemulihan keamanan dan
ketertiban, pembangunan lima tahun, menjalankan politik luar negeri bebas
aktif,
- Melaksanakan keputusan KAA.
Hasil
:
Mendapat dukungan penuh dari
presiden dan dianggap sebagai titik tolak dari periode planning and
investment, hasilnya adalah Pembatalan seluruh perjanjian KMB.
Kendala/
Masalah yang dihadapi :
- Berkobarnya
semangat anti Cina di masyarakat.
- Muncul
pergolakan/kekacauan di daerah yang semakin menguat dan mengarah pada gerakan
sparatisme dengan pembentukan dewan militer seperti Dewan Banteng di
Sumatera Tengah, Dewan Gajah di Sumatera Utara, Dewan Garuda di Sumatra
Selatan, Dewan Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan, dan Dewan Manguni
di Sulawesi Utara.
- Memuncaknya
krisis di berbagai daerah karena pemerintah pusat dianggap mengabaikan
pembangunan di daerahnya.
- Pembatalan
KMB oleh presiden menimbulkan masalah baru khususnya mengenai nasib modal
pengusaha Belanda di Indonesia. Banyak pengusaha Belanda yang menjual
perusahaannya pada orang Cina karena memang merekalah yang kuat
ekonominya. Muncullah peraturan yang dapat melindungi pengusaha nasional.
- Timbulnya
perpecahan antara Masyumi dan PNI. Masyumi menghendaki agar Ali
Sastroamijoyo menyerahkan mandatnya sesuai tuntutan daerah, sedangkan PNI
berpendapat bahwa mengembalikan mandat berarti meninggalkan asas demokrasi
dan parlementer.
Berakhirnya
kekuasaan kabinet :
Mundurnya sejumlah menteri dari
Masyumi membuat kabinet hasil Pemilu I ini jatuh dan menyerahkan mandatnya pada
presiden.
g. KABINET DJUANDA ( 9 April 1957- 5 Juli
1959)
Kabinet
ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar
yang ahli dalam bidangnya. Dibentuk karena Kegagalan konstituante dalam
menyusun Undang-undang Dasar pengganti UUDS 1950. Serta terjadinya perebutan
kekuasaan antara partai politik.
Dipimpin
Oleh : Ir. Juanda
Program
:
Programnya disebut Panca Karya
sehingga sering juga disebut sebagai Kabinet Karya, programnya yaitu :
- Membentuk Dewan Nasional
- Normalisasi keadaan Republik
Indonesia
- Melancarkan pelaksanaan
Pembatalan KMB
- Perjuangan pengembalian Irian
Jaya
- Mempergiat/mempercepat proses
Pembangunan
Semua itu dilakukan untuk menghadapi
pergolakan yang terjadi di daerah, perjuangan pengembalian Irian Barat,
menghadapi masalah ekonomi serta keuangan yang sangat buruk.
Hasil
:
- Mengatur kembali batas perairan
nasional Indonesia melalui Deklarasi Djuanda, yang mengatur
mengenai laut pedalaman dan laut teritorial. Melalui deklarasi ini
menunjukkan telah terciptanya Kesatuan Wilayah Indonesia dimana lautan dan
daratan merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat.
- Terbentuknya Dewan Nasional
sebagai badan yang bertujuan menampung dan menyalurkan pertumbuhan
kekuatan yang ada dalam masyarakat dengan presiden sebagai ketuanya.
Sebagai titik tolak untuk menegakkan sistem demokrasi terpimpin.
- Mengadakan Musyawarah
Nasional (Munas) untuk meredakan pergolakan di berbagai daerah.
Musyawarah ini membahas masalah pembangunan nasional dan daerah,
pembangunan angkatan perang, dan pembagian wilayah RI.
- Diadakan Musyawarah Nasional
Pembangunan untuk mengatasi masalah krisis dalam negeri tetapi tidak
berhasil dengan baik.
Kendala/
Masalah yang dihadapi :
-
Kegagalan Menghadapi pergolakan di daerah sebab pergolakan di daerah semakin
meningkat. Hal ini menyebabkan hubungan pusat dan daerah menjadi terhambat.
Munculnya pemberontakan seperti PRRI/Permesta.
-
Keadaan ekonomi dan keuangan yang semakin buruk sehingga program pemerintah
sulit dilaksanakan. Krisis demokrasi liberal mencapai puncaknya.
-
Terjadi peristiwa Cikini, yaitu peristiwa percobaan pembunuhan terhadap
Presiden Sukarno di depan Perguruan Cikini saat sedang menghadir pesta sekolah
tempat putra-purinya bersekolah pada tanggal 30 November 1957. Peristiwa ini
menyebabkan keadaan negara semakin memburuk karena mengancam kesatuan negara.
Berakhirnya
kekuasaan kabinet :
Berakhir saat presiden Sukarno
mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan mulailah babak baru sejarah RI
yaitu Demokrasi Terpimpin.
B. KEADAAN EKONOMI INDONESIA MASA LIBERAL
Meskipun Indonesia telah merdeka
tetapi Kondisi Ekonomi Indonesia masih sangat buruk. Upaya untuk mengubah
stuktur ekonomi kolonial ke ekonomi nasional yang sesuai dengan jiwa bangsa
Indonesia berjalan tersendat-sendat.
Faktor
yang menyebabkan keadaan ekonomi tersendat adalah sebagai berikut.
- Setelah pengakuan kedaulatan
dari Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, bangsa Indonesia menanggung
beban ekonomi dan keuangan seperti yang telah ditetapkan dalam KMB. Beban
tersebut berupa hutang luar negeri sebesar 1,5 Triliun rupiah dan utang
dalam negeri sejumlah 2,8 Triliun rupiah.
- Defisit yang harus ditanggung
oleh Pemerintah pada waktu itu sebesar 5,1 Miliar.
- 3.
Indonesia hanya mengandalkan satu jenis ekspor terutama hasil bumi yaitu
pertanian dan perkebunan sehingga apabila permintaan ekspor dari sektor
itu berkurang akan memukul perekonomian Indonesia.
- Politik keuangan Pemerintah
Indonesia tidak di buat di Indonesia melainkan dirancang oleh Belanda.
- Pemerintah Belanda tidak
mewarisi nilai-nilai yang cukup untuk mengubah sistem ekonomi kolonial
menjadi sistem ekonomi nasional.
- Belum memiliki pengalaman untuk
menata ekonomi secara baik, belum memiliki tenaga ahli dan dana yang
diperlukan secara memadai.
- Situasi keamanan dalam negeri
yang tidak menguntungkan berhubung banyaknya pemberontakan dan gerakan sparatisisme
di berbagai daerah di wilayah Indonesia.
- Tidak stabilnya situasi politik
dalam negeri mengakibatkan pengeluaran pemerintah untuk operasi-operasi
keamanan semakin meningkat.
- Kabinet terlalu sering berganti
menyebabakan program-program kabinet yang telah direncanakan tidak dapat
dilaksanakan, sementara program baru mulai dirancang.
- Angka pertumbuhan jumlah
penduduk yang besar.
Masalah
jangka pendek yang harus dihadapi pemerintah adalah :
1.
Mengurangi jumlah uang yang beredar
2.
Mengatasi Kenaikan biaya hidup.
Sementara
masalah jangka panjang yang harus dihadapi adalah :
1.
Pertambahan penduduk dan tingkat kesejahteraan penduduk yang rendah.
C. KEBIJAKAN PEMERINTAH UNTUK MENGATASI MASALAH EKONOMI
MASA LIBERAL
Kehidupan ekonomi Indonesia hingga
tahun 1959 belum berhasil dengan baik dan tantangan yang menghadangnya cukup
berat. Upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi adalah sebagai
berikut.
1. Gunting Syafruddin
Kebijakan ini adalah Pemotongan nilai uang
(sanering). Caranya memotong semua uang yang bernilai Rp. 2,50 ke atas hingga nilainya tinggal
setengahnya.
Kebijakan
ini dilakukan oleh Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara pada masa
pemerintahan RIS. Tindakan ini dilakukan pada tanggal 20 Maret 1950 berdasarkan
SK Menteri Nomor 1 PU tanggal 19 Maret 1950
Tujuannya untuk menanggulangi defisit
anggaran sebesar Rp. 5,1 Miliar.
Dampaknya rakyat kecil tidak dirugikan karena
yang memiliki uang Rp. 2,50 ke atas hanya orang-orang kelas menengah dan kelas
atas. Dengan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dan
pemerintah mendapat kepercayaan dari pemerintah Belanda dengan mendapat
pinjaman sebesar Rp. 200 juta.
2. Sistem Ekonomi Gerakan Benteng
Sistem
ekonomi Gerakan Benteng merupakan usaha pemerintah Republik Indonesia untuk
mengubah struktur ekonomi yang berat sebelah yang dilakukan pada masa Kabinet
Natsir yang direncanakan oleh Sumitro Joyohadikusumo (menteri perdagangan).
Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur
ekonomi nasional (pembangunan ekonomi Indonesia). Programnya :
Menumbuhkan
kelas pengusaha dikalangan bangsa Indonesia.
Para
pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk
berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.
Para
pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan bantuan
kredit.
Para
pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi maju.
Gagasan
Sumitro ini dituangkan dalam program Kabinet Natsir dan Program Gerakan Benteng
dimulai pada April 1950. Hasilnya selama 3 tahun (1950-1953) lebih kurang 700
perusahaan bangsa Indonesia menerima bantuan kredit dari program ini. Tetapi
tujuan program ini tidak dapat tercapai dengan baik meskipun beban keuangan
pemerintah semakin besar. Kegagalan program ini disebabkan karena :
- Para pengusaha pribumi tidak
dapat bersaing dengan pengusaha non pribumi dalam kerangka sistem ekonomi
liberal.
- Para pengusaha pribumi memiliki
mentalitas yang cenderung konsumtif.
- Para pengusaha pribumi sangat
tergantung pada pemerintah.
- Para pengusaha kurang mandiri
untuk mengembangkan usahanya.
- Para pengusaha ingin cepat
mendapatkan keuntungan besar dan menikmati cara hidup mewah.
- Para pengusaha menyalahgunakan
kebijakan dengan mencari keuntungan secara cepat dari kredit yang mereka
peroleh.
Dampaknya program ini menjadi salah
satu sumber defisit keuangan. Beban defisit anggaran Belanja pada 1952 sebanyak
3 Miliar rupiah ditambah sisa defisit anggaran tahun sebelumnya sebesar 1,7
miliar rupiah. Sehingga menteri keuangan Jusuf Wibisono memberikan bantuan
kredit khususnya pada pengusaha dan pedagang nasional dari golongan ekonomi
lemah sehingga masih terdapat para pengusaha pribumi sebagai produsen yang
dapat menghemat devisa dengan mengurangi volume impor.
3. Nasionalisasi De Javasche Bank
Seiring meningkatnya rasa
nasionalisme maka pada akhir tahun 1951 pemerintah Indonesia melakukan
nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Awalnya terdapat
peraturan bahwa mengenai pemberian kredi tharus dikonsultasikan pada pemerintah
Belanda. Hal ini menghambat pemerintah dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan
moneter.
Tujuannya adalah untuk menaikkan pendapatan
dan menurunkan biaya ekspor, serta melakukan penghematan secara drastis.
Perubahan mengenai nasionalisasi De
Javasche Bank menjadi Bank Indonesia sebagai bank sentral dan bank
sirkulasi diumumkan pada tanggal 15 Desember 1951 berdasarkan Undang-undang No.
24 tahun 1951.
4. Sistem Ekonomi Ali-Baba
Sistem ekonomi Ali-Baba diprakarsai
oleh Iskaq Tjokrohadisurjo (mentri perekonomian kabinet Ali I). Tujuan dari
program ini adalah
- Untuk memajukan pengusaha
pribumi.
- Agar para pengusaha pribumi
Bekerjasama memajukan ekonomi nasional.
- Pertumbuhan dan perkembangan
pengusaha swasta nasional pribumi dalam rangka merombak ekonomi kolonial
menjadi ekonomi nasional.
- Memajukan ekonomi Indonesia
perlu adanya kerjasama antara pengusaha pribumi dan non pribumi.
Ali digambarkan sebagai pengusaha pribumi
sedangkan Baba digambarkan sebagai pengusaha non pribumi
khususnya Cina.
Pelaksanaan
kebijakan Ali-Baba,
- Pengusaha pribumi diwajibkan
untuk memberikan latihan-latihan dan tanggung jawab kepada tenaga-tenaga
bangsa Indonesia agar dapat menduduki jabatan-jabatan staf.
- Pemerintah menyediakan kredit
dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional
- Pemerintah memberikan
perlindungan agar mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing yang
ada.
Program
ini tidak dapat berjalan dengan baik sebab:
Pengusaha pribumi kurang pengalaman
sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.
Sedangkan pengusaha non pribumi lebih berpengalaman dalam memperoleh bantuan
kredit.
Indonesia menerapkan sistem Liberal
sehingga lebih mengutamakan persaingan bebas.
Pengusaha pribumi belum sanggup
bersaing dalam pasar bebas.
5. Persaingan Finansial Ekonomi (Finek)
Pada masa Kabinet Burhanudin Harahap
dikirim delegasi ke Jenewa untuk merundingkan masalah finansial-ekonomi antara
pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Misi ini dipimpin oleh Anak Agung Gede
Agung. Pada tanggal 7 Januari 1956 dicapai kesepakatan rencana persetujuan Finek,
yang berisi :
Persetujuan Finek hasil KMB
dibubarkan.
Hubungan Finek Indonesia-Belanda
didasarkan atas hubungan bilateral.
Hubungan Finek didasarkan pada
Undang-undang Nasional, tidak boleh diikat oleh perjanjian lain antara kedua
belah pihak.
Hasilnya pemerintah Belanda tidak
mau menandatangani, sehingga Indonesia mengambil langkah secara sepihak.
Tanggal 13 Februari1956, Kabinet Burhanuddin Harahap melakukan pembubaran Uni
Indonesia-Belanda secara sepihak.
Tujuannya untuk melepaskan diri dari
keterikatan ekonomi dengan Belanda. Sehingga, tanggal 3 Mei 1956, akhirnya
Presiden Sukarno menandatangani undang-undang pembatalan KMB.
Dampaknya
:
Banyak pengusaha Belanda yang
menjual perusahaannya, sedangkan pengusaha pribumi belum mampu mengambil alih
perusahaan Belanda tersebut.
6. Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT)
Masa kerja kabinet pada masa liberal
yang sangat singkat dan program yang silih berganti menimbulkan ketidakstabilan
politik dan ekonomi yang menyebabkan terjadinya kemerosotan ekonomi, inflasi,
dan lambatnya pelaksanaan pembangunan.
Program yang dilaksanakan umumnya
merupakan program jangka pendek, tetapi pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo II,
pemerintahan membentuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang disebut Biro
Perancang Negara. Tugas biro ini merancang pembangunan jangka
panjang. Ir. Juanda diangkat sebagai menteri perancang nasional. Biro ini
berhasil menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) yang rencananya akan
dilaksanakan antara tahun 1956-1961 dan disetujui DPR pada tanggal 11 November
1958. Tahun 1957 sasaran dan prioritas RPLT diubah melalui Musyawarah Nasional
Pembangunan (Munap). Pembiayaan RPLT diperkirakan 12,5 miliar rupiah.
RPLT tidak
dapat berjalan dengan baik disebabkan karena :
Adanya depresi ekonomi di Amerika
Serikat dan Eropa Barat pada akhir tahun 1957 dan awal tahun 1958 mengakibatkan
ekspor dan pendapatan negara merosot.
Perjuangan pembebasan Irian Barat
dengan melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia
menimbulkan gejolak ekonomi.
Adanya ketegangan antara pusat dan
daerah sehingga banyak daerah yang melaksanakan kebijakan ekonominya
masing-masing.
7. Musyawarah Nasional Pembangunan
Masa kabinet Juanda terjadi
ketegangan hubungan antara pusat dan daerah. Masalah tersebut untuk sementara
waktu dapat teratasi dengan Musayawaraah Nasional Pembangunan (Munap). Tujuan
diadakan Munap adalah untuk mengubah rencana pembangunan agar dapat
dihasilkan rencana pembangunan yang menyeluruh untuk jangka panjang. Tetapi
tetap saja rencana pembangunan tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan
baik karena :
- Adanya kesulitan dalam
menentukan skala prioritas.
- Terjadi ketegangan politik yang
tak dapat diredakan.
- Timbul pemberontakan
PRRI/Permesta.
- Membutuhkan biaya besar untuk
menumpas pemberontakan PRRI/ Permesta sehingga meningkatkan defisit
Indonesia.
Memuncaknya
ketegangan politik Indonesia- Belanda menyangkut masalah Irian Barat mencapai
konfrontasi bersenjata.
BAB III
MASA
ORDE LAMA
A.
Pengertian Masa Orde Lama
Orde lama adalah nama masa pemerintahan jabatan
kekuasaan presiden soekarno dengan wakil presidennya moh Hatta karena pada masa
itu indonesia adalah negara yang baru saja lahir setelah perang dunia 2 atas
kemenagan sekutu Banyak rintangan yang harus dihadapi indonesia yang baru saja
merdeka yang memaksa harus berhadapan dengan NICA yang di boncengi oleh sekutu
yaitu inggris kemudian perjanjian kmb.Orde Lama berlangsung dari
tahun 1945
hingga 1968. Dalam jangka waktu
tersebut, Indonesia menggunakan bergantian sistemekonomi liberal dan sistemekonomikomando.Di saat menggunakan sistem ekonomi liberal, Indonesia menggunakan sistempemerintahanparlementer. Presiden Soekarno di gulingkan
waktu Indonesia menggunakan sistem ekonomi komando.
PADA MASA
ORDE LAMA, ADA 2 MACAM DEMOKRASI YANG SEMPAT DIBERLAKUKAN, yaitu :
·
Demokrasi Liberal
·
Demokrasi Terpimpin
1. DEMOKRASI LIBERAL(1950-1959)
a.
Masa Demokrasi Liberal
Demokrasi liberal
(atau demokrasi konstitusional) adalah sistem politik yang
melindungi secara konstitusional
hak-hak individu dari kekuasaan pemerintah.[1]
Dalam demokrasi liberal, keputusan-keputusan mayoritas (dari proses perwakilan
atau langsung) diberlakukan pada sebagian besar bidang-bidang kebijakan
pemerintah yang tunduk pada pembatasan-pembatasan agar keputusan pemerintah
tidak melanggar kemerdekaan dan
hak-hak individu seperti tercantum dalam konstitusi.Demokrasi
liberal pertama kali dikemukakan pada Abad Pencerahan oleh
penggagas teori kontrak sosial
seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan
Jean-Jacques
Rousseau. Semasa Perang Dingin,
istilah demokrasi liberal bertolak belakang dengan komunisme ala Republik Rakyat.
Pada zaman sekarang demokrasi konstitusional umumnya dibanding-bandingkan dengan
demokrasi langsung atau
demokrasi partisipasi.Demokrasi
liberal dipakai untuk menjelaskan sistem politik dan demokrasi barat di Amerika Serikat, Britania Raya, Kanada.Konstitusi
yang dipakai dapat berupa republik
(Amerika Serikat, India, Perancis)
atau monarki
konstitusional (Britania Raya, Spanyol).
Demokrasi liberal dipakai oleh negara yang menganut sistem presidensial
(Amerika Serikat), sistem parlementer (sistem Westminster: Britania Raya dan Negara-Negara
Persemakmuran) atau sistem semipresidensial
(Perancis).
b.
Masa Demokrasi Liberal DiIndonesia
Pada tahun
1950, Negara Kesatuan Republik Indonesia mempergunakan Undang-Undang Dasar
Sementara (UUDS) atau juga disebut Undang-Undang Dasar 1950.Berdasarkan UUD
tersebut pemerintahan yang dilakukan oleh kabinet sifatnya parlementer, artinya
kabinet bertanggung jawab pada parlemen.Jatuh bangunnya suatu kabinet
bergantung pada dukungan anggota parlemen.Ciri utama masa Demokrasi Liberal
adalah sering bergantinya kabinet.Hal ini disebabkan karena jumlah partai yang
cukup banyak, tetapi tidak ada partai yang memiliki mayoritas mutlak. Setiap
kabinet terpaksa didukung oleh sejumlah partai berdasarkan hasil usaha
pembentukan partai ( kabinet formatur ). Bila dalam perjalanannya kemudian
salah satu partai pendukung mengundurkan diri dari kabinet, maka kabinet akan
mengalami krisis kabinet. Presiden hanya menunjuk seseorang ( umumnya ketua
partai ) untuk membentuk kabinet, kemudian setelah berhasil pembentukannya,
maka kabinet dilantik oleh Presiden.
Suatu kabinet dapat berfungsi bila memperoleh kepercayaan dari parlemen, dengan kata lain ia memperoleh mosi percaya. Sebaliknya, apabila ada sekelompok anggota parlemen kurang setuju ia akan mengajukan mosi tidak percaya yang dapat berakibat krisis kabinet. Selama sepuluh tahun (1950-1959) ada tujuh kabinet, sehingga rata-rata satu kabinet hanya berumur satu setengah tahun.rakyat.
Suatu kabinet dapat berfungsi bila memperoleh kepercayaan dari parlemen, dengan kata lain ia memperoleh mosi percaya. Sebaliknya, apabila ada sekelompok anggota parlemen kurang setuju ia akan mengajukan mosi tidak percaya yang dapat berakibat krisis kabinet. Selama sepuluh tahun (1950-1959) ada tujuh kabinet, sehingga rata-rata satu kabinet hanya berumur satu setengah tahun.rakyat.
c.
Kabinet-Kabinet Pada Masa Demokrasi Liberal
1. KABINET
NATSIR
(6 September 1950 – 21 Maret 1951)
Merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh partai Masyumi.
Dipimpin Oleh : Muhammad Natsir
.
Program:
a. Menggiatkan usaha keamanan dan
ketentraman.
b. Mencapai konsolidasi dan
menyempurnakan susunan pemerintahan.
c. Menyempurnakan organisasi Angkatan
Perang.
d. Mengembangkan dan memperkuat ekonomi
rakyat.
e. Memperjuangkan penyelesaian masalah
Irian Barat.
Hasil:
Berlangsung perundingan antara
Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai masalah Irian Barat.
Kendala/Masalah yang dihadapi:
a. Upaya memperjuangkan masalah Irian
Barat dengan Belanda mengalami jalan buntu (kegagalan).
b. Timbul masalah keamanan dalam negeri
yaitu terjadi pemberontakan hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti
Gerakan DI/TII, Gerakan Andi Azis, Gerakan APRA, Gerakan RMS.
Berakhirnya kekuasaan
kabinet:
Adanya mosi tidak percaya dari PNI
menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI
menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu
menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Natsir harus
mengembalikan mandatnya kepada Presiden.
2. KABINET
SUKIMAN
(27 April 1951 – 3 April 1952) Merupakan kabinet koalisi
antara Masyumi dan PNI.
Dipimpin Oleh: Sukiman Wiryosanjoyo
Program:
a. keamanan dan ketentraman
b. Mengusahakan kemakmuran rakyat dan
memperbaharui hukum agraria agar sesuai dengan kepentingan petani.
c. Mempercepat persiapan pemilihan
umum.
d. Menjalankan politik luar negeri
secara bebas aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI secepatnya.
Hasil:
Tidak terlalu berarti sebab
programnya melanjtkan program Natsir hanya saja terjadi perubahan skala
prioritas dalam pelaksanaan programnya, seperti awalnya program Menggiatkan
usaha keamanan dan ketentraman selanjutnya diprioritaskan untuk menjamin
keamanan dan ketentraman
Kendala/ Masalah yang dihadapi:
a. Adanya Pertukaran Nota Keuangan
antara Mentri Luar Negeri Indonesia Soebardjo dengan Duta Besar Amerika Serikat
Merle Cochran. Mengenai pemberian bantuan ekonomi dan militer dari pemerintah
Amerika kepada Indonesia berdasarkan ikatan Mutual Security Act (MSA). Dimana dalam
MSA terdapat pembatasan kebebasan politik luar negeri RI karena RI diwajibkan
memperhatiakan kepentingan Amerika.
b. Tindakan Sukiman tersebut dipandang
telah melanggar politik luar negara Indonesia yang bebas aktif karena lebih
condong ke blok barat bahkan dinilai telah memasukkan Indonesia ke dalam blok
barat.
c. Adanya krisis moral yang ditandai
dengan munculnya korupsi yang terjadi pada setiap lembaga pemerintahan dan
kegemaran akan barang-barang mewah.
d. Masalah Irian barat belum juga
teratasi.
e. Hubungan Sukiman dengan militer
kurang baik tampak dengan kurang tegasnya tindakan pemerintah menghadapi
pemberontakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan.
Berakhirnya kekuasaan kabinet:
Muncul pertentangan dari Masyumi dan
PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada kabinet
tersebut.DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus
mengembalikan mandatnya kepada presiden.
3. KABINET
WILOPO
(3 April 1952 – 3 Juni 1953) Kabinet
ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang
ahli dalam biangnya.
Dipimpin Oleh : Mr. Wilopo
Program:
a. Program dalam negeri:
Menyelenggarakan pemilihan umum (konstituante, DPR, dan DPRD), meningkatkan
kemakmuran rakyat, meningkatkan pendidikan rakyat, dan pemulihan keamanan.
b. Program luar negeri: Penyelesaian
masalah hubungan Indonesia-Belanda, Pengembalian Irian Barat ke pangkuan
Indonesia, serta menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif.
Kendala/Masalah yang dihadapi:
a. Adanya kondisi krisis ekonomi yang
disebabkan karena jatuhnya harga barang-barang eksport Indonesia sementara
kebutuhan impor terus meningkat.
b. Terjadi defisit kas negara karena
penerimaan negara yang berkurang banyak terlebih setelah terjadi penurunana
hasil panen sehingga membutuhkan biaya besar untuk mengimport beras.
c. Munculnya gerakan sparatisme dan
sikap provinsialisme yang mengancam keutuhan bangsa. Semua itu disebabkan
karena rasa ketidakpuasan akibat alokasi dana dari pusat ke daerah yang tidak
seimbang.
d. Terjadi peristiwa 17 Oktober 1952.
Merupakan upaya pemerintah untuk menempatkan TNI sebagai alat sipil sehingga
muncul sikap tidak senang dikalangan partai politik sebab dipandang akan
membahayakan kedudukannya. Peristiwa ini diperkuat dengan munculnya masalah
intern dalam TNI sendiri yang berhubungan dengan kebijakan KSAD A.H Nasution
yang ditentang oleh Kolonel Bambang Supeno sehingga ia mengirim petisi mengenai
penggantian KSAD kepada menteri pertahanan yang dikirim ke seksi pertahanan
parlemen sehingga menimbulkan perdebatan dalam parlemen. Konflik semakin
diperparah dengan adanya surat yang menjelekkan kebijakan Kolonel Gatot Subroto
dalam memulihkan keamanana di Sulawesi Selatan.
e. Keadaan ini menyebabkan muncul
demonstrasi di berbagai daerah menuntut dibubarkannya parlemen. Sementara itu
TNI-AD yang dipimpin Nasution menghadap presiden dan menyarankan agar parlemen
dibubarkan. Tetapi saran tersebut ditolak.
f. Muncullah mosi tidak percaya dan
menuntut diadakan reformasi dan reorganisasi angkatan perang dan mengecam
kebijakan KSAD.
g. Inti peristiwa ini adalah gerakan
sejumlah perwira angkatan darat guna menekan Sukarno agar membubarkan kabinet.
h. Munculnya peristiwa Tanjung Morawa
mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli). Sesuai dengan
perjanjian KMB pemerintah mengizinkan pengusaha asing untuk kembali ke
Indonesia dan memiliki tanah-tanah perkebunan. Tanah perkebunan di Deli yang
telah ditinggalkan pemiliknya selama masa Jepang telah digarap oleh para petani
di Sumatera Utara dan dianggap miliknya. Sehingga pada tanggal 16 Maret 1953
muncullah aksi kekerasan untuk mengusir para petani liar Indonesia yang
dianggap telah mengerjakan tanah tanpa izin tersebut. Para petani tidak mau
pergi sebab telah dihasut oleh PKI. Akibatnya terjadi bentrokan senjata dan
beberapa petani terbunuh.
i.
Intinya
peristiwa Tanjung Morawa merupakan peristiwa bentrokan antara aparat kepolisian
dengan para petani liar mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur
(Deli).
Berakhirnya kekuasaan kabinet:
Akibat peristiwa Tanjung Morawa
muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet
Wilopo.Sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada presiden.
4. KABINET
ALI SASTROAMIJOYO I
(31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955) Kabinet ini merupakan
koalisi antara PNI dan NU.
Dipimpin Oleh : Mr. Ali Sastroamijoyo
Program:
a. Meningkatkan keamanan dan kemakmuran
serta segera menyelenggarakan Pemilu.
b. Pembebasan Irian Barat secepatnya.
c. Pelaksanaan politik bebas-aktif dan
peninjauan kembali persetujuan KMB.
d. Penyelesaian Pertikaian politik
Hasil:
a. Persiapan Pemilihan Umum untuk
memilih anggota parlemen yang akan diselenggarakan pada 29 September 1955.
b. Menyelenggarakan Konferensi
Asia-Afrika tahun 1955.
Kendala/Masalah yang dihadapi:
a. Menghadapi masalah keamanan di
daerah yang belum juga dapat terselesaikan, seperti DI/TII di Jawa Barat,
Sulawesi Selatan, dan Aceh.
b. Terjadi peristiwa 27 Juni 1955 suatu
peristiwa yang menunjukkan adanya kemelut dalam tubuh TNI-AD. Masalah TNI –AD
yang merupakan kelanjutan dari Peristiwa 17 Oktober 1952. Bambang Sugeng
sebagai Kepala Staf AD mengajukan permohonan berhenti dan disetujui oleh
kabinet. Sebagai gantinya mentri pertahanan menunjuk Kolonel Bambang Utoyo
tetapi panglima AD menolak pemimpin baru tersebut karena proses pengangkatannya
dianggap tidak menghiraukan norma-norma yang berlaku di lingkungan
TNI-AD.Bahkan ketika terjadi upacara pelantikan pada 27 Juni 1955 tidak
seorangpun panglima tinggi yang hadir meskipun mereka berada di Jakarta. Wakil
KSAD-pun menolak melakukan serah terima dengan KSAD baru.
c. Keadaan ekonomi yang semakin
memburuk, maraknya korupsi, dan inflasi yang menunjukkan gejala membahayakan.
d. Memudarnya kepercayaan rakyat
terhadap pemerintah.
e. Munculnya konflik antara PNI dan NU
yang menyebabkkan, NU memutuskan untuk menarik kembali menteri-mentrinya pada
tanggal 20 Juli 1955 yang diikuti oleh partai lainnya.
Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Nu menarik dukungan dan menterinya
dari kabinet sehingga keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus
mengembalikan mandatnya pada presiden.
5. KABINET
BURHANUDDIN HARAHAP
(12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956)
Dipimpin Oleh : Burhanuddin Harahap
Program :
a. Mengembalikan kewibawaan pemerintah,
yaitu mengembalikan kepercayaan Angkatan Darat dan masyarakat kepada
pemerintah.
b. Melaksanakan pemilihan umum menurut
rencana yang sudah ditetapkan dan mempercepat terbentuknya parlemen baru
c. Masalah desentralisasi, inflasi,
pemberantasan korupsi
d. Perjuangan pengembalian Irian Barat
e. Politik Kerjasama Asia-Afrika
berdasarkan politik luar negeri bebas aktif.
Hasil :
a. Penyelenggaraan pemilu pertama yang
demokratis pada 29 September 1955 (memilih anggota DPR) dan 15 Desember 1955
(memilih konstituante). Terdapat 70 partai politik yang mendaftar tetapi hanya
27 partai yang lolos seleksi. Menghasilkan 4 partai politik besar yang memperoleh
suara terbanyak, yaitu PNI, NU, Masyumi, dan PKI.
b. Perjuangan Diplomasi Menyelesaikan
masalah Irian Barat dengan pembubaran Uni Indonesia-Belanda.
c. Pemberantasan korupsi dengan
menangkap para pejabat tinggi yang dilakukan oleh polisi militer.
d. Terbinanya hubungan antara Angkatan
Darat dengan Kabinet Burhanuddin.
e. Menyelesaikan masalah peristiwa 27
Juni 1955 dengan mengangkat Kolonel AH Nasution sebagai Staf Angkatan Darat
pada 28 Oktober 1955.
Kendala/ Masalah yang dihadapi :
Banyaknya mutasi dalam lingkungan
pemerintahan dianggap menimbulkan ketidaktenangan.
Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Dengan berakhirnya pemilu maka tugas
kabinet Burhanuddin dianggap selesai.Pemilu tidak menghasilkan dukungan yang
cukup terhadap kabinet sehingga kabinetpun jatuh.Akan dibentuk kabinet baru
yang harus bertanggungjawab pada parlemen yang baru pula.
6. KABINET
ALI SASTROAMIJOYO II
(20 Maret 1956 – 4 Maret 1957)
Kabinet ini merupakan hasil koalisi 3 partai yaitu PNI, Masyumi, dan NU.
Dipimpin Oleh : Ali Sastroamijoyo
Program :
Program kabinet ini disebut Rencana
Pembangunan Lima Tahun yang memuat program jangka panjang, sebagai berikut.
a.
Perjuangan
pengembalian Irian Barat
b.
Pembentukan
daerah-daerah otonomi dan mempercepat terbentuknya anggota-anggota DPRD.
c.
Mengusahakan
perbaikan nasib kaum buruh dan pegawai.
d.
Menyehatkan perimbangan keuangan negara.
e.
Mewujudkan
perubahan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional berdasarkan kepentingan
rakyat.
Selain itu program pokoknya adalah,
a.
Pembatalan
KMB,
b.
Pemulihan
keamanan dan ketertiban, pembangunan lima tahun, menjalankan politik luar
negeri bebas aktif,
c.
Melaksanakan
keputusan KAA.
Hasil :
Mendapat dukungan penuh dari
presiden dan dianggap sebagai titik tolak dari periode planning and investment,
hasilnya adalah Pembatalan seluruh perjanjian KMB.
Kendala/ Masalah yang dihadapi :
a.
Berkobarnya
semangat anti Cina di masyarakat.
b.
Muncul
pergolakan/kekacauan di daerah yang semakin menguat dan mengarah pada gerakan
sparatisme dengan pembentukan dewan militer seperti Dewan Banteng di Sumatera
Tengah, Dewan Gajah di Sumatera Utara, Dewan Garuda di Sumatra Selatan, Dewan
Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan, dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara.
c.
Memuncaknya
krisis di berbagai daerah karena pemerintah pusat dianggap mengabaikan
pembangunan di daerahnya.
d.
Pembatalan
KMB oleh presiden menimbulkan masalah baru khususnya mengenai nasib modal
pengusaha Belanda di Indonesia. Banyak pengusaha Belanda yang menjual
perusahaannya pada orang Cina karena memang merekalah yang kuat ekonominya.
Muncullah peraturan yang dapat melindungi pengusaha nasional.
e.
Timbulnya
perpecahan antara Masyumi dan PNI. Masyumi menghendaki agar Ali Sastroamijoyo
menyerahkan mandatnya sesuai tuntutan daerah, sedangkan PNI berpendapat bahwa
mengembalikan mandat berarti meninggalkan asas demokrasi dan parlementer.
Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Mundurnya sejumlah menteri dari
Masyumi membuat kabinet hasil Pemilu I ini jatuh dan menyerahkan mandatnya pada
presiden
7. KABINET
DJUANDA
( 9 April 1957- 5 Juli 1959)Kabinet
ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang
ahli dalam bidangnya.Dibentuk karena Kegagalan konstituante dalam menyusun
Undang-undang Dasar pengganti UUDS 1950.Serta terjadinya perebutan kekuasaan
antara partai politik.
Dipimpin Oleh : Ir. Juanda
Program :
Programnya disebut Panca Karya
sehingga sering juga disebut sebagai Kabinet Karya, programnya yaitu :
a. Membentuk Dewan Nasional
b. Normalisasi keadaan Republik
Indonesia
c. Melancarkan pelaksanaan Pembatalan
KMB
d. Perjuangan pengembalian Irian Jaya
e. Mempergiat/mempercepat proses
Pembangunan
Semua itu dilakukan untuk menghadapi
pergolakan yang terjadi di daerah, perjuangan pengembalian Irian Barat,
menghadapi masalah ekonomi serta keuangan yang sangat buruk.
Hasil :
a. Mengatur kembali batas perairan
nasional Indonesia melalui Deklarasi Djuanda, yang mengatur mengenai laut
pedalaman dan laut teritorial. Melalui deklarasi ini menunjukkan telah
terciptanya Kesatuan Wilayah Indonesia dimana lautan dan daratan merupakan satu
kesatuan yang utuh dan bulat.
b. Terbentuknya Dewan Nasional sebagai
badan yang bertujuan menampung dan menyalurkan pertumbuhan kekuatan yang ada
dalam masyarakat dengan presiden sebagai ketuanya. Sebagai titik tolak untuk
menegakkan sistem demokrasi terpimpin.
c. Mengadakan Musyawarah Nasional
(Munas) untuk meredakan pergolakan di berbagai daerah. Musyawarah ini membahas
masalah pembangunan nasional dan daerah, pembangunan angkatan perang, dan
pembagian wilayah RI.
d. Diadakan Musyawarah Nasional
Pembangunan untuk mengatasi masalah krisis dalam negeri tetapi tidak berhasil
dengan baik.
Kendala/ Masalah yang dihadapi :
a. Kegagalan Menghadapi pergolakan di
daerah sebab pergolakan di daerah semakin meningkat. Hal ini menyebabkan
hubungan pusat dan daerah menjadi terhambat. Munculnya pemberontakan seperti
PRRI/Permesta.
b. Keadaan ekonomi dan keuangan yang
semakin buruk sehingga program pemerintah sulit dilaksanakan. Krisis demokrasi
liberal mencapai puncaknya.
c. Terjadi peristiwa Cikini, yaitu
peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di depan Perguruan
Cikini saat sedang menghadir pesta sekolah tempat putra-purinya bersekolah pada
tanggal 30 November 1957. Peristiwa ini menyebabkan keadaan negara semakin
memburuk karena mengancam kesatuan negara.
.
Berakhirnya kekuasaan kabinet :
Berakhir saat presiden Sukarno
mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan mulailah babak baru sejarah RI
yaitu Demokrasi Terpimpin.
D.Gangguan Pada Masa Demokrasi
Liberal
1.
Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung
Disebut APRA
karena pada Westerling memahami adanya kepercayaan rakyat Indonesia akan
datangnya Ratu Adil untuk membebaskan penderitaannya karena penajahan, baik
Belanda maupun Jepang. Tujuan pemberontakan ini adalah untuk mempertahankan
bentuk federal di Indonesia dan mempertahannya adanya tentara tersendiri pada
Negara-negara bagian RIS. APRA mengawali pemberontakannya dengan memberi ultimatum
kepada pemerintah RIS dan Negara Pasundan, kemudian melancarkan serangan yang
berkekuatan sekitar 800 orang.
APRA
menggunakan taktik gerak cepat dan brutal untuk menggebrak pertahanan kota
Bandung. Mereka membunuh dan menembak setiap anggota TNI yang dijumpai secara
ganas. Perlawanan dapat dikatakan hampir tidak ada, karena penyerbuan tersebut
tidak terduga sama sekali. APRA berhasil menduduki Markas Staf Divisi
Siliwangi. Korban yang jatuh di pihak Divisi Siliwangi adalah Letnan Kolonel
Lembong dan 15 orang yang sedang jaga pada saat itu. Korban keseluruhan lebih
dari 79 orang APRIS dan msyarakat sipil. Untuk mengatasi masalah tersebut,
pemerintahan RIS mengambil tindakan berikut:
·
Mengirimkan bala bantuan ke Bandung kesatuan-kesatuan
polisi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang pada waktu itu berada di Jakarta
·
Megadakan perundingan dengan Belanda, dalam perundingan
tersebut pemerintah RIS diwakili oleh Drs. Moh. Hatta sebagai PM RIS dengan Komisaris Tinggi Belanda.
Pada tanggal 24 Januari 1950, psukan
TNI sebagai inti APRIS dengan bantuan rakyat berhasil menghancurkan sisa-sisa
gerombolan APRA setelah melakukan pengejaran sampai daerah Pacet.Walaupun
menggunakan APRA sebagai mitos untuk mempengaruhi opini masyarakat Jawa Barat,
namun karena tidak mendapatkan kepercayaan dari rakyat, maka gebrakan operasi
militernya hanya berlangsung beberapa hari dan pada akhirnya dengan mudah dapat
ditumpas oleh aparat keamanan Negara Indonesia.
Andi Aziz atau
Andi Abdoel Aziz, ia terlahir dari pasangan Andi Djuanna Daeng Maliungan dan
Becce Pesse. Anak tertua dari 11 bersaudara. Ia menyandang gelar pemberontak
akibat perjuangannya untuk mempertahankan existensi Negara Indonesia Timur. Ia
mengambil alih kekuasaan militer di Makassar pada 5 April 1950 ketika umurnya
baru 24 tahun. Ia adalah korban politik Belanda divide et impera, di
pengadilan militer ia mengakui menyesal bahwa ia buta politik. Sejak umur 10
tahun, Andi Aziz sudah dikirim oleh orang tuanya ke negeri Belanda untuk
sekolah dan menyelesaikan sekolah lanjutannya disana.
Negara Indonesia Timur di bentuk ia di angkat
sebagai adjudan Presiden Sukawati dan pangkatnya di kembalikan menjadi Letnan
Dua KNIL. Pada tahun 1947 ia dikirim ke Bandung untuk menjadi instruktur
pendidikan militer disana dan kembali ke Makassar pada tahun 1948. Sekembalinya
di Makassar ia di angkat menjadi Komandan Divisi 7 Desember, anak buahnya
adalah asli orang Belanda. Menjelang penyerahan kedaulatan pada tahun 1949 ia
dipercayai untuk membentuk satu kompi pasukan KNIL dan memilih langsung anak
buahnya yang mana berasal dari Toraja, Sunda dan Ambon. Kompi inilah yang
kemudian di resmikan oleh Panglima Teritorial Indonesia Timur, Letnan Kolonel
Akhmad Junus Mokoginta dan dilebur menjadi bagian dari APRIS (Angkatan Perang
Republik Indonesia Serikat). Pada tanggal 5 April 1950 kompi ini jugalah yang
diandalkan Andi Aziz untuk melakukan pemberontakan.
Sebetulnya
pemberontakan Kapten Andi Aziz adalah dikarenakan hasutan Dr. Soumokil Menteri
Kehakiman Indonesia Timur. Tokoh ini jugalah yang memprakarsai adanya
pemberontakan Republik Maluku Selatan. Kapten Andi Aziz mempunyai pertimbangan
lain. Ia khawatir akan tindakan membabi buta dari Dr. Soumokil yang dapat
mengakibatkan pertumpahan darah diantara saudara sebangsa. Atas dasar
pertimbangan untuk menghindari pertumpahan darah tersebutlah ia bersedia
memimpin pemberontakan. Ia merasa sanggup memimpin anak buahnya tanpa harus
merenggut korban jiwa. Ternyata memang pemberontakan yang di pimpin olehnya
berjalan sesuai dengan lancar dan tanpa merenggut korban jiwa. Hanya dalam
waktu kurang lebih 30 menit semua perwira Tentara Nasional Indonesia dapat ia
tahan dan Makassar dikuasainya.
Atas
tindakannya tersebut Presiden Soekarno memberikan ultimatum kepada AndiAziz
untuk menyerahkan diri dalam tempo 24 jam, kemudian diperpanjang lagi menjadi 3
x 24 jam. Panggilan tersebut tidak dipenuhinya karena waktu itu Andi Aziz
menganggap keadaan atau situasi di kota Makassar masih belum stabil karena
masih ada pergerakan disana sini di dalam kota Makassar. Setelah ia merasa
Makassar telah aman maka semua tawanannya termasuk Letnan Kolonel Akhmad Junus
Mokoginta dilepaskannya.
Pada akhir
tahun 1950 ia di undang kembali oleh Presiden Soekarno untuk datang menghadap
di Jakarta. Ia ditemani oleh seorang pamannya yaitu Almarhum Andi Patoppoi,
lalu seorang Menteri Dalam Negeri Negara Indonesia Timur yaitu Anak Agung Gde
Agung serta seorang wakil dari Komisi Tiga Negara. Ternyata undangan tersebut hanyalah
jebakan Presiden Soekarno, sesampainya ia di pelabuhan udara kemayoran ia
langsung ditangkap oleh Polisi Militer untuk di bawa ke pengadilan. Ia kemudian
ditahan dan diadili di pengadilan Wirogunan Yogyakarta. Oleh pengadilan ia
dijatuhi hukuman penjara 14 tahun, tetapi hanya delapan tahun saja yang ia
jalani. Tahun 1958 ia di bebaskan tetapi tidak pernah kembali ke Sulawesi
Selatan sampai masa orde baru. Sekitar tahun 1970-an ia kembali ke Sulawesi
Selatan sebanyak 4 kali dan terakhir pada tahun 1983. Setelah keluar dari
tahanan ia terjun ke dunia bisnis dan bergabung bersama Soedarpo Sastrosatomo
di perusahaan pelayaran Samudra Indonesia hingga akhir khayatnya. Andi Abdoel
Aziz meninggal pada 30 Januari 1984 di Rumah Sakit Husada Jakarta akibat serangan
jantung dengan umur 61 tahun. Ia meninggalkan seorang Istri dan tidak ada anak
kandung. Jenasahnya diterbangkan dan dimakamkan di pemakaman keluarga Andi
Djuanna Daeng Maliungan di desa Tuwung kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Turut
hadir sewaktu melayat di rumah duka yaitu mantan Presiden RI, BJ. Habibie
beserta Istri, Mantan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno dan perwira perwira TNI
lainnya.
Kapten Andi
Aziz adalah seorang pemberontak yang tidak pernah membunuh dan menyakiti orang.
Ia adalah korban kambing hitamnya Belanda karena kebutaannya mengenai dunia
politik. Ia adalah seorang militer sejati yang mencoba untuk mempertahankan
Negara Indonesia Timur yang menurutnya adalah telah melalui kesepakatan dengan
Republik Indonesia Serikat. Dalam kesehariannya Andi Aziz cukup dipandang oleh
masyarakat suku Bugis Makassar yang bermukim di Tanjung Priok, Jakarta dimana
ia dulu menetap. Disana ia diakui sebagai salah satu sesepuh suku Bugis
Makassar yang mana selalui dimintai nasehat nasehat, dan pikiran pikirannya
untuk kelangsungan kerukunan suku Bugis Makassar. Ia juga seorang yang murah
hati dan suka meonolong, pernah suatu waktu pada tahun 1983, ia menampung 71
warga Palang Merah Indonesia yang kesasar ke Jakarta dari Cibubur. Ia selalu
berpesan kepada anak anak angkatnya bahwa siapapun boleh dibawa masuk ke
rumahnya terkecuali 3 jenis manusia yaitu pemabuk, penjudi dan pemain
perempuan.
Gerakan
Republik Maluku Selatan yang dipimpin oleh MR. Dr. Robert
Steven Soumokil, yang bertujuan ingin mendirikan Negara Republik
Maluku Selatan yang terpisah dari Negara Indonesia Syarikat. Gerakan
RMS mulai bergolak hampir bersamaan dengan pemberontakan Andi Azis di Makasar,
Ujung Pandang. Kota Ambon dapat dikuasai oleh pemerintah Republik Indonesia
Syarikat pada tanggal 3 November 1950.
Gerakan
Republik Maluku Selatan adalah rentetan dari pemberontakan Andi Aziz. Pada saat
itu, peberontakan Andi Aziz telah berhasil dihancurkan dan riwayat Negara
Indonesia Timur telah berakhir. Namun, Soumokil sebagai mantan Jaksa Agung NIT
merasa tidak puas dengan terjadinya proses kembali ke Negara kesatuan setelah
KMB. RMS di Ambon diproklamasikan pada
tanggal 25 April 1950.
Pemerintahan
RIS berusaha keras mengatasi masalah RMS dengan jalan damai. Namun, usaha damai
dengan pengiriman dr. Leimina ditolak. RMS telah mampu menghadapi kekuatan RIS
dengan meminta bantuan, perhatian, dan pengakuan dari dunia luar terutama
negeri Belanda, Amerika Serikat, dan Komisi PBB untuk Indonesia. Pasukan
ekspedisi APRIS/TNI mulai operasi penumpasannya dengan melakukan pendaratan di
Laha, Pulau Buru, pada tanggal 14 Juli 1950.
Pada tanggal 17
Agustus 1950, RIS telah melebur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Namun, gerakan RMS belum berhasil ditumpas seluruhnya. Setelah Ambon
berhasil direbut, tokoh-tokoh pemberontak RMS dan pasukannya melarikan diri ke
Pulau Saparua dan pedalaman Seram. Mereka bertahan sambil melakukan kekacauan
dan bergerilya yang berlangsung selama 12 tahun. Akhirnya, pada tanggal 2
Desember 1963 Mr. Dr. C. D. R. Soumokil berhasil ditawan oleh ABRI di Pulau
Seram dan kemudian diadili dalam siding Mahkamah Militer Angkatan Darat di
Jakarta pada tanggal 21 April 1964.
Gerakan
Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang diproklamasikan oleh
Letnan Kolonel Achmad
Husein sebagai Ketua
Dewan Perjuangan pada tanggal 15 Februari 1958 di Sumatera Barat dan Perjuangan
Semesta (Permesta) di Sulawesi Utara yang dipimpin
oleh Letnan Kolonel Ventje
Sumual yang semula
menjabat KSAD PRRI/Permesta.
Penumpasan PRRI
di Sumatera dilakukan
dengan operasi gabungan yang terdiri dari unsur-unsur kekuatan Tentera Angkatan
Darat, Laut dan Udara dari dua jurusan, melalui pendaratan di Padang dan penerjunan
pasukan para komando di Pekanbaru dan Tabing. Pada tanggal
29 May 1961, Achmad Husei bersama pasukannya secara rasmi melaporkan diri
kepada Brigadir Jeneral GPH
Djatikusumo, Deputi Wilayah Sumatera Barat.Disamping itu, perpecahan yang terjadi
diantara para pimpinan Permesta telah melemahkan kekuatan militer Permesta,
sehingga pada akhirnya pada tanggal 4 April 1961 antara Somba dari pihak
Permesta dan Pangdam XIII Merdeka Kolonel Sunandar
Priyosudarmo dilangsungkan penandatanganan naskah penyelesaian Permesta.
Hijrahnya pasukan Siliwangi dari
wilayah Jawa Barat yang dikuasai Belanda menuju wilayah Jawa Tengah yang
dikuasai RI, telah menimbulkan adanya suatu kekosongan pemerintahan RI di Jawa
Barat.Kondisi inilah
yang kemudian dijadikan sebuah kesempatan oleh apa yang dinamakan Gerakan
DI/TII untuk mendirikan Negara Islam Indonesia. Gerakan DI/TII yang dipimpin
oleh SM Kartosuwirjo ini memang merupakan suatu gerakan yang menggunakan
motif-motif ideology agama sebagai dasar penggeraknya, yaitu mendirikan Negara
Islam Indonesia. Adapun daerah atau tempat Gerakan DI/TII yang pertama dimulai
di daerah pegunungan di Jawa Barat, yang membentang sekitar Bandung dan meluas
sampai ke sebelah timur perbatasan Jawa Tengah, yang kemudian menyebar ke
bagian-bagian lain di Indonesia.
Perbedaan-perbedaan
ideologis mengenai dasar Negara sebenarnya telah ada sebelum proklamasi Negara
Islam Indonesia itu sendiri. Namun adanya musuh bersama, dalam hal ini Belanda,
mendorong para pemimpin bangsa Indonesia untuk mengesampingkan
perbedaan-perbedaan ideologis tersebut. Adapun upaya-upaya yang dilakukan
SM. Kartosuwirjo untuk membentuk Negara Islam, pertama adalah dengan mengadakan
Konferensi di Cisayong Tasikmalaya Selatan tanggal 10-11 Februari 1948.
Keputusan yang diambil adalah merubah system ideology Islam dari bentuk kepartaian
menjadi bentuk kenegaraan, yaitu menjadikan Islam sebagai ideology Negara.
Konferensi kedua diadakan di Cijoho tanggal 1 Mei 1948, dimana hasil yang
dicapai adalah apa yang disebut Ketatanegaraan Islam, yaitu dibentuknya suatu
Dewan Imamah yang dipimpin langsung oleh SM. Kartosuwirjo.
Selain itu disusun semacam UUD yang disebut Kanun Azazi, yang menyatakan
pembentukan Negara Islam Indonesia dengan hokum tertinggi Al-Quran dan Hadist
(PInardi 1964).
Adanya Aksi
Polisional Belanda yang melancarkan Agresi Militer II tanggal 18 Desemer 1948,
tampaknya semakin mempercepat kea rah pembentukan Negara Islam Indonesia,
dimana Agresi MIliter Belanda II tersebut telah berhasil merebut ibukota RI
Yogyakarta dan menawan Presiden, Wapres beserta sejumlah Menteri. Momentum
inilah yang kemudian dianggap sebagai kehancuran RI, dan kesempatan tersebut
digunakan untuk membentuk Negara Islam Indonesia yang diproklamirkan tanggal 7
Agustus 1949. Peristiwa tersebut merupakan titik kulminasi subversi dalam
negeri pada masa itu.
Satu hal yang
menarik dari gerakan ini dibandingkan dengan gerakan separatisme lainnya,
adalah perkembangannya yang cukup lama di atas wilayah yang cukup luas.
Keuletan ini tidak terlepas dari factor-faktor yang mempengaruhi munculnya
gerakan DI/TII, yang kemudian mendorong sebagian rakyat untuk ikut mendukung
gerakan itu, yang akhirnya memberi kekuatan dan keuletan pada Gerakan DI/TII
selama hampir 13 tahun.
Namun dalam
perkembangan selanjutnya, gerakan ini ternyata hanya menimbulkan penderitaan
dan penindasan terhadap rakyat. Kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada
rakyat seringkali menjadi sumber penderitaan dari kekejian yang semena-mena.
Namun rakyat kota relative lebh reada. Lebih buruk keadaannya di pedalaman,
tempat desa-desa diserbu, dalam beberapa daerah sangat sering barang-barang dan
hasil panen dirampas, dan rumah, jembatan, mesjid dan lumbung padi dibakar atau
dimusnahkan.
Gerakan DI/TII
akhirnya tetap menjadi sebuah pemberontakan daerah, sampai akhirnya SM.
Kartosuwirjo tertangkap tanggal 4 Juni 1962 dalam sebuah operasi yang bernama
Pagar Betis. Dengan penangkapan dan pelaksanaan hukuman mati terhadap SM.
Kartosuwirjo, maka berakhirlah pemberontakan yang terorganisir di Jawa Barat
selama lebih dari 10 tahun. Namun hal itu tidak cukup membuat peristiwa
tersebut mudah dilupakan, katena walau bagaimanapun gerakan ini tidak saja
menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat biasa, melainkan juga sebuah tragedy
dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia menegakkan kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Gerakan DI/TII juga terjadi di beberapa daerah lainnya,
antara lain:
·
DI/TII di Kalimantan Selatan dipimpin oleh Ibnu Hajar.
Pasukannya dinamakan Kesatuan Rakyat yang tertindas dengan melakukan
penyerangan dan pengacauan pada bulan Oktober 1950 dan mengacau pos-pos
kesatuan tentara. Pada tahun
959, ia berhasil ditangkap dan pasukannya ditumpas.
·
DI/TII
di Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakar yang dilatarbelakangi untuk
mendapatkan kedudukan sebagai pimpinan APRIS. Operasi penumpasan berlangsung sangat
lam dan tersendat-sendat, hingga akhirnya pada tahun 1965 ia dapat disergap dan
ditembak mati.
·
DI/TII di Jawa Tengah berkembang pada perang kemerdekaan.
Pimpinannya adalah Amir Fattah dengan ruang gerak meliputi Brebers, Tegal, dan
Pekalongan. Gerakan kerusuhan Merapi-Merbabu Complex (MMC) dapat dipatahkan
pada bulan April 1952.
·
DI/TII di Aceh dipimpin oleh Daud Beureueh yang pernah
menjabat menjadi Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh. Ia melakukan
pemberontakan dengan kekuatan senjata dan operasi militer. Karena terdesak ia
melarikan diri ke hutan, tetapi pada akhirnya persoalan pemberontakan ini dapat
dapat diselesaikan dengan musyawarah kerukunan rakyat aceh pada tanggal 17-28
Desember 1962 yang diprakarsai oleh colonel Jasin.
·
Bentuk
Dan Sistem Pemerintahan
Negara Indonesia yang berdiri
sebagai hasil dari KMB berbentuk negara federal dengan nama Republik Indonesia
Serikat (RIS). Negara RIS didirikan di atas Undang-Undang Dasar Sementara yang
disahkan pada tanggal 14 Desember 1949.Negara federal RIS berdiri sejak tanggal
27 Desember 1949 dan terdiri atas 16 negara bagian.
·
Perjuangan
kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia
Berdasarkan konstitusi RIS negara
berbentuk federasi dan meliputi seluruh daerah Indonesia sebagai berikut.
1. a. Negara Republik Indonesia
b. Negara Indonesia Timurc. Negara Pasundan
d.Negara Sumatra Timur
e. Negara Sumatra Selatan
f. Negara Jawa Timur
2. Belitung, Riau, Daerah Istimewa
Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara, dan
Kalimantan Timur.
3. Daerah-daerah Indonesia yang tidak
termasuk daerah-daerah bagian
Dengan terbentuknya negara Republik
Indonesia Serikat, maka timbul pertentangan antara dua golongan, yaitu sebagai berikut.
1. Golongan Unitaris adalah golongan
yang menghendaki negara kesatuan, dipimpin oleh Moh. Yamin.
2. Golongan federalis adalah golongan
yang menghendaki negara serikat, dipimpin oleh Sahetapy Engel.
Pertentangan dua golongan ini di menangkan oleh golongan
unitaris.Pada tanggal 18 Maret 1950 Pemerintah RIS dengan persetujuan Parlemen
dan Senat RIS mengeluarkan Undang-Undang Darurat No.11 Tahun 1950 tentang Tata
Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS.Berdasarkan undang-undang tersebut
satu-persatu negara bagian RIS menggabungkan diri dengan Negara RI di
Yogyakarta. Sehingga sampai bulan April 1950 negara RIS hanya terdiri dari tiga
bagian, yaitu RI, Negara Sumatra Timur, dan Negara Indonesia Timur. Dalam
rangka usaha membangun gejolak rakyat indonesia, pemerintah RI menganjurkan
kepada pemerintah RIS agar mengadakan perundingan dengan Negara Sumatra Timur
serta Negara Indonesia Timur yang menyerahkan persoalan kepada pemerintar RIS.
Sementara itu pada bulan Mei 1950 pemerintah RIS dan pemerintah RI mengadakan perundingan.Hasil
perundingan berupa Piagam Persetujuan tgl 19 Mei 1950.
Isi
pokok Piagam Persetujuan itu antara lain:
1.
Kedua
pemerintah berserikat membentuk negara kesatuan sebagai penjelmaan RI berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945.
2.
Presidennya
adalah Soekarno, sedangkan jabatan wakil presiden akan dibicarakan lebih lanjut.
Perjuangan mewujuangan kembali
Negara Kesatuan Republik Indonesia akhirnya berhasil.Setelah pada tgl 15
Agustus 1950 Presiden Soekarno menandatangani Rancangan UUDS Negara Kesatuan
Republik Indonesia.Pada tgl 17 Agustus 1950 Negara RIS dibubarkan dan kembali
ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Alasannya:
1. Negara Republik Indonesia Serikat
(RIS) tidak sesuai dengan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945.
2. Pada umumnya masyarakat Indonesia
tidak puas dengan hasil KMB yang melahirkan negara RIS, menyatakan keinginannya
agar bergabung dengan Republik Indonesia.
3. Dengan sistem pemerintaha Federal
berarti melindungi manusia indonesia
yang
setuju dengan penjajah Belanda.
·
Pemilihan Umum
Sesudah beberapa kali berganti kabinet pemerintah, akhirnya
Kabinet Baharudin Harahap dapat melaksanakan pemilu sukses. Pada tanggal 29
September 1955, diselenggarakan pemilihan umum untuk memilih anggota DPR dan
tanggal 15 Desember 1955 pemilihan untuk anggota konstituante { badan pembuat
UUD}.
Sekitar 39juta rakyat Indonesia yang mempunyai hak pilih
berduyung duyung menuju tempat pemungutan suara untuk melaksanakan hak
pilihnya. Setelah diadakan perhitungan suara, muncul empat partai besar sebagai
pengumpul suara terbanyak yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) memperoleh 57
kursi, majelis Syuro Muslimin Indonesia {Masyumi} memperoleh 57 kursi,Nahdatul
Ulum {NU} memperoleh 45 kusi, dan Partai komunis Indonesia{PKI} memperoleh 39
kursi.
Pemilihan umum tahap berikutnya untuk memilih anggota
konstituante diadakan pada tanggal 15 Desember 1955.Pemilu untuk anggota
konstituante, hasilnya di antara empat partai besar (PNI, Masyumi, NU, dan PKI)
tetap berimbang.
Hasil pemilu pertama ternyata tidak memenuhi harapan
rakyat.Rakyat menghendaki pemerintahan yang stabil ternyata tidak
terwujud.Wakil-wakil rakyat yang terpilih tetap memperjuangkan kepentingan
partainya sendiri.Pertentangan partai politik semakin hebat.
Dekret
Presiden 5 juli 1959
Salah Satu hasil penting dari pemilu l (1955) adalah
terbentuknya badan konstituante yang bertugas menyusun UUD yang baru.Pada
tanggal 20 November 1956, konstituante mulai bersidang yang dibuka oleh
Presiden Soekarno.
Walaupun telah tiga tahun bersidang, namun konstituante
belum menyelesaikan tugasnya sebab setiap kali sidang selalu terjadi perdebatan
sengit di antara anggotanya. Oleh karena itu, pada tanggal 20 April 1959
Presiden Soekarno berpidato lagi di depan sidang konstituante yang menganjurkan
agar dalam rangka pelaksanaan demokrasi terpimpim, konstituante menetapkan saja
UUD 1945 menjadi UUD negara Republik Indonesia yang tetap.
Pada tanggal 3 juni 1959, konstituante mengadakan reses yang
kemudian ternyata untuk selamanya.Sehubungan dengan itu, maka KSAD Letjen A.H
Nasution melarang anggota konstituante melakukan kegiatan politik.
Berdasarkan hukum darurat perang maka pada hari Minggu 5
Juli 1959 pada jam 17.00, dalam upacara resmi di istana negara, Presiden
Soekarno mengumumkan Dekret Presiden sebagai berikut :
1.Membubarkan
Konstituante.
2.
Memberlakukan kembali UUD 1945
3.Menyatakan
UUDS 1950 tidak berlaku lagi
4.Akan
segera dibentuk MPRS dan DPAS
·
Kehidupan Ekonomi
Setelah
pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949, bangsa Indonesia menanggung
beban ekonomi yang sangat berat akibat dari hasil KMB, antara lain berupa utang
luar negeri dan utang dalam negeri. Pada masa demokrasi liberal dikeluarkan
beberapa kebijakan ekonomi berikut ini :
a) Gunting
Syafruddin
Guna
mengatasi defisit anggaran dan mengurangi peredaran uang, pada tanggal 20 maret
1950 Menteri keuangan Syafruddin mengambil tindakan memotong uang dengan
memberlakukan setengahnya untuk mata uang yang bernilai Rp. 2,50,00 ke atas.
b) Nasionalisme
de Javasche Bank menjadi Bank Indonesia
Pada masa kabinet Sukiman, pemerintah berusaha untuk
mengatasi krisis moneter (keuangan).Salah satu upaya yang ditempuh adalah
menasionalisasi de Javasche Bank menjadi Bank Indonesia.Lebih lanjut dalam
rangka menaikkan pendapatan, pemerintah berupaya menurunkan biaya ekspor dan
melakukan penghematan secara drastis.
c) Sistem
ekonomi Gerakan Benteng
Gerakan Benteng pada hakikatnya adalah suatu kebijakan untuk
melidungi usaha pribumi.Gerakan Benteng ini mengalami kegagalan karena para
pengusaha indonesia lambat dalam usahanya, bahkan ada yang menyalahgunakan
bantuan pemerintah. Selain itu, pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan
pengusaha nonpribumi dalam sistem ekonomi liberal.
d) Sistem
Ekonomi Ali-Baba
Tujuan sistem ekonomi Ali-Baba adalah untuk memajukan
pengusaha pribumi.Ali digambarkan sebagai pengusaha pribumi dan Baba sebagai
pengusaha nonpribumi.Sistem ekonomi Ali-Baba mengalami kegagalan karena
pengusaha pribumi kurang berpengalaman dan hanya dijadikan alat oleh pengusaha
nonpribumi untuk mendapatkan kredit dari pemerintah.
1.
Akhir Masa Demokrasi Liberal
penyebab
runtuhnya demokrasi liberarl
a.
Terjadinya
peristiwa Gerakan 30 September 1965.
b.
Keadaan politik dan keamanan negara menjadi
kacau karena peristiwa Gerakan 30 September 1965 ditambah adanya konflik di
angkatan darat yang sudah berlangsung lama.
c.
Keadaan
perekonomian semakin memburuk dimana inflasi mencapai 600% sedangkan upaya
pemerintah melakukan devaluasi rupiah dan kenaikan harga bahan bakar
menyebabkan timbulnya keresahan masyarakat.
d.
Reaksi
keras dan meluas dari masyarakat yang mengutuk peristiwa pembunuhan
besar-besaran yang dilakukan oleh PKI. Rakyat melakukan demonstrasi menuntut
agar PKI berserta Organisasi Masanya dibubarkan serta tokoh-tokohnya diadili.
e.
Kesatuan
aksi (KAMI,KAPI,KAPPI,KASI,dsb) yang ada di masyarakat bergabung membentuk
Kesatuan Aksi berupa “Front Pancasila” yang selanjutnya lebih dikenal dengan
“Angkatan 66” untuk menghacurkan tokoh yang terlibat dalam Gerakan 30 September
1965.
f.
Kesatuan
Aksi “Front Pancasila” pada 10 Januari 1966 di depan gedung DPR-GR mengajukan
tuntutan”TRITURA”(Tri Tuntutan Rakyat) yang berisi :
Pembubaran PKI berserta Organisasi Massanya dan Pembersihan Kabinet Dwikora
Penurunan Harga-harga barang.
Pembubaran PKI berserta Organisasi Massanya dan Pembersihan Kabinet Dwikora
Penurunan Harga-harga barang.
g.
Upaya
reshuffle kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966 dan Pembentukan Kabinet Seratus
Menteri tidak juga memuaskan rakyat sebab rakyat menganggap di kabinet tersebut
duduk tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.
h.
Wibawa
dan kekuasaan presiden Sukarno semakin menurun setelah upaya untuk mengadili
tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 tidak
berhasil dilakukan meskipun telah dibentuk Mahkamah Militer Luar
Biasa(Mahmilub).
i.
Sidang
Paripurna kabinet dalam rangka mencari solusi dari masalah yang sedang
bergejolak tak juga berhasil. Maka Presiden mengeluarkan Surat Perintah Sebelas
Maret 1966 (SUPERSEMAR) yang ditujukan bagi Letjen Suharto guna mengambil
langkah yang dianggap perlu untuk mengatasi keadaan negara yang semakin kacau
dan sulit dikendalikan.
2. Demokrasi
Terpimpin
A.
Pengertian Demokrasi terpimpin
Demokrasi Terpimpin Adalah sebuah sistem demokrasi dimana seluruh keputusan
serta pemikiran berpusat pada pemimpin negara.konsep sistem demokrasi terpimpin
pertama diumumkan oleh Presiden Soekarno dalam pembukaan sidang konstituante
pada tanggal 10 November 1956. Masa demokrasi terpimpin ( 1957-1965 ) dimulai
dengan tumbangnya demokrasi parlementer atau demokrasi Liberal yang ditandai
pengunduran Ali Sastroamidjojo sebagai perdana mentri. Namun begitu, penegasan
pemberlakuan demokrasi terpimpin dimulai setelah dibubarkannya badan konstituante
dan dikeluarkannya dekrit Presiden 5 Juli 1959.Demokrasi terpimpin adalah
demokrasi yang dipimpin oleh sila keempat Pancasila.
Latar
belakang dicetuskannya sistem demokrasi terpimpin oleh Presiden Soekarno
1. Dari
segi keamanan
nasional: Banyaknya gerakan
separatis pada masa demokrasi
liberal, menyebabkan ketidakstabilan negara.
2. Dari
segi perekonomian : Sering
terjadinya pergantian kabinet pada masa demokrasi liberal menyebabkan
program-program yang dirancang oleh kabinet tidak dapat dijalankan secara utuh,
sehingga pembangunan ekonomi
tersendat.
Masa Demokrasi Terpimpin yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno
diawali oleh anjuran Soekarno agar Undang-Undang yang digunakan untuk
menggantikan UUDS 1950 adalah UUD 1945.Namun usulan itu menimbulkan pro
dan kontra di kalangan anggota konstituante. Sebagai tindak lanjut
usulannya, diadakan pemungutan
suara yang diikuti oleh seluruh anggota konstituante . Pemungutan
suara ini dilakukan dalam rangka mengatasi konflik yang timbul dari pro kontra
akan usulan Presiden Soekarno tersebut.
Hasil
pemungutan suara menunjukan bahwa :
·
269 orang setuju untuk kembali ke UUD
1945
·
119 orang tidak setuju untuk kembali ke
UUD 1945
Melihat dari hasil voting, usulan untuk kembali ke UUD 1945 tidak
dapat direalisasikan.Hal ini disebabkan oleh jumlah anggota konstituante yang
menyetujui usulan tersebut tidak mencapai 2/3 bagian, seperti yang telah
ditetapkan pada pasal 137 UUDS 1950.
Bertolak dari
hal tersebut, Presiden Soekarno mengeluarkan sebuah dekrit yang disebut Dekrit
Presiden 5 Juli 1959. Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 :
1. Tidak
berlaku kembali UUDS 1950
2. Berlakunya
kembali UUD 1945
3. Dibubarkannya
konstituante
Dalam suasana yang mengancam keutuhan teritorial sebagaimana kata
Feith, dan ancaman perpecahan sebagai mana kata Soepomo, itulah muncul gagasan
“Demokrasi Terpimpin” yang di lontarkan Presiden Soekarno pada bulan februari
1957. mula mula pandangan ini dicetuskan oleh partai Murba, serta Chaerul saleh
dan Ahmadi.
Namun gagasan tanpa perbuatan tidak terlalu berarti dibanding gagasan dan perbuatan langsung dalam usaha mewujudkan gagasan itu dan inilah yang di lakukan soekarno . Konsep Demokrasi terpimpin yang hendak membawa PKI masuk kedalam kabinet ini juga menyebut-nyebut akan di bentuknya lembaga negara baru yang ekstra konstitusional yaitu ( Dewan Nasional), yang akan di ketuai oleh soekarno sendiri yang bertugas memberi nasehat kepada kabinet maka untuk itu harus di bentuk kabinet baru yang melibatkan semua partai termasuk PKI serta di bentuk Dewan penasehat tertinggi dengan nama “Dewan Nasional” yang beranggotakan wakil-wakil seluruh golongan fungsional.
Menurut Yusril Ihza mahendra, sebelum “Dewan Nasional” ini dibentuk gagasan awal tentang namanya adalah “Dewan Revolusi” (DR), namun akhirnya dinamai dengan “Dewan nasional” (DN). Dewan ini diketuai oleh presiden, namun dalam prakteknya sehari-hari diserahkan kepada Roeslan abdul gani, walaupun Dewan Nasional ini tidak ada dasarnya dalam konstitusi.-,, Artinya “Dewan Nasional ini tidak sejalan dengan konstitusi yang ada pada waktu itu. Dan peranannya memang cukup menentukan yaitu sebagai “penasihat” pemerintah yang dalam praktiknya telah menjadi semacam DPR bayangan di samping DPR hasil pemilu 1955.dan adapun Dewan Nasional yang di sebutkan diatas adalah hasil bentukan kabinet juanda yang segera terbentuk setelah sebelumnya kabinet Ali sastro amidjoyo tidak mampu bertahan lagi.
Namun gagasan tanpa perbuatan tidak terlalu berarti dibanding gagasan dan perbuatan langsung dalam usaha mewujudkan gagasan itu dan inilah yang di lakukan soekarno . Konsep Demokrasi terpimpin yang hendak membawa PKI masuk kedalam kabinet ini juga menyebut-nyebut akan di bentuknya lembaga negara baru yang ekstra konstitusional yaitu ( Dewan Nasional), yang akan di ketuai oleh soekarno sendiri yang bertugas memberi nasehat kepada kabinet maka untuk itu harus di bentuk kabinet baru yang melibatkan semua partai termasuk PKI serta di bentuk Dewan penasehat tertinggi dengan nama “Dewan Nasional” yang beranggotakan wakil-wakil seluruh golongan fungsional.
Menurut Yusril Ihza mahendra, sebelum “Dewan Nasional” ini dibentuk gagasan awal tentang namanya adalah “Dewan Revolusi” (DR), namun akhirnya dinamai dengan “Dewan nasional” (DN). Dewan ini diketuai oleh presiden, namun dalam prakteknya sehari-hari diserahkan kepada Roeslan abdul gani, walaupun Dewan Nasional ini tidak ada dasarnya dalam konstitusi.-,, Artinya “Dewan Nasional ini tidak sejalan dengan konstitusi yang ada pada waktu itu. Dan peranannya memang cukup menentukan yaitu sebagai “penasihat” pemerintah yang dalam praktiknya telah menjadi semacam DPR bayangan di samping DPR hasil pemilu 1955.dan adapun Dewan Nasional yang di sebutkan diatas adalah hasil bentukan kabinet juanda yang segera terbentuk setelah sebelumnya kabinet Ali sastro amidjoyo tidak mampu bertahan lagi.
Setelah dekrit presiden 5 juli 1959 kabinet Juanda menyerahkan
mandatnya kepada presiden melalui pemberlakuan kembali proklamasi dan UUD 1945,
presiden Soekarno langsung memimpin pemerintahan bahkan bukan saja kepala
negara tetapi juga kepala pemeritahan yang membentuk kabinet yang
mentri-mentrinya tidak terikat kepada partai. Dan pada waktu-waktu inilah Dewan
Nasional itu mulai di gagas.
Pembentukan Dewan Nasional ini, berdasarkan atas (SOB) atau amanat keadaan darurat dan bahaya perang yang di umumkan oleh presiden soekarno sebelum terbentuknya kabinet Juanda itu, mengingat Indonesia di hari-hari itu memang dalam keadaan genting dan potensi kionflik yang lebih besar segera mengancam keutuhan NKRI. Salah satunya dengan terjadinya gejolak ingin memisahkan diri beberapa Daerah dari NKRI.
Dalam kurun waktu yang kian genting pada kenyataan sejarah waktu-waktu itu, dan dengan terbentyknya PRRI di Padang di tambah dengan pulangnya pimpinan-pimpinan Masyumi dari jakarta menuju padang, karena waktu itu di jakarta mereka merasa kurang aman dari fihak-fihak yang kontra dengan mereka serta sekaligus berencana memantapkan pemerintahan revolusioner yang mereka cita-citakan dengan mengangkat “Syafruddin parawiranegara” sebagai mentrinya,(beliau juga pernah menjadi pemangku jabatan Pemimpin pemerintahan darurat Republik indonesia (PDRI) bi bukit tinggi, beliau sebenarnya putera kelahiran Banten tapi ayahnya berasal dari Sumatera Barat)Pen. Dan PRRI ini segera mendapat sambutan hangat di indonesia bagian timur, aceh, dan Indonesia tengah yang telah terlebih dahulu mengusahakan perjuangan melalui DI/TII yang terkenal itu. Walaupun pada akhirnya usaha ingin memisahkan diri, yang di upayakan berbagai daerah ini berhasil ditumpas.Sementara kegentingan demi kegentingan yang terjadi, sukarno sebagai seorang organisator dan sekaligus pengagum persatuan dan kesatuan, tidak tinggal diam dan tidak kehabisan akal.
Pembentukan Dewan Nasional ini, berdasarkan atas (SOB) atau amanat keadaan darurat dan bahaya perang yang di umumkan oleh presiden soekarno sebelum terbentuknya kabinet Juanda itu, mengingat Indonesia di hari-hari itu memang dalam keadaan genting dan potensi kionflik yang lebih besar segera mengancam keutuhan NKRI. Salah satunya dengan terjadinya gejolak ingin memisahkan diri beberapa Daerah dari NKRI.
Dalam kurun waktu yang kian genting pada kenyataan sejarah waktu-waktu itu, dan dengan terbentyknya PRRI di Padang di tambah dengan pulangnya pimpinan-pimpinan Masyumi dari jakarta menuju padang, karena waktu itu di jakarta mereka merasa kurang aman dari fihak-fihak yang kontra dengan mereka serta sekaligus berencana memantapkan pemerintahan revolusioner yang mereka cita-citakan dengan mengangkat “Syafruddin parawiranegara” sebagai mentrinya,(beliau juga pernah menjadi pemangku jabatan Pemimpin pemerintahan darurat Republik indonesia (PDRI) bi bukit tinggi, beliau sebenarnya putera kelahiran Banten tapi ayahnya berasal dari Sumatera Barat)Pen. Dan PRRI ini segera mendapat sambutan hangat di indonesia bagian timur, aceh, dan Indonesia tengah yang telah terlebih dahulu mengusahakan perjuangan melalui DI/TII yang terkenal itu. Walaupun pada akhirnya usaha ingin memisahkan diri, yang di upayakan berbagai daerah ini berhasil ditumpas.Sementara kegentingan demi kegentingan yang terjadi, sukarno sebagai seorang organisator dan sekaligus pengagum persatuan dan kesatuan, tidak tinggal diam dan tidak kehabisan akal.
Soekarno melakukan upaya dengan menggandeng 2 kekuatan besar dan
yang paling bagus organisasinya dan paling potensial di indonesia pada waktu
itu, yaitu PKI dan AD atau militer. Walaupun pada kenyataannya kedua kekuatan
ini selalu prodan kontra antara satu sama lain, namun bisajinak ditangan
seorang politikus kaliber soekarno. Mula-mula 2 kekuatan ini di manfaatkannya
pada isu imperialisme dan kapitalisme yang masih mengancam Indonesia, berhubung
pada waktu itu Irian Barat masih dikuasai oleh penjajah dan isu ini di pakai
soekarno untuk mengamanatkan agar Irian barat selekas-lekasnya dapat di
bebaskan serta upaya untuk mengembalikan indonesia dalam posisi pemerintahan
secara utuh. Dalam teorinya dapat kita baca bahwa: soekarno, membutuhkan PKI
kasrena merasa terancam akan Kudeta yang di lakukan Militer padawaktu itu atau
AD pada khususnya sebagai kekuatan potensial yang sewaktu-waktu dapat merong-rong
Soekarno dari tampuk pimpinan. Dan di samping itu menurut Afan ghafar soekarno
memiliki agenda sendiri.
Dalam hubungannya dengan PNI, yang merupakan partai binaannya sejak
awal, untuk sementara waktu soekarno keluar dari PNIdahulu, Karaena beliau tahu
pasti kalau pengikut PNI sesungguhnya sudah ditangannya. Dan dia merangkul
kekuatan PKI sebagai kekuatan yang menentukan massanya di Indonesia pada waktu
itu, ketika soekarno telah mendapatkan PKI sebagai kekuatan besar, maka
otomatis kekuatan yang lain dari PNI partainya yang disebutkan diatas
menggabungkan diri dengan PKI walaupun ada juga yang tidak bergabung. Namun
pada akhirnya gabungan kedua partai tersebut terbentuk menjadi masa yang besar
dan siap untuk di mobilisasi.
Sedangkan apabila kita lanjutkan analisisnya, antara PKI dan AD yang sering berbeda pendapat sewaktu-waktu dapat di adu kekuatannya dan soekarno jadi wasitnya.
Sementara itu menurut keterangan yusril Ihza Mahendra, sejalan dengan gagasan “Demokrasi Terpimpin” Kalangan tentara di bawah pimpinan Mayjend Abdul Haris Nasution, aktif berkampanye tentang perlunya kembali ke undang-undang 1945.nilai-nilai dan semangat demiukian menurut A.H. Nasution akan tetap terpelihara jika negara kembali kepada UUD dan dan proklamasi, yakni UUD 1945. ide soekarno ini tampaknya bertemu dengan Ide soekarno dalam rangka menerapkan demokrasi Terpimpin. Sebab menurut Yusril, demokrasi semacam itu memang menghendaki adanya pemusatan kekuasaan di tangan presiden, sementara UUD 1945 memungkinkan perwujudan hal itu, (maksudnya sebelum di amandemen karena buku yang penulis kutip dari buku karangan 1996.) sebaliknya, jika menunggu konstituante menyelesaikan tugasnya memnyusun Undang-Undang yang baru belum tentu isinya sama dengan gagasan demokrasi terpimpin tadi. Dan gabungan ide Soekarno dan A.H. Nasution ini disampaikan kesidang Dewan Nasional dan dewan berpendapat bahwa gagasan Demokrasi terpimpin dapat terlaksana jika dikembalikan kepada UUD 1945.kemudian di bawa kerapat kabinet dan didalam rapat itu juga disetujui tentang Gagasan Demokrasi Terpimpin tersebut. Dalam sidang kabinet tesebut di hadiri oleh Idcham Chalid seorang tokoh NU, beliau tidak memberikan komentar apa-apa terhadap usulan Dewan Nasional sehingga perdana mentri Juanda padawaktu itu mengira bahwa NU setuju dengan gagasan itu.
Keputusan Dewan Mentri tersebut disampaikan perdana mentri Juanda, kepada sidang paripurna DPR, yang berjudul “ Putusan Dewan Mentri mengenai pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dalam rangka kembali ke UUD 1945”.
Dalam keterangan itu PM. Juanda mengatakan sbb: untuk mendekati hasrat golongan Islam, berhubung dengan penyelesayan dan pemeliharaan keamanan, di akui adanya piagam Jakarta tertanggal 22 juni 1945 sebagai dokumen historis. Dengan kembali ke UUD 1945, tambahnya , pelaksanaan Demokrasi Terpimpin akan lebih terjamin, disamping akan mampu mengembalikan seluruh ptensi nasional” termasuk golongan Islam”. Guna” di putuskan kepada penyelesayan keamanan dan pembangunan di seluruh bidang.”
Sedangkan apabila kita lanjutkan analisisnya, antara PKI dan AD yang sering berbeda pendapat sewaktu-waktu dapat di adu kekuatannya dan soekarno jadi wasitnya.
Sementara itu menurut keterangan yusril Ihza Mahendra, sejalan dengan gagasan “Demokrasi Terpimpin” Kalangan tentara di bawah pimpinan Mayjend Abdul Haris Nasution, aktif berkampanye tentang perlunya kembali ke undang-undang 1945.nilai-nilai dan semangat demiukian menurut A.H. Nasution akan tetap terpelihara jika negara kembali kepada UUD dan dan proklamasi, yakni UUD 1945. ide soekarno ini tampaknya bertemu dengan Ide soekarno dalam rangka menerapkan demokrasi Terpimpin. Sebab menurut Yusril, demokrasi semacam itu memang menghendaki adanya pemusatan kekuasaan di tangan presiden, sementara UUD 1945 memungkinkan perwujudan hal itu, (maksudnya sebelum di amandemen karena buku yang penulis kutip dari buku karangan 1996.) sebaliknya, jika menunggu konstituante menyelesaikan tugasnya memnyusun Undang-Undang yang baru belum tentu isinya sama dengan gagasan demokrasi terpimpin tadi. Dan gabungan ide Soekarno dan A.H. Nasution ini disampaikan kesidang Dewan Nasional dan dewan berpendapat bahwa gagasan Demokrasi terpimpin dapat terlaksana jika dikembalikan kepada UUD 1945.kemudian di bawa kerapat kabinet dan didalam rapat itu juga disetujui tentang Gagasan Demokrasi Terpimpin tersebut. Dalam sidang kabinet tesebut di hadiri oleh Idcham Chalid seorang tokoh NU, beliau tidak memberikan komentar apa-apa terhadap usulan Dewan Nasional sehingga perdana mentri Juanda padawaktu itu mengira bahwa NU setuju dengan gagasan itu.
Keputusan Dewan Mentri tersebut disampaikan perdana mentri Juanda, kepada sidang paripurna DPR, yang berjudul “ Putusan Dewan Mentri mengenai pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dalam rangka kembali ke UUD 1945”.
Dalam keterangan itu PM. Juanda mengatakan sbb: untuk mendekati hasrat golongan Islam, berhubung dengan penyelesayan dan pemeliharaan keamanan, di akui adanya piagam Jakarta tertanggal 22 juni 1945 sebagai dokumen historis. Dengan kembali ke UUD 1945, tambahnya , pelaksanaan Demokrasi Terpimpin akan lebih terjamin, disamping akan mampu mengembalikan seluruh ptensi nasional” termasuk golongan Islam”. Guna” di putuskan kepada penyelesayan keamanan dan pembangunan di seluruh bidang.”
Demokrasi
Terpimpin Ditinjau dari Demokrasi Moderen.
Dalam Priode
Demokrasi terpimpin pemikiran Demokrasi ala Barat banyak di tingalkan bahkan
lebih nampak gambarannya manakala Demokrasi parlementer sebelumnya berkuasa di
indonesia karena mengacu pada latar belakang pendidikan penggagasnya, yaitu
yang pernah sekolah di luar negeri seperti Drs. M.Hatta dan Syahrir,walaupun
gagasannya tidak 100% persis barat karena di sana sini berhubungan juga dengan
islam,Nasionalis dan Lokal.
Soekarno sebagai pemimpin tertinggi pada era Demokrasi terpimpin menyatakan bahwa Demokrasi liberal tidak sesuai dengan kepribadian BI, prosedur pemungutan suara, dalam lembaga perwakilan rakyat dinyatakan sebagai tidak efektif dan kemudian Soekarno memperkenalkan dengan apa yang di sebut dengan”Musyawarah untuk mufakat”
Banyaknya partai politik oleh bung karno adalah penyebab tidak adanya pencapayan hasil dan sulit dicapai kataq sepakat karena terlalubanyak berdebat atau bersitegang urat leher.
Soekarno sebagai pemimpin tertinggi pada era Demokrasi terpimpin menyatakan bahwa Demokrasi liberal tidak sesuai dengan kepribadian BI, prosedur pemungutan suara, dalam lembaga perwakilan rakyat dinyatakan sebagai tidak efektif dan kemudian Soekarno memperkenalkan dengan apa yang di sebut dengan”Musyawarah untuk mufakat”
Banyaknya partai politik oleh bung karno adalah penyebab tidak adanya pencapayan hasil dan sulit dicapai kataq sepakat karena terlalubanyak berdebat atau bersitegang urat leher.
Dari kacamata
demokrasi moderen Kita menyaksikan semuanya di rubah,semua berubah,dan semua kelihatan
berganti dan semua diganti tapi sesungguhnya tidak ada yang berganti dan
berubah, yang pada hari ini semua serba mudah dan terkesan di mudahkan dan
hampir kebablasan.Memang Demokrasi Terpimpin agak terasa asing Namun apa yang
terjadi dimasalalu karena kehendak waktu dan peristiwa menginginkan demikian
pada hari-hari itu, Dimana ketika kita dihadapkan kepada dua pilihan yakni:
apakah kita mau di gembleng untuk sementara waktu demi sejarah yang mengoyak
ngoyak bangsa selama-beberapa lamanya, ataukah kita siap bercerai berai dari
kesatuan Negara Republik Indonesia yang artinya kita semakin lemah?.
Konsep
Nasakom Dalam Demokrasi Terpimpin.
Bung Karno sampai dengan akhir hayatnya tetap bertahan terhadap ide
Nasakom yang mengatakan bahwa kekuatan politik di Indonesia pada saat itu
terdiri dari tiga golongan ideologi besar yaitu: golongan yang berideologi
nasionalis, golongan yang berideologi dengan latar belakang agama, dan golongan
yang berideologi komunis. Tiga-tiganya merupakan kekuatan yang diharapkan tetap
bersatu untuk menyelesaikan masalah bangsa secara bersama-sama.Apakah dengan
punya ide Nasakom tersebut bisa dikatakan bahwa Bung Karno adalah seorang
Marxis yang lebih dekat dengan golongan komunis pada saat itu?Setiap orang
boleh punya persepsi dan pendapatnya sendiri untuk hal ini.Tapi yamg nyata Bung
Karno adalah seorang Nasionalis, yang ide Nasakom semata-mata dicetuskan
melihat realitas masyarakat pada saat itu demi persatuan. Indonesia
menginginkan suatu kolaborasi total semua anasir bangsa dari semua golongan
ideologi yang ada termasuk golongan komunis untuk berama-sama bahu membahu
membangun Indonesia.
Walaupun tidak bisa dipungkiri memang Bung Karno pada periode
1959-1965 sangat terlihat lebih condong memberi angin kepada golongan komunis.
Barangkali juga ide Bung Karno tentang Nasakom berkaitan dengan pendapat Clifford Geertz yang dalam bukunya The Religion of Java yang membagi masyarakat Jawa dalam tiga varian: priyayi, santri, dan abangan. Yang bisa diterjemahkan priyayi adalah kaum Nasionalis, santri adalah kaum Agamis, dan abangan adalah kaum Komunis.
Realitas sejarah memang berkata lain setelah terjadi peristiwa 30 September 1965 yang sampai sekarang masih menyimpan misteri dan banyak versi diceritakan dari berbagai pihak bagaimana kejadiannya sampai terjadi pembunuhan para Jendral dan PKI dituduh yang telah melakukan semua ini dan tentara melakukan pembalasan dengan menumpas PKI sampai dengan akar-akarnya. Suatu realitas yang mungkin Bung Karno tidak pernah menyangka ataupun mimpipun mungkin tidak, bahwa ada satu golongan kekuatan dalam peta politik di Indonesia yang tidak pernah terpikirkan menjadi suatu kekuatan penting dalam peta perpolitikan Indonesia yaitu kaum militer.
Barangkali juga ide Bung Karno tentang Nasakom berkaitan dengan pendapat Clifford Geertz yang dalam bukunya The Religion of Java yang membagi masyarakat Jawa dalam tiga varian: priyayi, santri, dan abangan. Yang bisa diterjemahkan priyayi adalah kaum Nasionalis, santri adalah kaum Agamis, dan abangan adalah kaum Komunis.
Realitas sejarah memang berkata lain setelah terjadi peristiwa 30 September 1965 yang sampai sekarang masih menyimpan misteri dan banyak versi diceritakan dari berbagai pihak bagaimana kejadiannya sampai terjadi pembunuhan para Jendral dan PKI dituduh yang telah melakukan semua ini dan tentara melakukan pembalasan dengan menumpas PKI sampai dengan akar-akarnya. Suatu realitas yang mungkin Bung Karno tidak pernah menyangka ataupun mimpipun mungkin tidak, bahwa ada satu golongan kekuatan dalam peta politik di Indonesia yang tidak pernah terpikirkan menjadi suatu kekuatan penting dalam peta perpolitikan Indonesia yaitu kaum militer.
Bung Karno walaupun bukan orang militer, selalu memakai pakaian
lengkap militer Panglima Tertinggi – Jendral Bintang Lima – dengan segala
atribut kebesarannya, kata beberapa analis ini adalah salah satu diplomasi
model Bung Karno untuk meredam ambisi dan kekuatan militer untuk berkuasa.
Setelah terjadi peristiwa 30 September 1965, serta merta ide Nasakom musnah dan
aneh bin ajaib kekuatan kaum komunis serta merta digantikan oleh satu kekuatan
politik baru di Indonesia yaitu kaum militer.Walaupun dengan segala dalih, kaum
militer tidak pernah mengakui bahwa mereka adalah satu kekuatan politik yang
telah mendominasi Indonesia selama 32 tahun.Mereka selalu mengatakan bahwa
militer berdiri dibelakang semua golongan.
Kesimpulannnya bahwa realitas politik di Indonesia semenjak jaman
kemerdekaan sampai dengan saat ini pernah ada empat golongan kekuatan politik:
kaum nasionalis, kaum agamis, kaum komunis, dan kaum militer (dan motor politik
pendukungnya). Masing-masing kekuatan politik pernah mengalami jaman keemasan
dan juga pernah terhempas dalam kancah politik di Indonesia. Dalam realitasnya
setiap golongan kekuatan politik yang pernah mendominasi kekuasaan dan
menjalankan pemerintahan Republik Indonesia belum ada yang mampu mengantarkan
Indonesia menuju cita-cita bangsa untuk menjadi negara yang adil, makmur dan
sejahtera.
. Pada awal kemerdekaan kaum nasionalis dengan motor politiknya PNI (Partai Nasional Indonesia) pernah memegang dominasi pemerintahan sampai pada sekitar tahun 1959. Setelah Bung Karno membuat dekrit pada tanggal 1 Juli 1959 untuk kembali ke UUD ’45, maka kekuasaan mutlak ada di tangan Bung Karno yang lebih memberikan angin pada kaum komunis untuk mendominasi kancah politik di Indonesia (atau terbawa oleh strategi kaum komunis) pada periode 1959 s/d 1965.
. Pada awal kemerdekaan kaum nasionalis dengan motor politiknya PNI (Partai Nasional Indonesia) pernah memegang dominasi pemerintahan sampai pada sekitar tahun 1959. Setelah Bung Karno membuat dekrit pada tanggal 1 Juli 1959 untuk kembali ke UUD ’45, maka kekuasaan mutlak ada di tangan Bung Karno yang lebih memberikan angin pada kaum komunis untuk mendominasi kancah politik di Indonesia (atau terbawa oleh strategi kaum komunis) pada periode 1959 s/d 1965.
D.
Kondisi Masyarakat Pada Masa Demokrasi Terpimpin
1. Kehidupan
Politik
Dekret Presiden 5 Juli 1959 ternyata
mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, di antaranya sebagai
berikut.
·
KSAD
mengeluarkan perintah harian yang ditunjukan kepada seluruh anggota TNI untuk
melaksanakan Dekret Presiden 5 Juli 1959
·
Mahkamah
Agung membenarkan adanya Dekret Presiden tersebut.
·
DPR
hasil pemilu tahun 1955 menyatakan kesediaannya untuk bekerja berdasarkan UUD
1945
Sebagai
tindak lanjut dekret tersebut, maka pada tanggal 10 Juli 1959 pemerintah
membentuk sebuah kabinet yang disebut kabinet karya.Kabinet karya dipimpin
langsung oleh Presiden.Dengan demikian kabinet parlemen berganti dengan sistem
kabinet presidensial, sedangkan sistem demokrasi liberal diganti dengan sistem
demokrasi terpimpin.Kebijakan-kebijakan yang diambil pada masa demokrasi
terpimpin antara lain sebagai berikut :
·
Pembentukan DPR
Berdasarkan
Penetapan Presiden no.1 Tahun 1959, yang dikeluarkan pada tanggal 22 Juli 1959
menyatakan bahwa sebelum terbentuk DPR menurut UUD 1945, maka DPR hasil pemilu
tahun 1959 atas dasar UU no. 7 Tahun 1953 tetap menjalankan tugasnya.
·
Pembentukan MPRS
Berdasarkan
pasal 1 Ayat 1 dan pasal 2 Ayat 2 UUD 1945 lembaga tertinggi negara harus
dibentuk adalah MPR.Namun berhubung belum melaksanakan pemilu maka MPR dibentuk
berdasarkan Penetapan Presiden No. 2 Tahun 1959, Ketua MPR adalah Chaerul
Saleh.
·
Pembentukan DPAS
Berdasarkan
Penetapan Presiden No. 3 Tahun 1959 dibentuk Dewan Agung Sementara (DPAS)
·
Pembentukan Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappernas)
Pada
bulan Agustus 1959 dibentuk dewan perancang nasional yang di ketuai oleh
Muh.Yamin.Pada Tahun 1963, Depernas diganti menjadi Badan Perancang Nasional
(Bappernas) yang dipimpin langsung oleh Presiden sendiri.
·
Pembentukan Front Nasional
Pada
tanggal 31 Desember tahun 1959 dibentuk Front Nasional yang berfungsi sebagai
lembaga negara yang melaksanakan pembangunan semesta Indonesia.
·
Pembentukan DPR-GR
Presiden
Soekarno membubarkan DPR hasil pemilu 1955 karena DPR menolak Anggaran Belanja
Negara yang diajukan oleh Presiden.Kemudian Presiden membentuk DPR Gotong
Royong (DPR-GR) pada tanggal 24 Juni 1960.
Sampai saat dikeluarkannya Dekret
Presiden 5 Juli 1959, keadaan ekonomi Indonesia Masih sangat suram akibat
timbulnya pemberontakan PRRI/Permesta. Untuk Merencanakan pembangunan di bawah
kabinet karya, pada tanggal 15 Agustus 1959 maka dibentuk Dewan Perancang
Nasional (Depernas) yang dipmpin oleh Muh.Yamin.
Untuk memperbaiki keadaan ekonomi,
pada tanggal 28 Maret 1963 pemerintah mengeluarkan landasan ekonomi baru yang
disebut Deklarasi Ekonomi (Dekon). Tujuan Dekon adalah menciptakan ekonomi yang
bersifat nasional, demokrasi, dan bebas dari
sisa-sisa imperalisme mencapai tahap
ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin.
3.Kebijakan
Politik Luar Negri
a. Pelaksanaan
politik luar negeri Indonesia
Pada
masa demokrasi terpimpin pemerintah melaksanakan politik mercusuar.Politik
mercusuar adalah politik mencari kemegahan di mata dunia Internasional.
Tindakan pemerintah yang menyimpang dari pelaksanaan politik luar negri bebas
aktif sebagai berikut :
1) Membagi kekuatan politik dunia
menjadi dua sebagai berikut :
a) Old Established Forces (Oldefo)
terdiri atas negara-negara imperalis, negara kapitalis, dan negara berkembang
yang cenderung imperialis.
b) New Emerging Forces (Nefo) terdiri
dari negara-negara berkembang anti imperalis, negara sosialis, dan negara
komunis.
1. Dalam rangka politik mercusuar, pemerintah RI
menyelenggarakan pesta olahraga negara-negara Nefo pada tahun 1963. Kegiatan
tersebut dinamakan Ganefo.
2. Pembentukan Jakarta-Peking. Kenyataan ini
membuktikan bahwa Indonesia betul-betul melibatkan diri pada salah satu blok,
yaitu blok komunis.
Penyebab
indonesia keluar dari PBB adalah diterimanya Malaysia menjadi anggota tetap
Dewan Keamanan PBB. Dengan masuknya malaysia menjadi anggota tidak tetap DK
PBB, maka presiden Soekarno menyampaikan pidato di depan sidang umum PBB dengan
judul “Membangun Dunia Kembali”. Indonesia mengancam jika Malaysia tetap
diangkat menjadi anggota dewan keamanan PBB, maka Indonesia akan keluar dari
PBB.
Ternyata
Malaysia tetap diangkat menjadi anggota Dewan keamanan PBB sehingga pada
tanggal 7 Januari 1965, Indonesia menyatakan keluar dari anggota PBB.Dengan
keluarnya Indonesia dari keanggotaan PBB, maka Indonesia semakin terpencil dari
pergaulan dunia.
Presiden
Soekarno beranggapan bahwa Federasi Malaysia adalah proyek neokolonialisme
imperialisme (nekolim) yang membahayakan revolusi Indonesia, maka Indonesia
harus mencegah berdirinya Malaysia. Untuk kepentingan tersebut, maka Presiden Soekarno
mengeluarkan komando yang dikenal dengan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang
berisi sebagai berikut :
1. Perhebatan ketahanan revolusi
Indonesia.
2. Bantulah Perjuangan rakyat di
Malaysia, Singapura, Sabah, dan Serawak.
Banyak
penyimpangan terjadi di masa demokrasi terpimpin.Pada masa demokrasi terpimpin,
dijumpai adanya tindakan-tindakan inkonstitusional yang dilakukan oleh presiden
Soekarno, sehingga terjadi ketidakstabilan politik dan ekonomi. Hal itu Nampak
dari kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia yang menderita kelaparan dan
kemiskinan serta dipengaruhi oleh politik Indonesia yang dikucilkan dalam
pergaulan internasional, sehingga pada masa demokrasi terpimpin yang sebelumnya
diharapkan memberi kesejahteraan yang lebih baik dari demokrasi liberal justru
sebaliknya, lebih parah, baik ekonomi maupun politiknya. Indonesia tidak lagi
menggunakan politik luar negeri yang bebas aktif tetapi lebih condong pada blok
timur atau menggunakan politik NEFO, sehingga paham atau ideologi komunis di
Indonesia dapat berkembang luas. Kondisi tersebut menyebabkan PKI menjadi
partai politik yang terbesar dan memiliki pendukung yang banyak.Pada masa
pemerintahan Soekarno yang menganut demokrasi terpimpin kekuasaan presiden
begitu kuat.Pemerintah tunggal pada saat itu adalah presiden Soekarno.Pada masa
pemerintahannya, Soekarno melakukan perluasan daerah kekuasaan.Setelah berhasil
merebut Irian Barat, pemerintah Soekarno melakukan pengupayaan pengambilalihan
kekuasaan di Malaysia.Pada waktu itu Malaysia merupakan negara yang masih
dibawah kekuasaan Inggris.Akibatnya banyak negara-negara maju mulai melakukan
reaksi terhadap tindakan negara Indonesia.Mereka melakukan berbagai kebijakan
internasional yang menyudutkan bangsa Indonesia.Akibatnya, krisis ekonomi tidak
bisa dihindari lagi.Keadaan yang tidak menentu pada masa Orde Lama benar-benar
dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia untuk melakukan pemberontakan.Banyak
peristiwa penting dalam pemberontakan PKI tersebut, diantaranya terbunuhnya
jenderal-jenderal yang dekat dengan presiden Soekarno.Dengan adanya momen
tersebut, maka Soeharto melakukan penumpasan terhadap pemberontakan PKI. Di
sisi lain, banyak aksi demonstrasi yang dilakukan oleh rakyat dan mahasiswa
menuntut perubahan.
BAB IV
negara yang diletakkan kembali kepada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945
secara murni dan konsekuen. Dengan kata lain, Orde Baru adalah suatu orde
yang mempunyai sikap dan tekad untuk mengabdi pada kepentingan rakyat
dan nasional dengan dilandasi oleh semangat dan jiwa Pancasila serta UUD
1945. Lahirnya Orde Baru diawali dengan dikeluarkannya Surat Perintah 11
Maret 1966.Dengan demikian Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) sebagai
tonggak lahirnya Orde Baru.
1)
Terjadinya
peristiwa Gerakan 30 September 19652.
2)
Keadaan
politik dan keamanan negara menjadi kacau karena peristiwa Gerakan 30September
1965 ditambah adanya konflik di angkatan darat yang sudah berlangsunglama..
3)
Keadaan
perekonomian semakin memburuk dimana inflasi mencapai 600% sedangkanupaya
pemerintah melakukan devaluasi rupiah dan kenaikan harga bahan
bakar menyebabkan timbulnya keresahan masyarakat.
4)
Reaksi
keras dan meluas dari masyarakat yang mengutuk peristiwa pembunuhan
besar-besaran yang dilakukan oleh PKI. Rakyat melakukan demonstrasi menuntut
agar PKI berserta Organisasi Masanya dibubarkan serta tokoh-tokohnya
diadili
5)
Kesatuan
aksi (KAMI,KAPI,KAPPI,KASI,dsb) yang ada di masyarakat bergabungmembentuk
Kesatuan Aksi berupa ³Front Pancasila´ yang selanjutnya lebih dikenaldengan
³Angkatan 66´ untuk menghacurkan tokoh yang terlibat dalam Gerakan 30September
19656.
6)
Kesatuan
Aksi ³Front Pancasila´ pada 10 Januari 1966 di depan gedung
DPR-GR mengajukan tuntutan’’TRITURA(Tri Tuntutan Rakyat).
7)
Upaya
reshuffle kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966 dan Pembentukan KabinetSeratus
Menteri tidak juga memuaskan rakyat sebab rakyat menganggap di kabinettersebut
duduk tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.
8)
Wibawa
dan kekuasaan presiden Sukarno semakin menurun setelah upaya untuk mengadili
tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965
tidak berhasil dilakukan meskipun telah dibentuk Mahkamah Militer
Luar Biasa(Mahmilub)
9)
Sidang Paripurna kabinet dalam rangka mencari
solusi dari masalah yang sedang bergejolak tak juga berhasil. Maka
Presiden mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (SUPERSEMAR) yang
ditujukan bagi Letjen Suharto guna mengambil langkah yang dianggap perlu untuk mengatasi keadaan negara
yang semakin kacau dan sulit dikendalikan.
Tanggal 11 Maret 1966 Sukarno
mengeluarkan surat perintah dan dibawa oleh tiga jenderal untuk disampaikan
kepada Suharto. Maksud dikeluarkannya surat itu adalah untuk menugaskan Suharto
mengamankan situasi, namun kemudian berubah, bahwa surat itu seakan cek kosong
yang dapat diisi apa saja termasuk pemindahan kekuasaan dari Sukarno kepada
Suharto. Teks asli surat perintah itu sendiri sampai kini belum ditemukan.
Peralihan kekuasaan ini oleh
beberapa kalangan disebut dengan istilah “kudeta merangkak” (creeping coup)
yang dilakukan oleh Suharto.Sebuah kudeta biasanya dilakukan secara cepat dan
tidak terduga.Namun, kudeta ini dilakukan secara bertahap. Ada yang mengatakan
bahwa “kudeta merangkak” ini terdiri dari beberapa tahap, di antaranya Subandrio
melihat empat tahap. Tahap pertama, menyingkirkan para jenderal pesaing Suharto
tanggal 1 Oktober 1965; tahap kedua, memperoleh Supersemar (akronim dari Surat
Perintah 11 Maret) yang kemudian dijadikan dasar pembubaran PKI tanggal 12
Maret 1966; tahap ketiga, penangkapan 15 menteri yang pro Sukarno tanggal 18
Maret 1966,dan tahap keempat mengambil alih kekuasaan dari Sukarno.Bersamaan
dengan itu MPRS pun melakukan apa yang disebut oleh Adam “kudeta merangkak”
MPRS. MPRS berperan besar secara yuridis untuk memindahkan kekuasaan dari
Sukarno kepada Suharto.Namun MPRS itu sendiri akhirnya dibubarkan. Jenderal
Suharto setelah peristiwa G 30 S melakukan pembersihan terhadap seluruh
kekuatan PKI.Orang-orang atau kelompok yang terkait dengan organisasi tersebut
pun tidak luput dari pembasmian.Periode setelah tumbangnya pemerintahan Sukarno
disebut dengan “Orde Baru” untuk membedakannya dengan “Orde Lama”.Orde Baru
didukung oleh banyak kelompok yang ingin terbebas dari kekacauan masa
lalu.Dukungan itu dari kaum intelektual dan dari para mahasiswa.Periode antara
tahun 1965-1975 dipandang oleh para pengamat, baik dalam maupun luar negeri
secara beragam, seperti dikatakan oleh Ricklefs.Dari sayap kanan memuji
pemerintahan Suharto karena mampu membasmi PKI dan mengadopsi kebijakan pro
–Barat.Namun, sayap kiri sebaliknya, di samping memuji pemerintahan Suharto
karena mampu menyeimbangkan ekonomi, dan juga mengutuk buruknya catatan hak
asasi manusia dan korupsi pemerintahan tersebut.
Ricklefs lebih lanjut mengatakan bahwa,
terdapat persamaan antara kebijakan Orde Baru dengan kebijakan kolonial pada
periode politik etis. Sebagaimana pemerintah kolonial Belanda dahulu, Orde Baru
juga berjanji akan membangun ekonomi nasional dan meningkatkan taraf pendidikan
dan kesejahteraan. Orde Baru memang dapat membangun ekonomi nasional, namun
tidak dapat meningkatkan taraf pendidikan dan kesejahteraan.Sebagian besar
pembangunan ekonomi nasional bergantung pada perusahaan asing dan hanya terjadi
pertumbuhan kecil pada industri pribumi.Namun, ketika modal asing yang masuk
masih kurang pemerintah memanfaatkan “modal asing domestik”, dari para
pengusaha Tionghoa. Berkaitan dengan Islam, gagasan Snouck Hurgronje mengenai
Islam masih dianggap penting, karena Orde Baru juga menghormati Islam sebagai
praktek agama secara pribadi, namun tidak memberi kesempatan untuk menjadi
kekuatan politik, sebagaimana pada masa awal ketika aktivis Islam dan tentara
pro- Suharto berhasil membasmi PKI dan menyingkirkan Sukarno. Untuk mengamankan
kekuasaan penguasa Orde Baru merekrut orang-orang yang loyal terhadapnya,
terutama dari kalangan militer.Pimpinan mulai dari tingkat pusat hingga daerah
banyak diisi oleh kalangan militer.Hampir semua lini ia kendalikan, mulai dari
ekonomi, politik, sosial sampai budaya. Namun, tentu saja karena hal itu,
beberapa intelektual kritis bergerak melalui celah yang tidak dapat diawasi
oleh penguasa.
Dalam bidang ekonomi, Orde Baru
mewarisi hutang yang banyak yang membuat negeri ini nyaris menuju jurang
kehancuran. Negara tidak mampu membayar hutang luar negeri sebesar US$ 2,4
miliar, hiperinflasi sampai 600 persen, produksi industri di bawah 20 persen
dari kapasitas, pelayaran, alat transportasi air, kereta api, dan jalan raya,
selain itu seluruh kontrol pemerintah terhadap ekonomi digerogoti korupsi yang
menjalar ke segala arah. Untuk menyelesaikan masalah itu Jenderal Suharto
melihat kepada kelompok ekonom muda dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
(FEUI) untuk mendapatkan berbagai saran.Para ekonom itu di antaranya Widjojo,
Ali Wardhana, Muhammad Sadeli, Subroto dan Emil Salim.Hubungan mereka terjalin
ketika Suharto di Bandung mengikuti kursus ilmu ekonomi dan ilmu pengetahuan
sosial lainnya pada Sekolah Staf dan Komando AD. Para ekonom ini yang akhirnya
menjadi penasehat ahli ekonomi Orde Baru untuk menangani masalah ekonomi yang
serius dan mereka sering disebut sebagai “Mafia Berkeley” (karena banyak
di antara mereka lulusan Universitas of California, Berkeley).
Dalam mengambil kebijakan berkaitan
dengan ekonomi Orde Baru mengandalkan bantuan luar negeri terutama dari barat,
yang bertolak belakang dengan kebijakan pemerintahan sebelumnya yang mengambil
sikap anti-barat, yang digaungkan Presiden Sukarno dengan “go to hell with
your aid”.Memang sejak awal Orde Baru menyadari untuk mengubah sikap
anti-barat dan hal ini tercermin pada kebijakan perdagangan dan investasi luar
negeri yang liberal.Melihat sikap Indonesia yang telah meninggalkan kebijakan
anti-barat dan antikapitalis direspon positif oleh komunitas bantuan internasional.Indonesia
meminta untuk menjadwal kembali hutang luar negeri dan memperoleh bantun luar
negeri baru.Oleh karena itu pada Desember 1966, di Paris, wakil pemerintah
setuju dengan negara-negara Barat dan Jepang untuk menjadwal ulang hutang luar
negeri Indonesia yang telah jatuh tempo kepada negara-negara itu.Untuk itu atas
prakarsa Belanda pada tahun 1967 dibentuklah konsorsium bantuan luar negeri
internasional untuk Indonesia yang diketuai Belanda, Inter-Governmental Group
on Indonesia (IGGI).
Menanggapi kebijakan pemerintah,
mahasiswa berdemontrasi untuk menolak modal asing.Puncaknya ketika kedatangan
PM Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta, pada 14-17 Januari 1974.Demontrasi disertai
kerusuhan, pembakaran dan penjarahan.Banyak korban meninggal, luka-luka dan
sebagian ditangkap.Kekerasan ini untuk selanjutnya terus mengiringi rezim Orde
Baru. Sementara tim ekonomi melaksanakan program stabilitasi dan rehabilitasi
dengan hasil yang mengesankan. Keadaan ekonomi yang mengalami hiperinflasi
secara perlahahan dapat dikendalikan dengan kebijakan fiskal dan moneter yang
ketat. Hal ini terlihat dari turunnya inflasi dari 636 persen pada tahun 1966
menjadi sekitar 9 persen pada tahun 1970. Pertumbuhan yang pesat ini
dapat dipertahankan sampai sekitar tiga dasawarsa.
Namun pertumbuhan ekonomi yang pesat
itu, seperti kebanyakan negara-negara Asia Timur lainnya, berlangsung di bawah
pemerintahan Orde Baru yang sentralistik, otoriter, dan semakin represif.
Pemimpin dengan menjalankan pemerintahan semacam itu sering berdalih, bahwa
pembangunan ekonomi tidak mungkin berlangsung baik dalam suasana yang kacau dan
partai-partai politik umumnya saling ribut, hanya memikirkan politik dan tidak
memikirkan kepentingan nasional.Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan
berkesinambungan di masa Orde Baru itu adalah berkat kemampuan para teknokrat
ekonomi menjaga kestabilan makroekonomi.Akan tetapi, pada awal tahun 1990-an,
disiplin kestabilan ketat itu, yang telah dijaga oleh para teknokrat ekonomi
sejak akhir 1960-an, mulai merosot.Hal ini terlihat dari non-anggaran, yakni
transaksi pemerintah yang tidak tercantum dalam anggaran resmi
pemerintah.Transaksi keuangan ini mencakup lembaga-lembaga semi-pemerintah,
seperti Badan Urusan Logistik dan BUMN.Terutama untuk lembaga-lembaga yang tidak
sehat, perusahaan-perusahaan para pengusaha kroni serta keluarga.
Pada masa Orde Baru banyak terjadi
pembatasan dan pelarangan terhadap masyarakat. Partai-partai yang di zaman
Sukarno bebas berdiri, pada masa Orde Baru dipaksa dibatasi hanya tiga partai,
yakni Golongan Karya (Golkar) sebagai partai pemerintah, yang lainnya Partai
Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada tahun
1973.
Banyak kalangan yang mengritik
kebijakan pemerintah ini, namun mereka yang mencoba bersuara segera dicekal,
seperti yang terjadi pada Kelompok Petisi 50.Selain itu, banyak kegiatan
masyarakat dibatasi, yang diangap berisi membahayakan dan merongrong kewibawaan
pemerintah.Bahasa masyarakat disensor, dan sebaliknya penguasa menggunakan
bahasa yang dianggap tertib.Juga buku-buku yang dianggap berisi ajaran komunis
dilarang, termasuk karya-karya sastra.Soal pelarangan ini, zaman Orde Lama
terjadi pelarangan terutama menjelang akhir masa pemerintahan, seperti yang
dilakukan oleh organ-organ PKI yakni Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Mereka
berusaha mendorong pemerintah melarang buku dan mengintimidasi para
pengarangnya yang tidak sealiran dan tidak mau diajak dengan mereka.
Setelah Orde Lama tumbang,
pelarangan masih berlanjut, namun yang dilarang buku-buku yang dianggap berisi
ajaran komunis, kebanyakan pengarang yang tergabung dalam Lekra.Sementara
pengarangnya banyak yang dipenjarakan dan dibuang ke pulau Buru.Antara tahun
1980 hingga 1990-an mulai banyak kritik bermunculan yang ditujukan kepada pemerintah
di antara dari kalangan mahasiswa. Mereka menginginkan pemerintahan Orde Baru
yang bebas dari korupsi.Protes mahasiswa itu dijawab pemerintah dengan
menangkapi berberapa mahasiswa, divonis dan dipenjarakan. Media pemberitaan,
seperti koranPelita yang menurunkan berita kekerasan dan juga majalah
mingguan Tempo dilarang terbit.
Tahun-tahun setelah runtuhnya
Uni Soviet di dunia internasional terjadi perubahan peta politik, yang semula
komunis sebagai musuh bersama, tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang
dilawan.Sementara di dalam negeri Indonesia sendiri hal itu sepertinya masih
belum disadari, seperti pada kasus Timor Timur. Ketika Perang Dingin
berlangsung, Barat terutama Amerika mendukung Indonesia untuk membendung
komunisme di sana, namun setelah masa itu usai yang menjadi perhatian Amerika
adalah masalah HAM. Oleh karena itu Amerika tidak lagi mendukung kebijakan
Indonesia soal Timor Timur.Orang-orang Timor Timur menuntut kemerdekaan penuh
dengan Referandum.Menjelang kejatuhan Orde Baru, krisis moneter pada bulan Juli
1997 yang pertama melanda Thailand menyebar ke Asia Tenggara, termasuk
Indonesia. Dengan hantaman krisis moneter ini membuat nilai tukar rupiah
anjlok.Terjadi ketidak percayaan (rush) terhadap bank. Suharto menambah
hutang baru dengan menandatangani kesepakatan dengan IMF, namun ia tidak setia
pada syarat-syarat dalam kesepakatan itu. Dalam situasi itu, ia pergi ke Mesir
untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi. Setelah presiden kembali ke Jakarta,
kerusuhan telah terjadi di mana-mana.Yang diawali dengan terbunuhnya empat
mahasiswa.Suara-suara kaum intelektual dan mahasiswa yang menginginkan
perubahan tak dapat dibendung lagi.Puncaknya ketika para mahasiswa melakukan
demontrasi dan menduduki gedung DPR, Suharto yang terpilih kembali, akhirnya
mengundurkan diri, 21 Mei 1998.Dengan pengunduran diri itu, maka berakhirlah
rezim Orde Baru setelah berkuasa sekitar 32 tahun. Mengiringi berakhirnya Orde
Baru di Jakarta dan di beberapa kota lain terjadi kerusuhan dan pembakaran.
Dalam kerusuhan itu banyak korban meninggal dunia.Sampai kini belum ada
kejelasan siapa dalang di balik kerusuhan itu.
D.
Kondisi
Indonesia Pada Masa Orde Baru
Di awal Orde Baru, Suharto berusaha keras membenahi ekonomi
Indonesia yang terpuruk, dan berhasil untuk beberapa lama. Kondisi ekonomi
Indonesia ketika Pak Harto pertama memerintah adalah keadaan ekonomi dengan
inflasi sangat tinggi, 650% setahun,” kata Emil Salim, mantan menteri pada
pemerintahan Suharto.Orang yang dulu dikenal sebagai salah seorang Emil Salim
penasehat ekonomi presiden menambahkan langkah pertama yang diambil Suharto,
yang bisa dikatakan berhasil, adalah mengendalikan inflasi dari 650% menjadi di
bawah 15% dalam waktu hanya dua tahun. Untuk menekan inflasi yang begitu
tinggi, Suharto membuat kebijakan yang berbeda jauh dengan kebijakan Sukarno,
pendahulunya.Ini dia lakukan dengan menertibkan anggaran, menertibkan sektor
perbankan, mengembalikan ekonomi pasar, memperhatikan sektor ekonomi, dan
merangkul negara-negara barat untuk menarik modal.Setelah itu di keluarkan
ketetapan MPRS No.XXIII/MPRS/1966 tentang Pembaruan Kebijakan ekonomi, keuangan
dan pembangunan.Lalu Kabinet AMPERA membuat kebijakan mengacu pada Tap MPRS
tersebut adalah sebagai berikut.
- Mendobrak kemacetan ekonomi dan
memperbaiki sektor-sektor yang menyebabkan kemacetan, seperti :
·
Rendahnya
penerimaan Negara
·
Tinggi
dan tidak efisiennya pengeluaran Negara
·
Terlalu
banyak dan tidak produktifnya ekspansi kredit bank
·
Terlalu
banyak tunggakan hutang luar negeri penggunaan devisa bagi impor yang
sering kurang berorientasi pada kebutuhan prasarana
Untuk melaksanakan langkah-langkah
penyelamatan tersebut maka ditempuh cara:
·
Mengadakan
operasi pajak
·
Cara
pemungutan pajak baru bagi pendapatan perorangan dan kekayaan dengan menghitung
pajak sendiri dan menghitung pajak orang.
Menurut Emil Salim, Suharto
menerapkan cara militer dalam menangani masalah ekonomi yang dihadapi
Indonesia, yaitu dengan mencanangkan sasaran yang tegas. Pemerintah lalu
melakukan Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang (25-30 tahun) dilakukan secara
periodik lima tahunan yang disebut Pelita(Pembangunan Lima Tahun) yang dengan
melibatkan para teknokrat dari Universitas Indonesia, dia berhasil memperoleh
pinjaman dari negara-negara Barat dan lembaga keuangan seperti IMF dan Bank
Dunia.Liberalisasi perdagangan dan investasi kemudian dibuka selebarnya.Inilah
yang sejak awal dipertanyakan oleh Kwik Kian Gie, yang menilai kebijakan
ekonomi Suharto membuat Indonesia terikat pada kekuatan modal asing.
Pelita
berlangsung dari Pelita I-Pelita VI.
1. Pelita I (1 April 1969 – 31 Maret
1974)
Dilaksanakan pada 1 April 1969
hingga 31 Maret 1974 yang menjadi landasan awal pembangunan Orde Baru.
·
Tujuan
Pelita I: meningkatkan taraf hidup
rakyat dan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan dalam tahap
berikutnya.
·
Sasaran
Pelita I: Pangan, Sandang, Perbaikan prasarana, perumahan rakyat, perluasan
lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani.
·
Titik
Berat Pelita I: Pembangunan bidang pertanian sesuai dengan tujuan untuk
mengejar keterbelakangan ekonomi melalui proses pembaharuan bidang pertanian,
karena mayoritas penduduk Indonesia masih hidup dari hasil pertanian.
Muncul peristiwa Marali
(Malapetaka Limabelas Januari) terjadi pada tanggal 15-16 Januari 1947
bertepatan dengan kedatangan PM Jepang Tanaka ke Indonesia.Peristiwa ini
merupakan kelanjutan demonstrasi para mahasiswa yang menuntut Jepang agar tidak
melakukan dominasi ekonomi di Indonesia sebab produk barang Jepang terlalu
banyak beredar di Indonesia.Terjadilah pengrusakan dan pembakaran barang-barang
buatan Jepang.
2.
Pelita II (1 April 1974 – 31 Maret 1979)
Sasaran yang hendak di capai pada
masa ini adalah pangan, sandang, perumahan, sarana dan prasarana,
mensejahterakan rakyat, dan memperluas lapangan kerja .Pelita II berhasil
meningkatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata penduduk 7% setahun.Perbaikan dalam
hal irigasi.Di bidang industri juga terjadi kenaikna produksi.Lalu banyak jalan
dan jembatan yang di rehabilitasi dan di bangun.
3.
Pelita III (1 April 1979 – 31 Maret 1984)
Pelita III lebih menekankan pada
Trilogi Pembangunan yang bertujuan terciptanya masyarakat yang adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.Arah dan kebijaksanaan ekonominya adalah
pembangunan pada segala bidang.Pedoman pembangunan nasionalnya adalah Trilogi
Pembangunan dan Delapan Jalur Pemerataan.Inti dari kedua
pedoman tersebut adalah kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat dalam
suasana politik dan ekonomi yang stabil.
isi
Trilogi Pembagunan
adalah sebagai berikut.
1.
Pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
2.
Pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi.
3.
Stabilitas
nasional yang sehat dan dinamis.
4.
Pelita IV (1 April 1984 – 31 Maret 1989)
Pada Pelita IV lebih dititik
beratkan pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan
ondustri yang dapat menghasilkan mesin industri itu sendiri. Hasil yang dicapai
pada Pelita IV antara lain swasembada pangan. Pada tahun 1984 Indonesia
berhasil memproduksi beras sebanyak 25,8 ton. Hasil-nya Indonesia berhasil
swasembada beras.kesuksesan ini mendapatkan penghargaan dari FAO(Organisasi
Pangan dan Pertanian Dunia) pada tahun 1985. hal ini merupakan prestasi besar
bagi Indonesia. Selain swasembada pangan, pada Pelita IV juga dilakukan Program
KB dan Rumah untuk keluarga.
5. Pelita
V (1 April 1989 – 31 Maret 1994)
Pada Pelita V ini, lebih menitik
beratkan pada sektor pertanian dan industri untuk memantapakan swasembada
pangan dan meningkatkan produksi pertanian lainnya serta menghasilkan barang
ekspor.Pelita V adalah akhir dari pola pembangunan jangka panjang tahap
pertama. Lalu dilanjutkan pembangunan jangka panjang ke dua, yaitu dengan
mengadakan Pelita VI yang di harapkan akan mulai memasuki proses tinggal landas
Indonesia untuk memacu pembangunan dengan kekuatan sendiri demi menuju
terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
6.
Pelita VI (1 April 1994 – 31 Maret 1999)
Titik beratnya masih pada pembangunan pada sektor
ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian serta pembangunan dan
peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya.Sektor ekonomi
dipandang sebagai penggerak utama pembangunan.Pada periode ini terjadi krisis
moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.Karena
krisis moneter dan peristiwa politik dalam negeri yang mengganggu perekonomian
menyebabkan rezim Orde Baru runtuh.Disamping itu Suharto sejak tahun 1970-an
juga menggenjot penambangan minyak dan pertambangan, sehingga pemasukan negara
dari migas meningkat dari $0,6 miliar pada tahun 1973 menjadi $10,6 miliar pada
tahun 1980. Puncaknya adalah penghasilan dari migas yang memiliki nilai sama
dengan 80% ekspor Indonesia. Dengan kebijakan itu, Indonesia di bawah Orde
Baru, bisa dihitung sebagai kasus sukses pembangunan ekonomi.Keberhasilan Pak
Harto membenahi bidang ekonomi sehingga Indonesia mampu berswasembada pangan
pada tahun 1980-an diawali dengan pembenahan di bidang politik. Kebijakan
perampingan partai dan penerapan azas tunggal ditempuh pemerintah Orde Baru,
dilatari pengalaman masa Orde Lama ketika politik multi partai menyebabkan
energi terkuras untuk bertikai. Gaya kepemimpinan tegas seperti yang dijalankan
Suharto pada masa Orde Baru oleh Kwik Kian Gie diakui memang dibutuhkan untuk
membenahi perekonomian Indonesia yang berantakan di akhir tahun 1960.Namun,
dengan menstabilkan politik demi pertumbuhan ekonomi, yang sempat dapat
dipertahankan antara 6%-7% per tahun, semua kekuatan yang berseberangan dengan
Orde Baru kemudian tidak diberi tempat.
·
Dampak
Positif Kebijakan ekonomi Orde Baru :
1. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
karena setiap program pembangunan pemerintah terencana dengan baik dan
hasilnyapun dapat terlihat secara konkrit.
2. Indonesia mengubah status dari
negara pengimpor beras terbesar menjadi bangsa yang memenuhi kebutuhan beras
sendiri (swasembada beras).
3. Penurunan angka kemiskinan yang
diikuti dengan perbaikan kesejahteraan rakyat.
4. Penurunan angka kematian bayi dan
angka partisipasi pendidikan dasar yang semakin meningkat.
·
Dampak
Negatif Kebijakan ekonomi Orde Baru :
1. Kerusakan serta pencemaran
lingkungan hidup dan sumber daya alam
2. Perbedaan ekonomi antardaerah,
antargolongan pekerjaan, antarkelompok dalam masyarakat terasa semakin tajam.
3. Terciptalah kelompok yang
terpinggirkan (Marginalisasi sosial)
4. Menimbulkan konglomerasi dan bisnis
yang erat dengan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme)
5. Pembagunan yang dilakukan hasilnya
hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil kalangan masyarakat, pembangunan
cenderung terpusat dan tidak merata.
6. Pembangunan hanya mengutamakan
pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi kehidupan politik, ekonomi, dan sosial yang
demokratis dan berkeadilan.
7. Meskipun pertumbuhan ekonomi
meningkat tapi secara fundamental pembangunan ekonomi sangat rapuh.
8. Pembagunan tidak merata tampak
dengan adanya kemiskinan di sejumlah wilayah yang justru menjadi penyumbang
devisa terbesar seperti Riau, Kalimantan Timur, dan Irian. Faktor inilahh yang
selantunya ikut menjadi penyebab terpuruknya perekonomian nasional Indonesia
menjelang akhir tahun 1997.
2. Kondisi Politik Indonesia Pada Masa Orde
Baru
Kehidupan Politik Masa Orde Baru
·
Melakukan pembaharuan menuju
perubahan seluruh tatanan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara
·
Menyusun kembali kekuatan
bangsa menuju stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan menuju
masyarakat adil dan makmur
·
Menetapkan Demokrasi Pancasila
guna melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Melaksanakan Pemilu secara teratur serta penataan pada lembaga-lembaga negara.
Politik Dalam Negeri
·
Pembentukan Kabinet Pembangunan
·
Selanjutnya setelah sidang MPRS
tahun 1968 menetapkan Suharto sebagai presiden untuk masa jabatan 5 tahun maka
dibentuklah kabinet yang baru dengan nama Kabinet Pembangunan dengan tugasnya
yang disebut dengan Pancakrida
·
Pembubaran PKI dan Organisasi
masanya
·
Penyederhanaan dan
Pengelompokan Partai Politik
·
Pemilihan Umum
·
Peran Ganda ABRI
·
Pemasyarakatan P4 (Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila)
·
Mengadakan Penentuan Pendapat Rakyat (Perpera)
di Irian Barat dengan disaksikan oleh wakil PBB pada tanggal 2 Agustus 1969.
Politik Luar Negeri
·
Kembali menjadi anggota PBB
·
Normalisasi hubungan dengan
beberapa Negara
·
Pemulihan hubungan dengan Singapura
·
Pemulihan hubungan dengan
Malaysia
·
Rakyat Sabah diberi kesempatan
menegaskan kembali keputusan yang telah mereka ambil mengenai kedudukan mereka
dalam Federasi Malaysia
·
Pemerintah kedua belah pihak
menyetujui pemulihan hubungan diplomatic
·
Peresmian persetujuan pemulihan
hubungan Indonesia-Malaysia oleh Adam Malik dan Tun Abdul Razak dilakukan di
Jakarta tanggal 11 agustus 1966 dan ditandatangani persetujuan Jakarta (Jakarta
Accord)
3. Kondisi Sosial Budaya Pada
Masa Orde Baru
Pada masa Orde Baru terdapat beberapa kebijakan pemerintah yang
bersifat diskriminatif, seperti Surat Edaran No.06/Preskab/6/67
yang memuat tentang perubahan nama. Dalam surat itu disebutkan bahwa masyarakat
keturunan Cina harus mengubah nama Cinanya menjadi nama yang berbau Indonesia,
misalnya Liem Sioe Liong menjadi Sudono Salim. Selain itu, penggunaan bahasa
Cinapun dilarang.Di masa pasca Orde Baru, partisipasi sosial kalangan etnis
Tionghoa sangat menonjol.Pada umumnya mereka aktif bergerak di bidang pendidikan
dan kesehatan.Banyak sekali orang-orang Tionghoa yang memilih profesi sebagai
guru, dosen, profesor, dokter, insinyur, pengacara, hakim, jaksa, advokat,
bahkan polisi dan tentara.Mereka mendirikan berbagai sekolah mulai dari TK
sampai SMA dan berbagai universitas.Demikian juga puluhan rumah sakit didirikan
kalangan etnis Tionghoa.Rumah sakit-rumah sakit ini didirikan dengan tujuan
sosial semata yaitu untuk memberikan bantuan medis bagi yang membutuhkan tanpa
memandang kemampuan ekonominya.Bandingkan dengan rumah sakit-rumah sakit yang
didirikan di masa Orde Baru yang bertujuan komersial semata. Selaras dengan
berlangsungnya reformasi, berbagai kegiatan sosial dilakukan oleh
organisasi-organisasi Tionghoa antara lain dalam membantu korban gempa bumi,
banjir, dan kebakaran. Demikian juga dengan kegiatan pembagian sembako dan
pakaian bekas, donor darah, khitanan massal serta pengobatan massal secara
cuma-cuma bagi kaum duafa.Di bidang pendidikan mereka banyak mendirikan
lembaga-lembaga pendidikan mulai dari kursus bahasa Inggris, Mandarin, komputer
sampai akademi dan universitas.Kalangan mudanya secara aktif mulai memasuki
bidang-bidang profesi di luar wilayah bisnis semata.Mereka sekarang secara
terbuka berusaha menjadi artis sinetron, presenter TV, peragawati, foto model,
pengacara, wartawan, pengarang, pengamat sosial/ politik, peneliti, dsbnya.Hal
ini sangat berbeda ketika rezim Orde Baru memberlakukan kebijakan
diskriminasi.Misalnya, pemberlakuan batasan 10 persen bagi etnis Cina untuk
bisa belajar di bidang medis, permesinan, sains dan hukum di universitas.
Di dalam kehidupan sosial mereka mulai membuka diri dan mau peduli
terhadap lingkungan di sekitarnya.Mereka tidak lagi menolak apabila terpilih
menjadi Ketua RT/RW dan secara aktif ikut dalam penyelengaraan Pemilu di
lingkungan tempat tinggalnya.Dalam hubungan mereka dengan negara leluhur (RRC),
pada umumnya mereka mengambil sikap bahwa hubungan tersebut hanya bersifat
kekerabatan semata.Mereka merasa telah sepenuhnya menjadi bangsa Indonesia yang
lahir, besar, dan meninggal serta dikebumikan di Indonesia. Filsafat mereka
sekarang adalah luo di sheng gen yaitu “berakar di bumi tempat berpijak”
yang dapat diartikan menetap di Indonesia selama-lamanya menggantikan ye luo
gui gen yang berarti “ibarat daun rontok kembali ke bumi”. Demikian juga
sikap pemerintah RRC yang dengan tegas menyatakan bahwa orang Tionghoa
Indonesia adalah warga Indonesia yang harus loyal kepada Indonesia, mentaati
hukum dan peraturan Indonesia serta memberikan sumbangan pada pembangunan dan
kemajuan Indonesia.Orang Tionghoa Indonesia bukan warga RRC dan tidak berada di
bawah yurisdiksi Tiongkok.
4. Bidang kesehatan
Untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia, Soeharto memulai
kampanye Keluarga Berencana
yang menganjurkan setiap pasangan untuk memiliki secukupnya 2 anak.Hal ini
dilakukan untuk menghindari ledakan penduduk yang nantinya dapat mengakibatkan
berbagai masalah, mulai dari kelaparan, penyakit sampai kerusakan lingkungan
hidup.
5. Bidang pendidikan
Dalam bidang pendidikan
Soeharto mempelopori proyek Wajib
Belajar yang bertujuan meningkatkan rata-rata taraf tamatan sekolah
anak Indonesia.Pada awalnya, proyek ini membebaskan murid pendidikan dasar dari
uang sekolah (Sumbangan Pembiayaan Pendidikan) sehingga
anak-anak dari keluarga miskin juga dapat bersekolah.Hal ini kemudian
dikembangkan menjadi Wajib Belajar 9 tahun.
E.
Akhir Masa Orde Baru
Perjalanan sejarah Orde Baru yang panjang, Indonesia dapat
melaksanakan pembangunan dan mendapat kepercayaan dari dalam maupun luar
negeri. Rakyat Indonesia yang menderita sejak tahun 1960- an dapat meningkat
kesejahteraannya. Akan tetapi keberhasilan pembangunan pada waktu itu tidak
merata karena terjadi kesenjangan sosial ekonomi yang mencolok antara si kaya
dan si miskin. Bahkan Orde Baru ingin mempertahankan kekuasaannya terus menerus
dengan berbagai cara. Hal ini menimbulkan berbagai efek negatif. Berbagai
bentuk penyelewengan terhadap nilai- nilai Pancasila dan Undang- Undang Dasar
1945 itu disebabkan oleh adanya tindak korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Sejak pertengahan tahun 1996 situasi politik di Indonesia memanas.Golongan
Karya yang berkeinginan menjadi mayoritas tunggal (Single Majority) mendapat
tekanan dari masyarakat.Masyarakat menuntut adanya perubahan di bidang politik,
ekonomi, demokratisasi dalam kehidupan sosial serta dihormatinya hak asasi
manusia.Hasil Pemilihan Umum 1997 yang dimenangkan Golkar dan menguasai DPR dan
MPR banyak mengandung unsur nepotisme.Terpilihnya Jenderal Purnawirawan
Soeharto sebagai Presiden RI banyak mendapat reaksi masyarakat.Sedangkan
pembentukan Kabinet Pembangunan VII dianggap berbau Kolusi, Korupsi, dan
Nepotisme (KKN).
Pada saat memanasnya gelombang aksi politik tersebut Indonesia
dilanda krisis ekonomi sejak pertengahan tahun 1997 sebagai pengaruh krisis
moneter yang melanda wilayah Asia Tenggara.Harga-harga kebutuhan pokok dan
bahan pangan membumbung tinggi dan daya beli rakyat rendah.Para pekerja di
perusahaan banyak yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sehingga semakin
menambah pengangguran.Hal ini diperparah lagi dengan tindakan para konglomerat
yang menyalahgunakan posisinya sebagai pelaku pembangunan ekonomi.Mereka
menambah hutang tanpa kontrol dari pemerintah dan masyarakat. Akibatnya
perekonomian mengalami krisis, nilai rupiah terhadap dollar merosot tajam
hampir Rp.15.000,00 per dollar AS. Perbankan kita menjadi bangkrut dan banyak
yang dilikuidasi. Pemerintah banyak mengeluarkan uang dana untuk Kredit
Likuidasi Bank Indonesia (KLBI) sehingga beban pemerintah sangat berat. Dengan
demikian kondisi ekonomi di Indonesia semakin parah.
Melihat kondisi bangsa Indonesia yang merosot di berbagai bidang
tersebut maka para mahasiswa mempelopori demonstrasi memprotes kebijakan
pemerintah Orde Baru dengan menentang berbagai praktek korupsi, kolusi
nepotisme (KKN).Kemarahan rakyat terhadap pemerintah memuncak pada bulan Mei
1998 dengan menuntut diadakannya reformasi atau perubahan di segala bidang baik
bidang politik, ekonomi maupun hukum.Gerakan reformasi ini merupakan gerakan
untuk menumbangkan kekuasaan Orde Baru yang telah mengendalikan pemerintahan
selama 32 tahun. Pada awal Maret 1998 Kabinet Pembangunan VIII dilantik, akan
tetapi kabinet ini tidak membawa perubahan ke arah kemajuan. Oleh karena itu
rakyat menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik di berbagai bidang
kehidupan baik bidang politik, ekonomi, hukum maupun sosial budaya.Pada awal
Mei 1998 mahasiswa mempelopori unjuk rasa menuntut dihapuskannya KKN, penurunan
harga-harga kebutuhan pokok, dan Soeharto turun dari jabatan Presiden.Ketika
para mahasiswa melakukan demonstrasi pada tanggal 12 Mei 1998 terjadilah
bentrokan dengan aparat kemananan. Dalam peristiwa ini beberapa mahasiswa
Trisakti cidera dan bahkan tewas. Di antara mahasiswa Trisakti yang tewas
adalah Elang Mulya Lesmana, Hery Hartanto, Hendriawan Sie, dan Hafidhin Royan.
Pada tanggal 13-14 Mei 1998 di Jakarta dan sekitarnya terjadi
kerusuhan massa dengan membakar pusat-pusat pertokoan dan melakukan penjarahan.
Pada tanggal 19 Mei 1998 puluhan ribu mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR.
Mereka menuntut Soeharto turun dari jabatan presiden akan tetapi Presiden
Soeharto hanya hanya mereshufle kabinet. Hal ini tidak menyurutkan tuntutan
dari masyarakat. Pada tanggal 20 Mei 1998 Soeharto memanggil tokoh-tokoh
masyarakat untuk memperbaiki keadaan dengan membentuk Kabinet Reformasi yang
akan dipimpin oleh Soeharto sendiri. Tokoh-tokoh masyarakat tidak menanggapi
usul Soeharto tersebut.Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto
menyerahkan kekuasaannya kepada wakilnya, B.J. Habibie.Selanjutnya B.J. Habibie
dilantik sebagai Presiden RI menggantikan Soeharto.Pada masa pemerintahan B.J.
Habibie kehidupan politik mengalami perubahan, kebebasan berserikat telah
dibuka terbukti banyak berdiri partai politik.Pada bulan November 1998
dilaksanakan Sidang Istimewa MPR yang menghasilkan beberapa keputusan di
antaranya adalah tentang pelilihan umum secepatnya.Selanjutnya Pemilihan Umum
setelah berakhirnya Orde Baru dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 1998 yang
diikuti oleh 48 partai politik.Pada Pemilu kali ini suara terbanyak diraih oleh
Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP).Dalam Sidang Umum MPR yang dilaksanakan pada
bulan Oktober 1999 terpilihlah K.H. Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI dan
Megawati Sukarno Putri sebagai Wakil Presiden.
Faktor
Runtuhnya Orde Baru dan Lahirnya Reformasi
·
Penyebab utama runtuhnya
kekuasaan Orde Baru adalah adanya krisis moneter tahun 1997. Sejak tahun 1997
kondisi ekonomi Indonesia terus memburuk seiring dengan krisis keuangan yang
melanda Asia. Keadaan terus memburuk. KKN semakin merajalela, sementara
kemiskinan rakyat terus meningkat. Terjadinya ketimpangan sosial yang sangat
mencolok menyebabkan munculnya kerusuhan sosial. Muncul demonstrasi yang
digerakkan oleh mahasiswa. Tuntutan utama kaum demonstran adalah perbaikan
ekonomi dan reformasi total. Demonstrasi besar-besaran dilakukan di Jakarta
pada tanggal 12 Mei 1998. Pada saat itu terjadi peristiwa Trisakti, yaitu
me-ninggalnya empat mahasiswa Universitas Trisakti akibat bentrok dengan aparat
keamanan. Empat mahasiswa tersebut adalah Elang Mulya Lesmana, Hery Hariyanto,
Hendriawan, dan Hafidhin Royan. Keempat mahasiswa yang gugur tersebut kemudian
diberi gelar sebagai “Pahlawan Reformasi”. Menanggapi aksi reformasi tersebut,
Presiden Soeharto berjanji akan mereshuffle Kabinet Pembangunan VII menjadi
Kabinet Reformasi. Selain itu juga akan membentuk Komite Reformasi yang
bertugas menyelesaikan UU Pemilu, UU Kepartaian, UU Susduk MPR, DPR, dan DPRD,
UU Antimonopoli, dan UU Antikorupsi. Dalam perkembangannya, Komite Reformasi
belum bisa terbentuk karena 14 menteri menolak untuk diikutsertakan dalam
Kabinet Reformasi. Adanya penolakan tersebut menyebabkan Presiden Soeharto
mundur dari jabatannya. Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto
mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden RI dan menyerahkan
jabatannya kepada wakil presiden B.J. Habibie. Peristiwa ini menandai
berakhirnya kekuasaan Orde Baru dan dimulainya Orde Reformasi
BAB V
INDONESIA PADA MASA REFORMASI
Gerakan
Reformasi di Indonesia yang terjadi pada pertengahan tahun 1998 di dorong oleh
banyak faktor. Faktor pertama adalah keterpurukan ekonomi sebagai akibat
terjdinya krisis moneter yang melanda kawasan Asia. Berbagai bentuk
penyimpangan ekonomi yang terjadi pada masa Orde Baru membuat krisis di
Indonesia menjadi sangat berat dan berkepanjangan. Hal tersebut menunjukan
bahwa pembangunan ekonomi oleh pemerintah RI di bawah Orde Baru rapuh. Faktor
lain adalah tersumbatnya aspirasi politik rakyat dan ketidak adilan di bidang
hukum. Kondisi ini membuat masyarakat yang di motori oleh mahasiswa berani
menyuarakan pergantian pemerintah. Meski di awalnya gerakan yang menuntut
diadakanya reformasi dihadapi oleh aparat keamanan dengan tindakan represif
sehingga jatuh korban, namun gerakan dari hari ke hari justru semakin besar.
Krisis kepercayaan rakyat terhadap pemerintah Orde Baru yang berkuasa selama 32
tahun. Keberhasilan gerakan reformasi membawa Indonesia memasuki era baru yang
lebih demokratis dan diharapkan mampu mencapai tujuan yang diinginkan.
A. BERAKHIRNYA PEMERINTAHAN ORDE BARU
1. Faktor Penyebab Munculnya Reformasi
Setelah Orde Baru memegang kekuasaan dan mengendalikan
pemerintah, muncul satu keinginan untuk terus menerus mempertahankan kekuasaanya
atau “status quo”. Hal ini menimbulkan ekses-ekses negative, yaitu semakin jauh
dari tekad awal Orde Baru tersebut. Akhirnya berbagai macam penyelewengan dan
penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila dan ketentuan-ketentuan yang terdapat
pada UUD 1945, banyak dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. Penyelewengan dan
penyimpangan yang dilakukannya itu direkayasa untuk melindungi kepentingan
penguasa, sehingga hal tersebut selalu dianggap sah dan benar, walaupun
merugikan rakyat. Adapun faktor-faktor yang mendorong munculnya reormasi, yaitu
:
a. Krisis Politik
Di bidang politik pemerintah Orde Baru memiliki cara
tersendiri untuk menciptakan stabilitas yang diinginkan, salah satunya dengan
menjadikan Golkar sebagai mesin politik. Di dalam tubuh Golkar terdapat tiga
jalur yang menjadi tumpuan kekuatanya, yaitu ABRI, birokrat dan glkar (jalur
ABG). Tidak mengherankan jika Golkar selalu menjadi pemenang dalam
pemilu-pemilu selama Orde Baru. Keberadaan Golkar yang sebenarnya diperlukan
sebagai sarana dan arena penyalur aspirasi rakyat, ternyata dijadikan sebagai
alat kekuasaan atau alat penguasa untuk melanggengkan kekuasaanya.
Sistem perwakilan pun bersifat semu, bahkan hanya dijadikan
sarana untuk melanggengkan sebuah kekuasan secara sepihak. Dalam setiap
pemilihan Presiden melalui lembaga MPR, Soeharto selalu terpilih.
Otoriterianisme merambah segenap aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara termasuk kehidupan politik. Banyak wakil rakyat yang duduk di MPR/DPR
tidak mengenal rakyat dan daerah yang diwakilinya. Hal ini terjadi karena
demokratisasi dibangun melaui KKN.
Ketidakberesan juga dapat dilihat dari konsep Dwifungsi ABRI
yang telah berkembang menjadi kekaryaan. Peran kekaryaan ABRI semakin masuk
dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bidang-bidang yang
seharusnya masyarakat berperan lebih besar ternyata ditempati oleh personil
TNI/Polri seperti jabatan lurah, bupati, walikota dan gubernur pada masa Orde
Baru banyak diduduki oleh militer. Dunia bisnispunbahkan tak luput dari
intervensi TNI/Polri.
Keadaan seperti ini mengakibatkan munculnya rasa tidak
percaya kepada institusi pemerintah, DPR dan MPR. Ketidakpercayaan itulah yang
mendorong munculnya gerakan reformasi. Kaum reformis yang dipelopori oleh
kalangan mahasiswa yang didukung para dosen dan rektornya mengajukan tuntutan
untuk mengganti presiden, reshuffle kabinet
dan menggelar Sidang Istimewa MPR serta melaksanakan Pemilu secepatnya. Gerakan
reformasi menuntut untuk dilakukan reformasi total disegala bidang, termasuk keanggotaan
DPR dan MPR yang dipandang sarat dengan nuansa KKN.
Gerakan reformasi juga menuntut agar dilakukan pembaharuan
terhadap “lima paket undang-undang politik yang dianggap sebagai sumber
ketidakadilan” yaitu :
Ø UU No. 1 tahun 1985 tentang pemilu
Ø UU No. 2 tahun 1985 tentang Susunan,
Kedudukan, Tugas dan Wewenang DPR/MPR
Ø UU No. 3 tahun 1985 tentang Partai
Politik dan Golongan Karya
Ø UU No. 5 tahun 1985 tentang
Referendum
Ø UU No. 8 tahun 1985 tentan
Organisasi Massa
Setahun sebelum pemilihan umum tahun 1997 diselenggarakan
pada bulan mei, situasi politik di Indonesia mulai memanas. Pemerintahan Orde
Baru yang didukung oleh Golkar berusaha untuk memenangkan Pemilu secara mutlak
seperti pemlu-pemilu sebelumnya. Sementara itu tekanan-tekanan terhadap
pemerintahan Orde Baru di masyarakat semakin berkembang biak dari kalangan
politisi, cendekiawan dan mahasiswa. Tuntutan masyarakat terhadap perubahan
kebijakan pemerintah tentang masalah politik, ekonomi dan hukum terus bergulir
seperti bola salju. Keberadaan partai-partai yang ada di legislative seperti
PPP, GOLKAR dan PDI dianggap tidak mampu menampung dan memperjuangkan aspirasi
rakyat.
Kondisi dan situasi di tanah air semakin memanas setelah
terjadi peristiwa kelabu pada “27 Juli 1996” yang berawal dari adanya konflik
internal di tubuh PDI. Peristiwa tersebut berupa penyerangan kantor pusat PDI
yang diduduki oleh kubu Megawati oleh
kelompok PDI yang dipimpin oleh Suryadi.
Bentrokan kedua kubu tersebut menimbulkan korban baik harta maupun jiwa.
Sepanjang tahun 1996 terjadi pertikaian sosial dan politik
di dalam kehidupan masyarakat, seperti
pada bulan Oktober 1996 terjadi kerusuhan di Situbondo (Jawa Timur), bulan
Desember 1996 terjadi kerusuhan di Tasikmalaya (Jawa Barat) dan di Sanggau Ledo
(Kalimantan Barat) yang meluas ke Singkawang dan Pontianak. Terjadinya
ketegangan politik menjelang pemilihan umumtahun 1997 telah menjadi pemicu terjadinya
kerusuhan baru yaitu konflik antar agama dan konflik antar etnis yang berbeda.
Pada bulan Maret 1997 terjadi kerusuhan di Pekalongan dan meluas ke berbagai
wilayah di Indonesia. Menjelang akhir kampanye pemilihan umum 1997 meletus
kerusuhan di Banjarmasin yang memakan banyak korban jiwa.
Pemilu tahun 1997 dimenangkan secara mutlak oleh Golkar, PPP
berhasil menambah kursi, sementara suara PDI menurun secara drastis. Kemenangan
Golkar tentu saja kembali menghantarkan Soeharto mejadi Presiden RI untuk priode
1998 – 2003. Namun dikalangan masyarakat yang dimotori oleh para mahasiswa
berkembang satu arus yang sangat kuat menolak pencalonan kembali Soeharto
menjadi presiden. Akibatnya timbul tekanan terhadap kepemimpinan Soeharto yang
datang dari para mahasiswa dan kalangan intelektual. Di samping itu, larangan
beroposisi terhadap pemerintah telah menimbulkan penculikan-penculikan terhadap
para aktivis mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
b. Krisis Hukum
Pelaksanaan hukum di Indonesia pada masa pemerintahan Orde
Baru terdapat banyak ketidakadilan. Misalnya, kekuasaan kehakiman yang dalam
pasal 24 UUD 1945 dinyatakan sebagai badan yang memiliki kekuasaan yang bebas
dan terlepas dari kekusaan pemerintah (independen). Akan tetapi dalam kenyataanya
kekuasaan kehakiman berada dibawah kekuasaan pemerintah, sehingga pengadilan
menjadi lembaga yang sulit untuk memberi keadilan bagi rakyat. Jadi dapat
dikatakan selam pemerintahan Orde Baru hakim-hakim menjadi pelayan para
penguasa, bahkan hukum sering dijadikan alat untuk membenarkan tindakan dan
kebijakan pemerintah atau sering terjadi rekayasa dalam proses peradilan
apabila proses tersebut menyangkut diri penguasa, keluarga dan kerabat atau
pejabat negara. Hal ini dapat dilihat pasca jatuhnya Presidan Soeharto, hukum
tidak bisa menjerat para konglomerat dan politisi nakal yang telah menggunakan
uang rakyat. Hal ini jelas menunjukan bahwa hukum telah diciptakan untuk
keuntungan pemerintah yang berkuasa.
c. Krisis Ekonomi
Krisis moneter yang melanda negar-negara di kawasan Asia
Tenggara sejak Juli 1996, juga mempengaruhi perkembangan perekonomian di
Indonesia. Perekonomian yang dibangun pemerintah Orde Baru ternyata rapuh dan
tak mampu menahan badai krisis moneter tersebut. Di pasaran mata uang dunia
nilai rupiah terus merosot terhadap dolar Amerika. Sebagai gambaran, pada tahun
1996 nilai rupiah terhadap dollar adalah Rp. 6.000 per $ US dan pada bulan
Desember 1997 rupiah terpuruk hingga posisi Rp. 6.400 per $ US. Memasuki tahun
1998 kemerosotan nilai rupiah semakin drastis. Pada tanggal 13 April nilai
rupiah mencapai Rp. 8.000 per $ US, pada tanggal 17 Mei rupiah mencapai Rp.
12.800 per $ US, bahkan dalam perdagangan valuta asing nilai rupiah terperosok
dalam Rp. 16.000 per $ US.
Krisis moneter memicu terjadinya kemerosotan ekonomi secara
meluas. Perbankan nasional terpuruk dan banyak bank beku operasi (BBO). Dunia
usaha, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM), tidak berkutik dan banyak
gulung tikar. Pemutusan hubungan kerja (PHK) tampak terjadi di banyak tempat.
Harga sembilan bahan kebutuhan pokok (Sembako) yang menjadi kebutuhan
masyarakat sehari-hari melambung tinggi, bahkan sempat menjadi kelangkaan.
Kelaparan dan kekurangan makanan mulai melanda masyarakat,
seperti terjadi di wilayah Irian Barat (Papua). Nsa Tenggara Timur dan termasuk
di beberapa daerah di Pulau Jawa. Sementara itu, untuk mengatasi kesulitan
moneter, pemerintah meminta bantuan IMF. Namun, kucuran dana dari IMF yang
sangat diharapkan oleh pemerintah Indonesia belum terealisasi, walupun pada
tanggal 15 Januari 1998 Indonesia telah menandatangani 50 butir kesepakatan (Letter of
intent atau LOI) dengan IMF.
Sebenarnya, pada saat yang bersamaan krisis moneter terjadi
pula di beberapa negara. Krisis ini merupakan imbas dari ekonomi global yang
diduga di sebabkan oleh perilaku spekulan. Krisis moneter terjadi di Korea
Selatan, Filipina, Thailand, malaysia dan Indonesia. Jika dibandingkan dengan
negara-negara Asia tersebut, Indonesia sangat merasakan dampak paling buruk.
Hal ini disebabkan oleh rapuhnya fondasi perekonomian Indonesia. Crony capitalism, demikian istilah untuk
meyebut pembangunan ekonomi Indonesia selama perjalanan Orde Baru, telah
membuat struktur ekonomi menjadi rapuh terhadap gejolak-gejolak eksternal.
Krisis moneter dan ekonomi merebak semakin meluas dan
menjadi krisis multidimensional. Di tengah situasi semakin melemahnya nilai
rupiah, aksi massa, aksi buruh, dan aksi mahasiswa juga terjadi di mana-mana.
Merak menuntut agar pemerintahan segera mengadakan pemulihan ekonomi, sehingga
harga-harga sembako turun, tidak lagi ada PHK dan lain sebagainya.
“Faktor
lain yang menyebabkan krisis ekonomi” yang melanda Indonesia tidak terlepas
dari masalah :
v Utang Luar Negeri Indonesia
Utang luar negeri Indonesia tidak sepenuhnya utang negara,
namun sebagian merupakan utang swasta. Utang yang menjadi tanggungan negara
hingga 6 Februari 1998 yang disampaikan Radius Prawira pada Sidang Dewan
Pemantapan Ketahanan Ekonomiyang dipimpin Presiden Soeharto di Bina Graha,
mencapai 63,462 milliar dollar Amerika Serikat, sedangkan utang pihak swasta
mencapai 73,962 milliar dollar Amerika Serikat. Ketika krisis moneter melanda
dan nilai rupiah jatuh kepercayaan luar negeri pada Indonesia menjadi tipis
akibat utang luar negeri tersebut. Para pedagang luar negeri tidak percaya lagi
pada importer Indonesia yang diangga tidak akan mampu lagi membayar barang
dagangan yang mereka jual. Hampir semua negara tidak menerima letter of credit
(L/C) dari Indonesia. Keadaan ini juga dipengaruhi oleh situasi perbankan
Indonesia yang dianggap tidak sehat karena adanya kolusi dan korupsi serta
tingginya kasus kredit macet.
v Penyimpangan Pasal 33 UUD 1945
Pemerintah Orde Baru memiliki tujuan menjadikan Indonesia
sebagai negara industri, namun tidak mempertimbangkan kondisi sebenarnya di
masyarakat. Masyarakat Indonesia merupakan
agraris dengan tingkat penidikan rata-rata masih rendah. Maka cukup
sulit mengubah Indonesia menjadi negara industri dan rendahnya tingkat pendidikan
sebagian besr masyarakat Indonesia menyebabkan mereka sulit memperoleh
kesempatan kerja.
Sementara itu, pengaturan ekonomi pada masa pemerintahn Orde
Baru sudah jauh menyimpang dari sistem perekonomian Pancasila. Dalm pasal 33
UUD 1945 tercantum bahwa “dasar demokrasi
ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau
kepemilikan anggota-anggota masyarakat”. Sebaliknya sistem ekonomi yang
berkembang pada masa Orde Baru adalah sistem ekonomi kapitalis yang dikuasai
oleh para konglomerat dengan berbagi bentuk monopoli,
oligopoly, dan diwarnai dengan korupsi
dan kolusi.
v Pola Pemerintahan Sentralistis
Sistem pemerintahan yang dilaksanakan oleh pemerintah Orde
Baru bersifat sentralistis yakni semua bidang kehidupan bernegara diatur secara
sentral dari pusat pemerintahan yaitu Jakarta. Oleh sebab itu pemerintah pusat
sangat menentukan dalam berbagai kehidupan masyarakat. Hal tersebut juga dalam
pengelolaan kekayaan daerah, dimana sebagian besar kekayaan dari daerah-daerah
diangkut ke pusat. Demikian juga untuk bidang pers yang polanya adalah
sentries, karena pemberitaan dari Jakarta (pusat) harus menjadi berita utama.
Sifat emberitaa juga merupakan pemberitaan satu arah.
d. Krisis Kepercayaan
Krisis moneter, merebaknya KKN, ketidakadilan dalam hukum, ketimpangan
ekonomi atau bisa disebut sebagai krisis multidimensional yamg melanda bangsa
Indonesia telah mengurangi kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Orde Baru
yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Di saat krisis moneter melanda Indonesia
ternyata pemerintah tidak dapat berbuat banyak sehingga harga-harga sembako
yang melambung tinggi bahkan langka membuat masyarakat semakin tidak percaya
pada pemerintah. Di saat ekonomi sulit pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM.,
maka rakyat menjadi semakin rapuh kepercayaannya pada kepemimpinan Presiden
Soeharto. Maka terjadilah demonstrasi-demonstrasi dari para mahasiswa yang
puncaknya terjadi Semanggi yaitu tewasnya empat mahasiswa Trisakti oleh
terjangan peluru dari aparat keamanan yang bermaksud untuk membubarkan
demonstrasi mahasiswa.
Tragedi Semanggi mendorong munculnya solidaritas di kalangan masyarakat dan kampus yang menentang
kebijakan pemerintah yang tidak demokratis dan tidak berpihak pada rakyat.
Tragedi ini juga menyulut terjadinya kerusuhan dan pejarahan yang terjadi “13
dan 14 Mei 1998” yang terjadi di Jakarta dan Solo. Kerusuhan menimbulkan banyak
korban baik harta maupun jiwa terutama dari warga keturunan Cina yang menjadi
sasaran amuk massa.
B. PERKEMBANGAN POLITIK DAN EKONOMI
PADA MASA REFORMASI
1. Munculnya Gerakan Reformasi
Reformasi merupakan suatu perubahan tatanan perikehidupan
lama dengan perikehidupan barudan secara hukum menuju kearah perbaikan.
Reformasi merupakan formulasi menuju Indonesia baru dengan tatanan baru.
Tatanan gerakan reformasi pada mulanya disuarakan dari kalangan kampus yaitu
mahasiswa, dosen maupun rektor. Situasi politik dan ekonomi Indonesia yang
demikian terpuruk mendorong kalangan kampus tidak hanya bersuara melalui mimbar
bibas di kampus, namun akhirnya mendorong mahasiswa turun ke jalan. Gerakan
reformasi yang dipelopori oleh para mahasiswa tersebut mengusung enam agenda
reformasi yaitu:
a.
Adili
Soeharto dan krono-kroninya
b. Amandemen UUD 1945
c.
Penghapusan
Dwifungsi ABRI
d. Otonomi daerah yang seluas-luasnya
e.
Supremasi
hukum
f.
Pemerintahan
yang bersih dari KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme)
2. Kronologi Reformasi
Pada tanggal 29 Mei 1997, Indonesia melaksanakan Pemilu yang
dimenangkan secara mutlak oleh Golkar. Awal Maret 1998 MPR hasil Pemilu
melaksanakan Sidang Umum dan memilh Soeharto kembali menjadi Presiden RI dan
B.J. Habiebie sebagai Wakil Presiden. Selanjutnya Presiden Soeharto membentuk
Kabinet Pembangunan VII yang memiliki tugas untuk menyelesaikan PJPTI I dan
mempersiapkan Indonesia untuk lepas landas menuju negara industri. Namun
ternyata perekonomian Indonesia mengalami kemerosotan dan diperparah krisis
moneter dan masalah sosial yang semakin menumpuk.
Memasuki bulan Mei 1998, para mahasiswa yang didukung oleh
dosen diberbagai daerah mulai menggelar demonstrasi dan aksi keprihatinan yang
menuntut turunya harga sembako, penghapusan KKN dan turunya Soeharto dari kursi
kepresidenan.gerakan reformasi secara kronologi diawali dari
peristiwa-peristiwa sebagai berikut:
a.
Pada 22
Januari 1998 rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat. Nilai mata uang
rupiah menembus angka Rp. 17.000 per dollar.
b. Pada 12 Februari 1998 Presiden
Soeharto mengangkat Wiranto menjadi Panglima ABRI.
c.
5 Maret
1998 Ketua Senat “Mahasiswa Universitas Indonesia” (MUI) ke gedung DPR/MPR
untuk menyampaikan sumbangan pikiran mengenai reformasi. Perwakilan mahasiswa
UI diterima oleh fraksi ABRI (TNI).
d. 10 Maret 1998 Soeharto kembali
terpilih sebagi Presiden yang ketujuh kali didampingi oleh B.J. Habibie sebagai
Wapres.
e.
4 Mei 1998
Harga BBM melonjak 71% yang diikuti dengan kenaikan tarif transportasi. Tiga
hari kemudian terjadi kerusuhan di Medan yang menelan korban enam orang tewas.
f.
9 Mei 1998
Presiden Soeharto berangkat ke Kairo Mesir untuk menghadiri pertemuan
negara-negara berkembang G-15.
g. 12 Mei 1998 di Jakarta terjadi aksi
unjuk rasa oleh para mahasiswa. Di dalam aksi unju rasa di Universitas Trisakti
ini dipihak mahasiswa jatuh korban 4 (empat) orang yang meninggal. Keempat
mahasiswa itu adalah “Elang Mulia Lesmana, Hery Hartanto, Hendriawan Sie dan
Hafidin Royan”. Selain itu terdapat korban luka-luka yang terdiri atas puluhan
mahasiswa dan rakyat yang turut dalam unjuk rasa.
h. 13 Mei 1998 kerusuhan massa terjadi
di Jakarta dan Solo. Presiden Soeharto yang sedang menghadiri pertemuan
negara-negara berkembang G-15 di Mesir
memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Etnis thionghoa mulai eksodus
meninggalkan Inonesia.
i.
14 Mei
1998 Demonstrasi ian bertambah besar dan merebak dihampir berbagai kota di
Indoneisa. Para demonstran mengepung dan menduduki gedung-gedung DPRD.
j.
17 Mei
1998 di hotel Wisata, Jakarta, Nurcholish Madjid dalam jumpa pers menggulirkan
ide untuk mempercepat pemilu (paling lambat tahun 2000). Menteri Sekretaris
Negara pada saat itu adalah Saaidilah Mursjid tertarik dengan ide itu.
k. 18 Mei 1998 pukul 15.00 WIB Saadilah
Mursjid mengundang Nurcholish madjid ke kantor Sekretaris Negara untuk
menjelaskan gagasanya. Pada pukul 20.30 Nurcholish Madjid bertemu dengan
Presiden Soeharto, ia mengatakan bahwa rakyat menghendaki Presiden Soeharto
turun dar kursi kepresidenan. Presiden Soeharto menanggapi dengan menyatakan
bersedia untuk mundur dan meminta untuk bertemu dengan beberapa tokoh dari
berbagai kalangan.
l.
19 Mei
1998 Presiden Soeharto mengumumkan akan membentuk komite Reformasi, mereshuffle
kabinet dan pemilu akan dipercepat.
m. 20 Mei 1998, perwakilan 27 senat
mahasiswa perguruan tinggi seluruh Indonesia berdialog dengan pimpinan DPR
untuk meminta kepastian kapan Presiden Soeharto mundur. Harmoko sebagai
pemimpin DPR/MPR memberikan jawaban dalam waktu secepatnya, mungkin jum’at (22
Mei 1998). Kalau sampai hari itu tidak ada tanggapan, maka pimpinan majelis
akan mengundang pimpinan fraksi untuk membahas kemungkinan pelaksanaan Sidang
Istimewa MPR.
n. 21 Mei 1998, Soeharto mengumumkan
pengunduran dirinya dan acara dilanjutkan dengan pelantikan B.J. Habibie
menjadi Presiden menggantikan Soeharto.
C.PERKEMBANGAN POLITIK SETELAH 21 MEI 1998
1. Pengangkatan Habibie menjadi Presiden
Republik Indonesia
Setelah
B.J Habibie dilantik menjadi presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 mei
1998 dan sesuai janji yang di ucapkannya, maka tugasnya adalah memimpin bangsa
Indonesia dengan memperhatikan secara sungguh-sungguh aspirasi masyarakat yang
berkembang dalam pelaksanaan refirmasi. Habibie bertekad untuk mewujudkan
pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN.
Adapun langkah-langkah yang di
lakukan oleh Habibie yaitu:
a. Pembentukan
Kabinet
Pada
tanggal 22 mei 1998 Presiden ke-3 Indonesia Prof .B.J. Habibie telah membentuk
cabinet baru yang di namakan Kabinet Reformasi Pembangunan. kabinet itu terdiri
atas 16 menteri, yang meliputi perwakilan dari militer (ABRI), Golkar, PPP dan PDI.
Pada
tanggal 25 mei 1998 diadakan pertemuan pertama kabinet Habibie, membentuk
komite untuk merancang undang-undang politek yang lebih longgar, menjadikan
pemilu dalam waktu setahun dan menyetujui pembatasan masa jabatan presiden dua
periode (dua kali lima tahun). Upaya tersebut mendapat sambutan positif.
b. Upaya
Perbaikan Ekonomi
Habibie
menjadi presiden diwarisi krisis ekonomi yang cukup parah. Agar bangsa Indonesia
dapat segera keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan Habibie berusaha
melakuakn langkah-langkah untuk memperbsiki ekonomi. Langkah-langkah tersebut
diantara sebagai berikut:
a.
Merekapitulasi perbankan
b.
Merekonstruksi perekomonian nasional
c.
Melikuidasi beberapa bank bermasalah
d.
Menaikan nilai tukar rupiah terhadap
dolar Amerika hingga di bawah 10.000,-
e.
Mengimplementasikan reformasi
ekonomi yang di syaratkan IMF.
c.
Reformasi di Bidang Politik
Kedudukan
B.J Habibie sebagai Preside nada yang pro dan ada yang kontra. Hal tersebut
merupakan kewajaran dalam kehidupan berpolitik di suatu Negara. Di era
reformasi presiden Habibie mengupayakan politik di Indonesia dalam kondisi yang
trasparan dan merencanakan pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur
dan adil sehingga dapat di bentuk lembaga tinggi Negara yang betul-betul
representative.
Dalam
pemilu yang di selenggarakan presiden Habibie terntata rakyat dapat menyalurkan
aspirasinya sehingga bermunculan partai-partai politik sebanyak 45 partai. Hal
ini berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya hanya terdiri dari tiga orsospol
peserta pemilu. Di bidang politik Habibie juga membebaskan narapidana politik
di antaranya yaitu sri Bintang Pamungkas, manan anggota DPT yang masuk penjara
karena mengkritik Presiden Soeharto, serta Muhtar Pakpahan , pimpinan buruh
yang di jatuhi hukuman karena di tuduh memicu kericuhan di Medsn than 1994.
Disamping itu, Habibie juga mencabut larangan berdirinya serikat-serikat buruh
independen.
d. Kebebasan
Menyampikan Pendapat
Pada
masa pemerintaha Habibie, orang bebas mengeluarkan pendapat di muka umum.
Presiden Habibie memberikan ruang bagi siapa saja yang ingin menyampaikan
pendapat, baik dalam bentuk rapat-rapat umum ataupun unjukrasa atau
domenstrasi. Namun khusus demonstrasi, setiap organisasi atau lembaga yang
ingin melakukan demostrasi hendaknya mendapatkan izin dari kepolisian dan
menentukan tempat untuk demostrasi tersebut. Hal ini dilakukan Karena pihak
yang menyatakan bahwa “untuk kepentingan umumpejabat polri dapat melaksanakan
tugas dan kewenangannya dapat bertindak sesuai penilaiannya sediri.
Untuk
menjamin kepastian hokum bagi para
pengunjuk rasa, pemerintah bersama DPR berhasil merampungkan perundang undangan
yang mengatur tentang pengujuk rasa atau demonstrasi. Undang undang yang
berkaitan dengan hal itu adalah UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan
menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
Adanya
undang-undang tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memuli pelaksanaan system
demokrasi yang sesungguhnya, yaitu dengan memberikan kelonggara atau kebebasan
kepada masyarakan untuk mengemukakan apa yang di inginkan.
e.
Refomasi di Bidang
Hukum
Pemerintahan
Presiden Habibie bertekad melakukan refomasi hokum sesuai dengan aspirasi yang
berkembamg di masyarakat. Salah satu tahap untuk reformasi hokum, beliau
melakukan rekontruksi pembongkaran atas watak bangunan hokum Orde Baru.
Pembongkaran atas aturan hokum berupa undang-undang, peraturan pemerintah,
maupun peraturan meteri yang di buat swlama dasawarsa terakhir memerlukan kerja
keras dan ekstra hati-hati dari pengambilan keputusan. Langkah itu di maksudkan
untuk menghindari adanya sekedar pergantian kemasan hokum, tetapi isi dan
substansinya sama.
f.
Masalah dwifungsi ABRI
Menanggapi
munculnya gugatan terhadap peran Dwifingsi ABRI menusul lengsernya Soeharto
dari kursi kepresidenan, ABRI
bergegas-gegas melakukan reorientasi dan reposisi peran sospolnya.
ABRI
berkehendak mereformasi diri, yang sudah dilakukannya dengan dirumuskannya
paradigma baru, termasuk keinginan menarik deri dari peran berbagai posisi
sipilnya.
Namun
di banyak kalangan, termasuk para mahasiswa belum merasa puas dengan paradigm
baru yang di rumuskan ABRI. Mereka tetap menuntut di hapuskannya dwifungsi ABRI
secara menyeluruh, termasuk perannya dalam mengambil keputusan di DPR.
Di
era reformasi ABRI yang duduk dalam MPR jumlahnya sudah di kurangi yaitu dari
75 orang menjadi 38 orang. ABRI yang semula terdiri atas empat angkatan
termasuk pori, mulai tanggal 5 mei 1999 polri resmi memisahkan diri dari ABRI
menjadi Kepolisian Negara. Istilah ABRI berubah menjadi TNI, yang terdiri dari
angkatan laut, darat dan udara.
g. Sidang Istimewa MPR
Siding
istimewa MPR adalah salah satu jalan untuk membuka kesempatan menyampaikan
aspirasi rakyat. Dalamsidang istimewa yang di selenggarakan tanggal 10-13
November 1998 MPR di harapkan benar-benar menyuarakan aspirasi masyarakat
dengan debat yang lebih segar, lebih terbuka dan bisa menampung pendapat dari
berbagai lapisan masyarakat.
Pada
saat itu, siding istimewa MPR menghasilkan 12 ketetapan , yaitu sebagai
berikut:
1)
Enam buah ketetapan baru yang di
buat:
(a)
Pokok-pokok Reformasi Pembangunan
dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi kehidupan Nasional sebagai haluab
Negara (Tap. No. X/MPR/1998)
(b)
Penyelenggaraan Negara yang bersih
dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme (Tap. No. XI/MPR/1998).
(c)
Pembatasan masa Jabatan Presiden
Republi Indonesia (Tap. No. XII/MPR/1998).
(d)
Penyelenggaraan Otonomi Daerah :
Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang berkeadilan,
serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam rangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia. (Tap. No. XV/MPR/1998).
(e)
Politik ekonomi dalam rangka
Demokrasi Ekonomi (Tap. No. XVI/MPR/1998).
(f)
Hak Asasi Manusia (Tap. No.
XVII/MPR/1998).
2)
Dua buah ketetapan yang mengubah dan
menambah ketetapan yang lama:
(a)
Ketetapan tentangv Perubahan dan
Tambahan atas ketetapan MPR RI No. I/MPR/1983 tentang peraturan tata tertib MPR
RI sebagaimana telah beberapa kali diubah dan ditambahkan terakhir dengan
ketetapan MPR RI No. I/MPR/1998 (Tap. No. VII/MPR/1998).
(b)
Tap MPR No.XIV/MPR/1998 yang
mengubah dan menambah atas Tap MPR No. II/MPR/1998 tentang Pemilu.
3)
Empat buah ketetapan yang mencabut
berbagai ketetapan MPR RI, yang terdahulu/lama:
(a)
Tap MPR No. III/V/MPR/1998 yang
mencabut Tap MPR No. IV/MPR/1983 tentang Referendum.
(b)
Tap MPR No. IX/MPR/1998 yang
mencabut Tap MPR No. II/MPR/1998 tentang GBHN.
(c)
Tap MPR No. XII/MPR/1998 yang
mencabut Tap MPR No. V/MPR/1998 tentang Pemberian Tugas dan Wewenang Khusus
kepada Presiden/Mandataris MPR RI dalam rangka Penyuksesan dan Pengamanan
Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila.
(d)
Tap MPR No. XVIII/MPR/1998 yang
mencabut Tap MPR No. II/MPR/ 1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
(Ekaprasetia Pancakarsa) dan penetapan tentang Penegaraan Pancasila sebagai
Dasar Negara.
h. Pemilihan
Umum 1999
Untuk
melaksanakan pemilihan umum sebagamana yang diamanatkan dalam ketetapan MPR,
Presiden Habibie menetapkan tanggal 7
Juni 1999 sebagai waktu pelaksanaannya. Untuk itu maka
Di
cabutlah lima paket undang-undang tentang politik. Yaitu undang-undang tentang
pemilu, susunan, kedudukan dan wewenag DPR/MPR, prtai politik dan Golkar,
referendum serta organisasi masa.
Sebagai
gantinya, DPR berhasil menetapkan tiga undang-undang politik baru. Ketiga
undang-undang yang diratifikasi pada 1 Februari 1999 yang di tanda tangani
Habibie itu adalah undang-undang partai politik, pemilihan umum dan susunan
serta kedudukan MPR, DPR dan DPRD.
Larangan
undang-undang politik tersebut menggairahkan kehdupan politik di Indonesia. Hal
itu memicu munculnya prtai-prtai politik yang jumlahnya cukup banyak. Tidak
kurang dari 112 partai politik lahir. Dari sekian banyak itu, hanya 48 partai
yang berhak mengikuti pemilihan umum.
Kampanye
pemilu yang diikuti oleh 48 partai di gelar di seluruh wilayah Indonesia,
dengan pengaturan jadwal pencetakan suara, KPU kembali melakukan pengunduran
agenda. Pengunduran agenda di sebabkan oleh kondisi lapangan yang tidak
memungkinkan terlaksananya pengajuan calon anggota DPR, DPRD I, DPRD II secara
cepat. Factor utamanya karena kendala transportasi daerah daera terpencl di
Indonesia.
Pelaksanaan
pemilihan umum di perkirakan rusuh, ternyata tidak menjadi kenyataan. Selama
pemungutan suara berlangsung yaitu pada 7 Juni 1999 kondisi Indonesia relatife
aman. Pemungutan suara berakhir, KUP kembali melakukan pengunduran jadwal
penghitungan akhir.
Setelah
dilakukan penghitungan akhir oleh KPU muncullah lima partai yang memperoleh
suara terbanyak yaitu:
1)
PDI perjuangan
2)
Partai Golkar
3)
PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
4)
PPP (Partai Persatuaan Pembangunan)
5)
PAN (Partai Amanat Nasional)
Sidang Umum MPR Hasil Pemilihan Umum 1999
Setelah
KPU berhasil menetapkan jumlah anggota DPR dan MPR berdasarkan hasil pemilu
tahun 1999, serta berhasil menetapkan jumlah wakil-wakil Utusan Golongan dan
Utusan Daerah maka MPR segera melaksanakan sidang. Sidang Umum MPR tahun 1999
diselenggarakan mulai tanggal 1 sampai dengan tanggal 21 Oktober 1999. Dalam
sidang umum ini berhasil mengukuhkan Amien Rais sebagai ketua MPR dan Akbar
Tanjung sebagi ketua DPR.
Dalam
Sidang Paripurna MPR XII tanggal 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato
pertanggungjawaban dari Presiden Habibie melalui mekanisme voting dengan 355
suara menolak, 322 menerima, 9 abstein dan 4 suara tidak sah. Penolakan pidato
pertanggungjawaban Presiden Habibie tersebut menutup peluang dari Habibie untuk
maju ke bursa pemilihan presiden di sidang umum MPR.
Setelah
pidato pertanggungjawaban Habibie ditolak, kemudian muncul tiga nama calon
Presiden yang diajukan oleh fraksi-fraksi di MPR, yaitu Abdurrahman Wahid (Gus
Dur), Megawati Soekarnoputri dan Yusril Ihza Mahendra. Namun di saat
detik-detik menjelang dilaksanakan pemilihan Presiden melalui voting, Yusril
Ihza Mahendra menyatakan mundur dari bursa pencalonan Presiden. Oleh karena itu
tinggal dua calon presiden yang maju yaitu Megawati Soekarnoputri dan
Abdurrahman Wahid. Mengingat tidak ada partai yang menang secara mutlak maka
pemilihan presiden menjadi seru dan berlangsung panas.
Daari
hasil pemilihan presiden melalui voting, Abdurrahman Wahid terpilih menjadi
presiden dengan mendapat 373 suara, mengungguli Megawati yang meraih 313 suara.
Terpilihnya Abdurrahman Wahid tidak terlepas dari maneuver politik yang
digalang oleh Amien Rais melaui Poros Tengah yang terdiri dari PAN, PK, PBB dan
PPP. Kenyataan pahit dari kubu Megawati ini membuat massa pendukungnya yaitu
warga PDI Perjuangan kecewa, sehingga meletuslah kerusuhan yang terjadi di Solo
dan Bali.
Selanjutnya
dilaksanakan pemilihan wakil presiden dengan calon Megawati dan Hamzah Haz yang
karena situasi dan kondisi akhirnya Megawati memperoleh suara yang lebih
unggul. Dengan terpilihnya Megawati menjadi Wakil Presiden maka kerusuhan
berhasil diredakan. Kemudian pada tanggal 25 Oktober 1999 Presiden Abdurrahman
Wahid dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri berhasil membentuk Kabinet yang
diberi nama Kabinet Persatuan Nasional. Susunan awal dari Kabinet Persatuan
Nasioanal adalah sebagai berikut :
Menteri Koordinator Bidang Politik
dan Keamanan : Jendral Wiranto (13 Februari dinonaktifkan
Presiden Abdurrahman Wahid dan digantikan oleh Soerjadi Soedirdja)
1.
Menteri
dalam negeri : Letjend. TNI Soerjadi Soerdirdja
2.
Menteri
luar negeri : Dr. Alwi Shihab
3.
Menteri
pertahanan : Prof. Dr. Juwono Sudarsono
4.
Menteri
hukum dan perundang-undangan : Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H. M.Sc
Menteri
koordinator bidang ekonomi, keuangan dan industri :
Drs. Kwik Kian Gie
5.
Menteri
keuangan : Dr. Bambang Sudibyo, M.B.A
6.
Menteri
pertambangan dan energi : Letjend. TNI Soesilo Bambang Yudhoyono
7.
Menteri
perindustrian dan perdagangan : Drs.
H.M. Yusuf Kalla
8.
Menteri
pertanian : Dr. Ir. M. Prakosa, Ph.D
9.
Menteri
kehutanan dan perkebunan : Dr. Ir. Nurmahmudi Ismail, M.Sc
10.
Menteri
perhubungan : Letjend. TNI Agum Gumelar
11.
Menteri explorasi
laut dan perikanan : Ir. Sarwono Kusumaatmadja
Menteri
koordinator bidang kesejahteraan rakyat
dan
pengentasan kemiskinan : Dr. Hamzah Has
12.
Menteri
tenaga kerja : Drs. Bomer Pasaribu, S.H.
13.
Menteri
kesehatan : Dr. Achmad Suyudi, M.Ph.
14.
Menteri
pendidikan nasional : Dr. Yahya Muhaimin
15.
Menteri
agama : Drs.K.H.M. Tolchah Hasan
16.
Menteri
pemukiman dan pengembangan wilayah : Ir.
Erna Witoelar
Menteri
negara
17.
Menteri
riset dan teknologi : Dr. Muhammad AS.S. Hikam
18.
Meneg
koperasi & pengusaha kecil menengah
: Drs. Zarkasih Noer
19.
Meneg
lingkungan hidup : Dr. Alexander Soni Keraf
20.
Meneg otonomi
daerah : Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid, M.A.
21.
Meneg
pariwisata dan kesenian : Drs. H. Hidayat Jaelani
22.
Meneg
penanaman modal dan pembinaan BUMN
: Ir. Laksamana Soekardi
23.
Meneg
pemuda dan olahraga : Ir. Laksamana Soekardi
24.
Meneg
pekerjaan umum : Dr. Ir. Rozik Boediro Soetjipto
25.
Meneg
pemberdayaan wanita : Drs. Khofifah Indar Parawansa
26.Meneg
urusan HAM: Dr. Hasballah M. Saad
27. Meneg transmigrasi & kependudukan : Ir. Al Hilal Hamdi
27. Meneg transmigrasi & kependudukan : Ir. Al Hilal Hamdi
28.Meneg
pendayagunaan aparatur negara : Laksda
Freddy Numberi
29. Meneg
masalah-masalah kemasyarakatan : Dr. Anak Agung Gede Agung
Jaksa
agung : Marzuki Darusman, S.H.Panglima TNI : Laksamana Widodo AS
Sekretaris negara : Ir. Ali Rahman
Di samping membentuk Kabinet Persatuan Nasional yang berasal
dari orang-orang partai, Prsiden Abdurrahman Wahid juga membentuk “Dewan
Ekonomi Nasional” (DEN). Pembentukanya dimaksudkan untuk memperbaiki
perekonomian Indonesia yang belum pulih dari krisis ekonomi yang
berkepanjangan. Ketua DEN adalah Prof. Dr. Emil Salim dengan wakil Subiyakti
Tjakrawerdaya dan Sekretaris Dr. Sri Mulyani Indraswati. Angota-angotanya
antara lain: Anggito Abimanyu dan Bambang Subiyanto.
KABAR BAIK!!!
ReplyDeleteNama saya Aris Mia, saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati, karena ada penipuan di mana-mana, mereka akan mengirim dokumen perjanjian palsu untuk Anda dan mereka akan mengatakan tidak ada pembayaran dimuka, tetapi mereka adalah orang-orang iseng, karena mereka kemudian akan meminta untuk pembayaran biaya lisensi dan biaya transfer, sehingga hati-hati dari mereka penipuan Perusahaan Pinjaman.
Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial dan putus asa, saya telah tertipu oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan digunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia, yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dan tingkat bunga hanya 2%.
Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan, telah dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan.
Karena saya berjanji bahwa saya akan membagikan kabar baik, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email nyata: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah ia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda menuruti perintahnya.
Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan Sety yang memperkenalkan dan bercerita tentang Ibu Cynthia, dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia, Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya bahwa saya kirim langsung ke rekening mereka bulanan.
Sebuah kata yang cukup untuk bijaksana.
Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.
DeleteNama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.
Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.
Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.
Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut
Nama saya Azmi, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman, mereka banyak penipu dan peminjam pinjaman palsu di internet. Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana ALLAH membantu saya dengan Bunda Alicia Radu setelah saya tertipu oleh 6 pinjaman pemberi pinjaman. Saya hampir kehilangan harapan sampai ALLAH menggunakan ROBBI dari saya untuk mendapatkan pinjaman saya sebesar RM 10,000 dari ibu Alicia Radu dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan dan hanya dengan suku bunga 2%.
ReplyDeleteSaya sangat terkejut ketika memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya kirim dikirim langsung ke rekening saya tanpa penundaan. Jadi saya berjanji bahwa saya akan membagikan kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda membutuhkan pinjaman, hubungi email ibu Alicia Radu: (aliciaradu260@gmail.com) dan dengan rahmat ALLAH Dia tidak akan mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman.
dan Anda masih dapat menghubungi ROBBI yang memperkenalkan saya kepada ibu Alicia Radu melalui email: (robbi5868@gmail.com)
Anda juga dapat menghubungi saya melalui email saya: (azmi88455@gmail.com) jika Anda memerlukan informasi tentang bagaimana saya mendapatkan pinjaman dari Ibu Alicia Radu,
semoga ALLAH terus memberkati ibu Alicia Radu And is Family
Saya sangat bersyukur kepada Ibu Fraanca Smith karena telah memberi saya
ReplyDeletepinjaman sebesar Rp900.000.000,00 saya telah berhutang selama
bertahun-tahun sehingga saya mencari pinjaman dengan sejarah kredit nol dan
saya telah ke banyak rumah keuangan untuk meminta bantuan namun semua
menolak saya karena rasio hutang saya yang tinggi dan sejarah kredit rendah
yang saya cari di internet dan tidak pernah menyerah saya membaca dan
belajar tentang Franca Smith di salah satu blog saya menghubungi franca
smith konsultan kredit via email:(francasmithloancompany@gmail.com) dengan
keyakinan bahwa pinjaman saya diberikan pada awal tahun ini tahun dan
harapan datang lagi, kemudian saya menyadari bahwa tidak semua perusahaan
pinjaman di blog benar-benar palsu karena semua hautang finansial saya
telah diselesaikan, sekarang saya memiliki nilai yang sangat besar dan
usaha bisnis yang patut ditiru, saya tidak dapat mempertahankan ini untuk
diri saya jadi saya harus memulai dengan membagikan kesaksian perubahan
hidup ini yang dapat Anda hubungi Ibu franca Smith via email:(
francasmithloancompany@gmail.com)
NAMA SAYA ........... RIKRIK BUDIANTI,
ReplyDeleteNEGARA ............ INDONESIA
KOTA ..................... BANDUNG, JAWA BARAT
PINJAMAN PINJAMAN ...... Rp150.000.000,00
EMAIL SAYA ........... rikrikbudianti27@gmail.com
Kabar baik, kabar baik, kabar baik
Nama saya RIKRIK BUDIANTI, warga negara Indonesia. Saya telah scammed oleh 3 pemberi pinjaman internasional yang berbeda di internet, semua setuju untuk memberi saya pinjaman, saya kehilangan uang yang saya peroleh dengan susah payah. Suatu hari, ketika menjelajah melalui internet dan tanpa daya saya menemukan kesaksian dari seorang wanita bernama EINNA FAIZ, yang juga scammed oleh pemberi pinjaman kredit palsu, tetapi akhirnya dihubungkan dengan perusahaan pemberi pinjaman yang sah bernama KARINA ELENA ROLAND LOAN COMPANY di mana dia mendapatkan pinjamannya . Saya memutuskan untuk menghubungi perusahaan pinjaman yang sama dan kemudian menceritakan kepada mereka kisah saya tentang bagaimana saya dibohongi oleh 3 pemberi pinjaman yang berbeda. Saya menjelaskan kepada perusahaan melalui email dan mereka meyakinkan saya bahwa saya memberikan pinjaman di perusahaan dan juga mengatakan kepada saya bahwa saya telah membuat keputusan yang tepat untuk menghubungi mereka. Saya mengisi akun kredit dan menyimpan semua yang meminjam dari saya dan kepada Tuhan kemuliaan saya mendapat pinjaman sebesar Rp150.000.000 dari perusahaan besar ini, Dikelola oleh MRS. KARINA ROLAND, dan di sini saya sangat bermanfaat karena KARINA ELENA ROLAND LOAN COMPANY telah mengubah hidup saya, jadi saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan terus bersaksi di internet tentang bagaimana saya mendapat pinjaman. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman, Anda harus menghubungi KARINA ROLAND
via atau whatsapp (karinarolandloancompany@gmail.com) +1585 708-3478 dan ikuti aturan, karena saya setuju Anda mendapatkan pinjaman dalam waktu kurang dari 24 jam. Anda masih dapat menghubungi saya melalui email jika Anda meminta bantuan tentang bagaimana saya mendapat pinjaman (rikrikbudianti27@gmail.com).
PERUSAHAAN PINJAMAN ROLAND KARINA ELENA
WHATSAPP ONLY ........ +1585 708-3478
NAMA FACEBOOK ......... KARINA ELENA ROLAND
EMAIL ......... KARINAROLANDLOANCOMPANY@GMAIL.COM
Halo nama saya Nadia Sella dari Indonesia Saya tinggal di Desa, saya ingin menggunakan media ini untuk bersyukur kepada Allah atas hidup saya dan menggunakan saya untuk bertemu dengan ibu saya yang setia Christabel Missan Loan Investment Company untuk mengubah hidup saya dari miskin menjadi kaya, saya punya masalah keuangan dan itu sangat buruk dan sulit tetapi berkat perusahaan induk yang setia, Nona CHRISTABEL PINJAMAN INVESTASI PERUSAHAAN yang membantu saya dengan pinjaman 300 juta dan sekarang saya memiliki transfer pinjaman ke rekening bank saya dan saya hanya melakukan pembayaran untuk pinjaman saya transfer tanpa menambah rasa sakit saya dan sekarang keluarga saya dan saya bekerja dengan baik dan sekarang bisnis saya baik Terima kasih kepada ibu yang setia Christabel Missan.
ReplyDeleteJika Anda tahu bahwa Anda membutuhkan pinjaman cepat, saya akan merekomendasikan Anda kepada Miss Christabel Missan di Email :: christabelloancompany@gmail.com
Untuk informasi lebih lanjut, Anda masih dapat menghubungi saya untuk memperkenalkan pinjaman yang jujur sellanadiafg@gmail.com
Silakan cari tahu apakah Anda menginginkan pinjaman Anda dan hubungi saya
Anda masih bisa menghubungi teman saya yang memperkenalkan saya untuk mendapatkan email pinjaman jaminan: lianmeylady@gmail.com
maryamlady12u@gmail.com
cynthiadafaq@gmail.com
novitakarinafg@gmail.com
Pinjaman saya sebesar 300 juta berhasil ditransfer
Perusahaan Pinjaman Christael Missan
email: Christabelloancompany@gmail.com
Instagram: ibu christabel missan
Nomor Whatsapp +15614916019
Halo nama saya Nadia Sella dari Indonesia Saya tinggal di Desa, saya ingin menggunakan media ini untuk bersyukur kepada Allah atas hidup saya dan menggunakan saya untuk bertemu dengan ibu saya yang setia Christabel Missan Loan Investment Company untuk mengubah hidup saya dari miskin menjadi kaya, saya punya masalah keuangan dan itu sangat buruk dan sulit tetapi berkat perusahaan induk yang setia, Nona CHRISTABEL PINJAMAN INVESTASI PERUSAHAAN yang membantu saya dengan pinjaman 300 juta dan sekarang saya memiliki transfer pinjaman ke rekening bank saya dan saya hanya melakukan pembayaran untuk pinjaman saya transfer tanpa menambah rasa sakit saya dan sekarang keluarga saya dan saya bekerja dengan baik dan sekarang bisnis saya baik Terima kasih kepada ibu yang setia Christabel Missan.
ReplyDeleteJika Anda tahu bahwa Anda membutuhkan pinjaman cepat, saya akan merekomendasikan Anda kepada Miss Christabel Missan di Email :: christabelloancompany@gmail.com
Untuk informasi lebih lanjut, Anda masih dapat menghubungi saya untuk memperkenalkan pinjaman yang jujur sellanadiafg@gmail.com
Silakan cari tahu apakah Anda menginginkan pinjaman Anda dan hubungi saya
Anda masih bisa menghubungi teman saya yang memperkenalkan saya untuk mendapatkan email pinjaman jaminan: lianmeylady@gmail.com
maryamlady12u@gmail.com
cynthiadafaq@gmail.com
novitakarinafg@gmail.com
Pinjaman saya sebesar 300 juta berhasil ditransfer
Perusahaan Pinjaman Christael Missan
email: Christabelloancompany@gmail.com
Instagram: ibu christabel missan
Nomor Whatsapp +15614916019