MAKALAH
STUDY AL-QUR’AN
( AYAT TENTANG SOSIAL KEMASYARAKATAN )
( AYAT TENTANG SOSIAL KEMASYARAKATAN )
DOSEN PEMBIMBING : Lukmanul Hakim, S.Ud, MIRKH
Disusun
O
L
E
H
Kelompok 7:
1. NOPRIADI
2. FAHREZA EKA PARMANA
3. WAHYU KURNIAWAN
UIN SULTAN SYARIF KASIM RIAU
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
MANAJEMEN B / SEMESTER IV
TA : 2016
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum WR. WB.
Puji syukur atas kehadirat allah SWT, karena atas berkat dan rahmat nya lah kami dapat menyusun makalah kami ini yaitu ; “ AYAT TENTANG SOSIAL KEMASYARAKATAN “ meskipun banyak terdapat kekurangan di dalam nya dan juga kami berterima kasih pada bapak Lukmanul Hakim,S.Ud,MIRKH selaku dosen mata kuliah study al-qur’an yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai ayat tentang social kemasyarakatan. Kami juga menyadari sepenuh nya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna oleh sebab itu ,kami berharap adanya keritik saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang mengingat tidak ada sesuatu ynag sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat di pahami bagi siapapun ynag membaca nya. Sekira nya laporan ynag telah di susun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya .sebelumnya kami mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah kami .
Puji syukur atas kehadirat allah SWT, karena atas berkat dan rahmat nya lah kami dapat menyusun makalah kami ini yaitu ; “ AYAT TENTANG SOSIAL KEMASYARAKATAN “ meskipun banyak terdapat kekurangan di dalam nya dan juga kami berterima kasih pada bapak Lukmanul Hakim,S.Ud,MIRKH selaku dosen mata kuliah study al-qur’an yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai ayat tentang social kemasyarakatan. Kami juga menyadari sepenuh nya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna oleh sebab itu ,kami berharap adanya keritik saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang mengingat tidak ada sesuatu ynag sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat di pahami bagi siapapun ynag membaca nya. Sekira nya laporan ynag telah di susun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya .sebelumnya kami mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah kami .
Pekanbaru
, 26 maret 2016
Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Makalah
ini saya tujukan khusus nya untuk teman-teman bagi yang beragama islam agar
kita semua mengetahui ayat dan arti dari sosial kemasyarakatan karena sosial
dan kemasyarakatan identik dengan kehidupan kita sehari-hari seiring dengan
terjadinya penyelewengan dalam sosial dan kemasyarakatan yang tidak lagi
berdasarkan syari’at agama kita yaitu agama islam.
B. Rumusan masalah
Penulis telah menyusun beberapa masalah yang kan di
bahas dalam makalah ini sebagai batasan dalam pembahasan bab isi. Beberapa
masalah tersebut antara lain :
·
Arti dari ayat sosial kemasyarakatan
·
Tafsir ayat tentang sosial
kemasyarakatan
B.
Tujuan
penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas maka tujuan dalam penulisan makalah ini sebagai berikut
:
·
Untuk mengetahui apa itu ayat sosial
kemasyarakatan
·
Untuk mengetahui arti ayat tentang
sosial kemasyarakatan
·
Untuk mengetahui tafsir ayat tentang sosila
kemasyarakatan
BAB 2
PEMBAHASAN
1 .SOSIAL
1 .SOSIAL
Pengertian
sosial adalah bahwa sosial di artikan sebagai sekumpulan dan bukan lah pribadi
sendiri. Sosial itu berkenaan dengan masyarakat dan di perlukan adanya
komunikasi antar individu tersebut.
Dalam
kehidupan berkelompok atau bermasyarakat inilah tradisi-tradisi keagamaan yang
di miliki oleh individu menjadi bersifat komulatifdan kohesif, yang menyatukan
keanekaragaman interpretasi dan sistem-sistem keyakinan keagamaan.Penyatuan ke
naekaragaman itu dapat terjadi karena, pada hakikat nya, dalam setiap kehidupan
berkelompok terdapat pola-pola interalsi tertentu yang melibatkan dua orang
atau lebih dan dari pola-pola tersebut para anggota nya secara bersama memiliki
satu tujuan atau tujuan-tujuan utama yang di wujudkan sebagai tindakan-tindakan
berpola. Itu di mungkian kan karena kegiatan-kegiatan kelompok tersebut terarah
tau terpimpin berdasarkan atas norma-norma yang di sepakati bersama, yang
terwujud dari kehidupan berkelompok. Karena adanya norma-noram tersebut sebuah
kelompok sebenarnya adalah juga sebuah sistem status, yang menggolong-golong
kan para anggota-angotanya dalam status yang bertingkat-tingkat atau hierarki
ynag masing-masing mempunyai kekuasaan dan kewenangan serta prestise yang berbeda-beda
sesuai dengan tujuan-tujuan utama yang ingin di capai oleh kelompok tersebut
Maka
dari itu jangan lah kita membeda-bedakan suatu suku, agama, dan ras dalam
kehidupan sosial karena Allah sangat membenci orang-orang yang membeda-bedakan
suatu kaum seperti yang terkandung dalam surah berikut.1
1AGAMA
: Dalam analisa dan interprestasi sosiologis/ Roland Robertson, Ed. ;penerjemah
Achmad Fedyani Sayfuddin.—Ed., 1, Cet. 1.—Jakarta : Rajawali, 1998.
Surah
Al-Hujarat ayat 13
$pkr'¯»tâ¨$¨Z9$#$¯RÎ)/ä3»oYø)n=yz`ÏiB9x.s4Ós\Ré&uröNä3»oYù=yèy_ur$\/qãèä©@ͬ!$t7s%ur(#þqèùu$yètGÏ94¨bÎ)ö/ä3tBtò2r&yYÏã«!$#öNä39s)ø?r&4¨bÎ)©!$#îLìÎ=tã×Î7yzÇÊÌÈ
13. Hai manusia,
Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Mengenal.
TAFSIR
Hai manusia,
sesungguh nya kami menciptakan kalian dari asal yang sama, yaitu adam dan
hawa.maka sebagian kalian tidak ada yang lebih mulia dari sebagian yang lain,
dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling
mengenal, yakni kami menjadi kan kalian supaya saling mengenal, bukan untuk
saling membanggakan nasab. Asy-syu’ub
adalah kumpulan suku-suku yang besar, seperti rabi’ah. Mudhar dan khuzaimah
yang membawahi beberapa suku, sedangkan qaba’il
lebih kecil dari asy-syu’ub , seperti
bani bakar dan rabi’ah dan bani tamim dari mudhar. Sesungguh nya orang yang
paling mulai dintara kalian disisi allah orang yang paling bertakwa di atara
kalian. Sesunguh nya allah maha mengetahui segala sesuatu lagi maha mengenakl
inti-inti perkara dan rahasia-rahasia2
Ayat ini turun untuk menanggapi hinaan yang di
terima bilal, ketika naik dinding ka’bah untuk melakukan adzan di hari
pembebasan kota mekah .maka nabi saw. Memanggil orang-orang yang menghina
bilaldan menegur sikap mereka yang membangga banggakan nasab.(ayat 13)7.
7Ensiklopedia
al-qur’an : Prof. Dr. wahbah zuhaili, M.Bassam rusydi zain, Dr. M. Wahbi
sualiaman, M. Adnan salim.
Masyarakat
unggul yang hendak ditegakan islam dengan petunjuk Al-Qur’an ialah masyarakat
yang memiliki etika yang luhur. Pada masyarkat itu setiap individu memiliki
kehormatan yang tidak boleh disentuh.Ia merupakan kehormatan kolektif. Mengolok
olok individu manapun berarti mengolok-olok pribadi umat.Sebab seluruh jamaah
itu satu dan kehormatan nya pun satu.
Ayat ini pun menegakan jalanan lain pada
masyarakat yang utama lagi mulia ini seputar kemulian individu, kehormatannya,
dan kebebasan nya sambil mendidik manusia dengan ungkapan yang menyentuh dan
menakjubkan tentang cara membersihkan perasaan dan kalbunya.
Untaian surah dimulai dengan
panggilan kesayangan, “Hai orang-orang yang beriman.”Lalu ayat menyuruh mereka
menjauhi banyak berprasangka.Sehingga mereka tidak membiarkan diri nya dirampas
oleh setiap dugaan, kesamaran, dan keraguan yang dibisikan orang lain disekitarnya.
Ayat itu memberikan alasan, “Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa “
Tatkala larangan didasarkan atas
banyak berprasangka, sedang aturannya menyebutkan bahwa sebagian prasangka itu
merupakan dosa, maka pemberitahuan dengan ungkapan ini intinya agar manusia
menjauhi buruk sangka apapun yang akan menjerumuskannya ke dalam dosa. Sebab,
dia tidak tahu ungkapannya yang manakah yang menimbulkan dosa.
Dengan cara inilah, Al-Qur’an
membersihkan kalbu dari dalam agar tidak terkontaminasi dengan prasangka buruk,
sehingga seseorang terjerumus kedalam dosa. Tetapi, Al-Qur’an membiarkannya
tetap bersih dan terbebas dan terbebas dari bisikan dan keraguan sehingga
menjadi putih.Dia menyayangi saudaranya tanpa dibarengi prasangka buruk.Hatinya
bersih tanpa dikotori keraguan dan kesangsian dan hatinya tentram tanpa
dikotori kegelisahan dan gundah.Alangkah nyamannya kehidupan dalam masyarakat
yang terbebas dari aneka prasangka.
Namun persoalannya dalam islam tidak
berhenti sampai disana, tanpa atmosfer yang mulia dan elok tatkala membina hati
dan prasaan. Bahkan, nash di atas menegakan prinsip berinteraksi dan jalinan
seputar hak-hak orang lain yang hisup dalam masyarakatnya yang bersih.
Sehingga, mereka tidak memperlakukan nya dengan prasangka dan menghukumi nya
dengan keraguan.
Prasangka tidak menjadi landasan bagi keputusan
mereka. Bahkan ia mesti lenyap dari masyarakat tersebut dari sekitar mereka.
Rasulullah bersabda “ jika kamu berprasangka, ia tak akan terwujud” ( HR
Thabrani ).(Al-hujarat Ayat 12)
Surah Al-Hujarat ayat 12
$pkr'¯»ttûïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#qç7Ï^tGô_$##ZÏWx.z`ÏiBÇd`©à9$#cÎ)uÙ÷èt/Çd`©à9$#ÒOøOÎ)(wur(#qÝ¡¡¡pgrBwur=tGøótNä3àÒ÷è/$³Ò÷èt/4=Ïtär&óOà2ßtnr&br&@à2ù'tzNóss9ÏmÅzr&$\GøtBçnqßJçF÷dÌs3sù4(#qà)¨?$#ur©!$#4¨bÎ)©!$#Ò>#§qs?×LìÏm§ÇÊËÈ
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan
janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang
sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
TAFSIR
Hai orang-orang
beriman, jauhi lah kebanyakan dari perasangka, yaitu dengan menyangka buruk
kepada orang-orang yang baik, susungguh nya sebagian perasangka itu adalah dosa
yang mengakibatkan azab, yaitu berprasangka buruk terhadap orang-orang yang
baik.Adapun orang-orang yang jahat dan fasik, maka boleh berprasangka buruk kepada
mereka dengan tanda-tanda yang tampak dari mereka. Jangan lah kalian
mencaari-cari kesalahan dan aib orang yang tertutupi dan jangan lah sebagian
dari kalian mengunjing sebagian yang lain. Ghibah adalah membicarakan apa yang
dibenci oleh saudara mu ketika dia sedang tidak ada. Suka kah salah seorang
diantara kalian memakai daging saudara nya yang sudah mati ?maksud nya ghibah
serupa dengan memakan jasad manusia yang telah mati. Ini adalah gambaran
kejahatan perbuatan yang mengunjing, sungguh gambaran yang menjijikan secara
naluri dan akal.Maka daging manusia adalah haram dan menjijikan, begitu pula
ghibah. Kedua nya sama sama perbuatan yang buruk dan bertawakal lah kepada
allah dengan mengikuti perintahnya dan menjahui larangan nya. Sesungguh nya allah
penerima taubat lagi maha penyayang kepada hamba-hamba nya yang bertaubat7
Ibnu juraij berkata “orang-orang berpendapat bahwa
ayat ini turun pada salman al-farisi yang memiliki kebiasaan tidur sesudah
makan, maka ada seorang laki-laki mengunjing kebiasaan nya.Lalu turunlah ayat
ini.”(ayat 12)7
7Ensiklopedia
al-qur’an : Prof. Dr. wahbah zuhaili, M.Bassam rusydi zain, Dr. M. Wahbi
sualiaman, M. Adnan salim.
Hubungan manusia dengan lingkungan
Alam semesta beserta segala isi nya termasuk
matahari, bulan, bintang, air, tanah, tumbuh-tumbuhan, dan hewan semuanya
adalah ciptaan allah swtyang saling berhubungan satu sama lain, dan saling
mempengaruhi dalam komposisi ekosistem yang serasi dan seimbang serta berjalan
teratur dan semua itu diatur oleh yang maha kuasa ( allah swt ).9
9Depag
RI,islam dan lingkungan hidup, yayasan swarna bhumy, jakarta, 1997, hal, 76
Alam semesta ini
sangat cocok bagi kehidupan manusia karena semua itu di ciptakan untuk
kepentingan manusia. Semua di ciptakan dengan keteraturan, keserasian dan
keseimbangan ekosistem yang terdiri unsur-unsur alam yang saling
berkaitankarena penciptaan dan pengaturan nya di tetapkan dan di tentukan oleh
hukum allah swt.
Lingkungan
adalah mencakup semua upaya atau kegiatan manusia di lingkungan nya,oleh karena
itu lingkungan alami manusia daoat di lihat dari dua sudut pandang : yaitu di
lihat dari sudut ruang dan dari sudut waktu. Sudut ruang dapat di lihat dari
ekosistem adanya unsur-unsur aklam yang mempengaruhi satu sama lain, sedang kan
sudut waktu dapat pula di lihat dari kegiatan dari waktu ke waktu, dari satu
kurun ke kurun dan dari satu generasi kegenerasi dalam mengolah sumber daya
alam. Dalam hal ini al-qur’an menyampai kan kepada manusia untuk selalu
menelaah dan mempelajari ssejarah, karena di dalam sejarah banyak pelajaran
yang dapat di ambil dari peristiwa-peristiwa masa silam yang mempunyai hubungan
erat dengan alam semesta.
Dalam
menjalani kehidupan ini, manusia selalu berhasil dan sukses, namun seketika
kesuksesan tersebut lanyap dan hancur, di sebab kan oleh perilaku atau sikap
manusia itu sendiri yang senang melanggar aturan-aturan allah, tentang alam
semesta.
Alam
semesta beserta segala isi nya termasuk matahari, bulan, bintang, air, tanah,
tumbuh-tumbuhan, dan hewan semuanya adalah ciptaan allah swtyang saling
berhubungan satu sama lain, dan saling mempengaruhi dalam komposisi ekosistem
yang serasi dan seimbang serta berjalan teratur dan semua itu diatur oleh yang
maha kuasa ( allah swt ).9
9Depag
RI,islam dan lingkungan hidup, yayasan swarna bhumy, jakarta, 1997, hal, 76
Alam semesta ini
sangat cocok bagi kehidupan manusia karena semua itu di ciptakan untuk
kepentingan manusia. Semua di ciptakan dengan keteraturan, keserasian dan
keseimbangan ekosistem yang terdiri unsur-unsur alam yang saling
berkaitankarena penciptaan dan pengaturan nya di tetapkan dan di tentukan oleh
hukum allah swt.
Lingkungan
adalah mencakup semua upaya atau kegiatan manusia di lingkungan nya,oleh karena
itu lingkungan alami manusia daoat di lihat dari dua sudut pandang : yaitu di
lihat dari sudut ruang dan dari sudut waktu. Sudut ruang dapat di lihat dari
ekosistem adanya unsur-unsur aklam yang mempengaruhi satu sama lain, sedang kan
sudut waktu dapat pula di lihat dari kegiatan dari waktu ke waktu, dari satu
kurun ke kurun dan dari satu generasi kegenerasi dalam mengolah sumber daya
alam. Dalam hal ini al-qur’an menyampai kan kepada manusia untuk selalu
menelaah dan mempelajari ssejarah, karena di dalam sejarah banyak pelajaran
yang dapat di ambil dari peristiwa-peristiwa masa silam yang mempunyai hubungan
erat dengan alam semesta.
Dalam
menjalani kehidupan ini, manusia selalu berhasil dan sukses, namun seketika
kesuksesan tersebut lanyap dan hancur, di sebab kan oleh perilaku atau sikap
manusia itu sendiri yang senang melanggar aturan-aturan allah, tentang alam
semesta.
Ketahuilah
bahwa lingkungan hidup selalu mempunyai hubungan antar manusia dengan alam dan
benda-benda sekitar nya. Disamping hubungan dengan alam dan benda sekitar
nya,manusia juga mempuyai hubungan istimewa dengan sesama manusia sebagai
makhluk social, dimana tidak bisa hidup tanpa teman atau sahabat. Hal ini bisa
disebut dengan istilah lingkungan social kemasyarakatan. Hubungan tersebut
terus mengalami perkembangan sesuai waktu dan zaman nya.apat diketahui
pertambhan penduduk secara deret ukur menimbulkan dampak semakin banyak nya
tuntutan kebutuhan hidup , sementara sumber daya alam jumlah nya terbatas26.
Untuk itu manusia berupaya untuk mengembangkan dan melestarikan serta
memelihara sumberdaya alam yang dapat di perbaharui agar tetap tersedia
sepanjang waktu, sehingga dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
Al-quran sebagai kitap suci dan
menjadi pedoman dalam memelihara dan menjaga kelestarian lingkungan, tidak
pernah mengingkari akan terjadinya persaingan antara sesama manusia. Namun
dalam hari ini, Al-Quran selalu mengarah kan persaingan dalam melahirkan
kebaikan-kebaikan yang membawa bagi kehidupan lingkungan social yang lebih
baik.
Dalam hal ini Rasulullah Saw
menyampaikan kepala para sahabat sebagai berikut;
Dari ibnu abbas ; jangan lah kamu merugikan kamu
sendiri dan orang lain, (HR.Ahmad dan Ibnu Majah).
Lingkungan pada dasarnya dapat
dibagi menjadi 3macam bentuk sebagai berikut ;
2-
Biological Enviroment ( lingkungan
hayati )
3-
Social Enviroment ( lingkungan sosial
budaya )
Lingkungan terdiri dari
lingkungan benda-benda mati hidup disebut dengan istilah Abiosis. Dan makhluk
hidup yang disebut dengan istilah Biosis, yang sebelumnya terbentuk secara
alami.9
9Depag
RI,islam dan lingkungan hidup, yayasan swarna bhumy, jakarta, 1997, hal, 76
2. MASYARAKAT
Masyarakat adalah kumpulan sekian
banyak individu kecil atau besar yang terikat oleh satuan, adat, ritus atau
hukum khas, dan hidup bersama.Demikian satu dari sekian banyak definisinya.Ada
beberapa kata yang digunkan Al-Qur’an untuk menunjukkan kepada masyarakat atau
kumpulan manusia. Antara lain : qawn, ummahsyu’ub, dan qabail. Disamping itu,
Al-Qur’an juga memperkenalkan masyarakat dengan sifat tertentu, seperti
al-mala’, al-mustakbirun, al-mustadh’afun, dan lain-lain.
Walaupun Al-Qur’an bukan kitab
ilmiah dalam pengertian umum kitab suci ini banyak sekali berbicara tentang
masyarakat. Ini disebabkan fungsi utama kitab suci ini adalah mendorong
lahirnya perubahan-perubahan positif dalam masyarakat, atau dalam istilah
Al-Qur’an; lituk hrija an-nasminaz-zhulumati ilan nur ( mengeluarkan manusia
dari gelap gulita menuju cahaya terang benderang). Dengan alas an yang sama,
dapat dipahami mengapa kitap suci umat islam inin memperkenalkan sekian banyak
hukum yang berkaitan dengan bangun runtuh nya suatu masyarakat bahkan tidak
berlebihan jika dikatakan bahwa Al-Qur’an merupakan buku pertama yang
memperkenalkan hukum-hukum kemasyarakatan.
Manusia adalah ”makhluk sosial“.
Ayat kedua dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw, dapat di pahami
sebagai salah satu ayat yang menjelas kan hal tersebut.
Dan janganlah di antara kamu mengunjing atau
memanggil seseorang dengan panggilan yang tidak di sukai oleh Allah dan orang
yg tergunjing merasa terhina dan jangan pernah kamu mengolok-olokkan suatu kaum
seperti yang tertera pada ayat berikut ini :
Al-Qur’an memberitahukan etika tersebut melalui
panggilan ke sayangan, “hai orang-orang yang beriman.” Dia melarang suatu kaum
mengolok-olok kaum yang lain, sebab boleh jadi laki-laki yang di olok-olok itu
lebih baik dalam pandangan Allah dari pada yang mengolok-olok. Mungkin juga
wanita yang di olok-olok itu lebih baik dalam pertimbangan Allah dari pada yang
mengolok-olok.
Ungkapan ayat mengisyaratkan secara
halus bahwa nilai-nilai lahir nya yang dilihat laki-laki dan wanita pada
dirinya bukan nilai hakiki yang dijadikan pertimbangan oleh manusia. Disana ada
sejumlah nilai lain yang tidak mereka ketahui dan hanya diketahui Allah serta
dijadikan pertimbangan oleh sebagian hamba karena itu, kadang-kadang orang kaya
menghina orang miskin, orang kuat menghina orang lemah dan orang yang sempurna
menghina orang yang cacat. Kadang-kadang orang pandai yang propesional menghina
orang lugu yang hanya jadi pelayan.Kadang-kadang orang yang beranak menghina
orang yang mandul dan yang hanya dapat mengurus anak yatim.Kadang wanita cantik
menghina wanita buruk, pemudi menghina nenek-nenek, wanita yang sempurna
menghina wanita yang cacat dan wanita kaya menghina yang miskin. Hal-hal di
atas dan perkara lain nya merupakan nilai duniawi yang tidak dapat dijadikan
ukuran. Timbangan Allah dapat naik dan turun bukan oleh timbangan duniawi itu.
Al-Qur’an tidak cukup dengan
menyampaikan isyarat ini, bahkan menyentuh emosi persaudaraan atas
keimanan.Al-Qur’an menceritakan bahwa orang-orang yang beriman itu seperti satu
tubuh.Barang siapa yang mengolok nya berarti mengolok-olok keseluruhan nya.
“jangan lah kamu mencela dirimu sendiri” Al-lumzu berarti aib. Tetapi, kata itu
memiliki gaung dan cakupan yang menegaskan bahwa ia bersifat lahiriah, bukan
aib yang bersifat maknawiah.
Termasuk mengolok-olok dan mencela ialah memanggil
dengan pangialan yang tidak disukai pemiliknya serta ia merasa terhina dan
ternoda dengan panggila itu. Diantara hak seoran mukmin yang wajib diberikan
mukmin lain ialah dia tidak memanggil nya dengan sebutan yang dikuasai nya.
Diantara kesantunan seorang mukmin ialah dia tidak menyakiti saudara nya dengan
hal semacam ini. Rasulullah telah mengubah beberapa nama dan panggilan yang
dimiliki orang jahiliah, karena nama atau panggilan itu menyinggung dan mencela
perasaan nya yang lembut dan hati nya yang mulia.
Setelah ayat di atas mengisaratkan nilai-nilai yang
hakiki menurut pertimbangan Allah dan setelah menyentuh rasa kesaudaraan nya,
bahkan perasaan bersatu dengan diri yang satu, ayat selanjutnya mengusik konsep
keimanan dan mewanti-wanti kaum mukmin agar jangan sampai kehilangan sifat yang
mulia, menodai sifat itu, dan menyalahinya dengan melalukan olok-olok, cacian,
pemanggilan yang buruk3.
3M.Quraish
Shihab pakar tafsir Indonesia : wawancara Al-Quran
“seburuk-buruk
panggilan ialah ( panggilan ) yang buruk sesudah iman pemanggial itu bagaikan
murtat dari keimanan. Ayat ini mengencam dengan memandangnya sebagai
kezaliman, padahal kezaliman itu merupakan kata lain syirik, “dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka
mereka itulah orang-orang yang zalim.”Demikian lah, ayat-ayat diatas telah
mencanangkan prinsip-prinsip kesantunan diri bagi masyarakat yang unggul dan
mulia tersebut seperti dalam surah . (Al-Hujarat :11)
surah
Al-Hujarat (ayat 11)
$pkr'¯»ttûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäwöyó¡o×Pöqs%`ÏiBBQöqs%#Ó|¤tãbr&(#qçRqä3t#ZöyzöNåk÷]ÏiBwurÖä!$|¡ÎS`ÏiB>ä!$|¡ÎpS#Ó|¤tãbr&£`ä3t#Zöyz£`åk÷]ÏiB(wur(#ÿrâÏJù=s?ö/ä3|¡àÿRr&wur(#rât/$uZs?É=»s)ø9F{$$Î/(}§ø©Î/ãLôew$#ä-qÝ¡àÿø9$#y÷èt/Ç`»yJM}$#4`tBuröN©9ó=çGty7Í´¯»s9'ré'sùãNèdtbqçHÍ>»©à9$#ÇÊÊÈ
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang
laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu
lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan
kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah
suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang
mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk
sesudah iman[1410] dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah
orang-orang yang zalim.
[1409] Jangan mencela
dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang
mukmin seperti satu tubuh.
[1410] Panggilan yang
buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti
panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik,
Hai kafir dan sebagainya.
TAFSIR
Hai orang-orang
yang beriman,jangan lah orang laki-laki dari suatu kaum merendah kan laki-laki
dari kaum yang lain,karena boleh jadi mereka yang direndah kan lebih baik dari
sisi allah dari mereka yang merendahkan atau menghina dan juga pula
wanita-wanita merendah kan wanita lain,karena boleh jadi wanita-wanita yang
direndahkan lebih baik dari wanita yang merendahkan dan jangan lah sebagian
kalian mencela sebagian yang kalian dengan perkataan atau isyarat dan jangan
lah kalian saling memanggil dengan gelar yang buruk dan tidak disenangi.
Seburuk-buruk panggilan seseorang sesudah dia beriman adalah fasik dan
kafir.barang siapa yang tidak bertaubat dari apa yang dilarang allah maka
mereka itulah orang-orang yang zalim terhadap diri sendiri dengan mempersiapkan
diri untuk dihazab7.
Ayat ini turun pada rombongan bani tamim, yang juga
pada mereka turun
surah ini. Mereka menghina sahabat-sahabat nabi saw. Yang miskin,tatkala
orang-orang bani tamim itu melihat keadaan kaum muslimin yang menyedihkan. Maka
ayat ini turun kepada orang-orang yang beriman di antara mereka (ayat 11)7
7Ensiklopedia
al-qur’an : Prof. Dr. wahbah zuhaili, M.Bassam rusydi zain, Dr. M. Wahbi
sualiaman, M. Adnan salim.
Khalaqal insane min alaq’ bukan saja di artikan
sebagai “ menciptakan manusia dari segumpal darah “ atau “ sesuatu berdempet di
dinding rahim”, teiapi juga dapat dipahami sebagai “ diciptakan dinding dalam
keadaan selalu bergantung kepada pihak lain atau tidak dapat hidup sendiri”.
Ayat lain dalam konteks ini adalah surat Al-Hujarat ayat 13. Dalam ayat
tersebut, secara tegas dinyatakan bahwa manusia diciptakan terdiri dari
laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling
mengenal.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menurut Al-Qur’an, manusia
secara fitri adalah makhluk sosial dan hidup bermasyarakat merupakan satu
keniscayaan bagi mereka. Tingkat kecerdasan, kemampuan, dan status sosial
manusia menurut Al-Qur’an berbeda-beda3
3M.Quraish
Shihab pakar tafsir Indonesia : wawancara Al-Quran
A.
FUNGSI-FUNGSI AGAMA DALAM MASYARAKAT
·
Agama
dan pendekatan fungsional
Sebagai
mana kami nyatakan di muka adalah pada fungsinya dalam masyarakat. Istilah
fungsi, seperti kita ketahui, menunjuk kepada sumbangan yanhg di berikan agama,
atau lemabaga sosial yang lain, untuk mempertahan kan ( ketuhanan ) masyarakat
sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus menerus. Dengan demikian
perhatian kita adalah peranan yang telah dan masih di main kan oleh agama dalam
rangka mempertahan kan kelangsungan hidup masyarakat tersebut. Dengan usaha
menganalisa fungsi-fungsi sosial tingakah laku keagamaan kita harus
berhati-hati membedakan antara yang ingin di capai oleh anggota suatu kelompok
pemeluk tertentu dan akibat yang tidak di kehendaki dari tingkah laku mereka
dalam kehidupan masyarakat. Dan Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum
atau kelompok tersebut, berupa kenikmatan dan kesehatan jiwa raga, hingga
mereka mengubah apa ynag ada pada diri mereka sendiri, dari ketaatan nya kepada
Allah SWT, seperti surah yang di turunkan berikut :
Ar-ra’d ayat 11
¼çms9×M»t7Ée)yèãB.`ÏiBÈû÷üt/Ïm÷ytô`ÏBur¾ÏmÏÿù=yz¼çmtRqÝàxÿøtsô`ÏBÌøBr&«!$#3cÎ)©!$#wçÉitóã$tBBQöqs)Î/4Ó®Lym(#rçÉitóã$tBöNÍkŦàÿRr'Î/3!#sÎ)ury#ur&ª!$#5Qöqs)Î/#[äþqßxsù¨ttB¼çms94$tBurOßgs9`ÏiB¾ÏmÏRrß`ÏB@A#urÇÊÊÈ
11. bagi manusia
ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah
tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang
ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap
sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia.
[767]
Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara
bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan
yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran
itu, disebut Malaikat Hafazhah.
[768]
Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah
sebab-sebab kemunduran mereka.
TAFSIR
Allah menjelaskan
dalam ayat ini, bahwa dia tidak merubah keadaan suatu kaum, berupa kenikmatan
dan kesehatan jiwa raga, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka
sendiri dari ketaatan nya kepada allah SWT. Maksud nya adalah allah tidak
merampas kenikmatan suatu kaum yang telah di berikan kepada mereka, hingga
mereka merubah ketaatan dan amal shalih8(ayat 11)
8
Tafsir Adhwa’ul Bayan / Syikh Asy- Syanqithi :
penerjemah , Bari, Rifa’I, Muhammad fauzun, Rahim Mustafa, editor DR. Yusuf
Baihaqi, Jakarta PUSTAKA AZZAM 2007
Karena
Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat ynag telah di anugerahkan
nya pada suatu kaum. Hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka
sendiri dan sesungguh nya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui seperti yang
terkandung dalam surat Qs. Al-Anfaal ayat 53:
Al-anfal ayat 53
y7Ï9ºs cr'Î/©!$#öNs9à7t#ZÉitóãBºpyJ÷èÏoR$ygyJyè÷Rr&4n?tãBQöqs%4Ó®Lym(#rçÉitóã$tBöNÍkŦàÿRr'Î/ cr&ur©!$#ììÏJyÒOÎ=tæÇÎÌÈ
53. (siksaan) yang
demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah
sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu
meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621], dan Sesungguhnya Allah
Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
[621]
Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum,
selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.
TAFSIR
Allah
menyebutkan dalam ayat ini bahwa Allah tidak merubah nikmat yang di berikan
kepada seseorang, kecuali karena dosa yang di perbuat nya. Allah menjelas kan
arti ini pada ayat-ayat yang lain, seperti firman nya, kecuali di karebnakan
dosa yang di perbuat nya. Allah menjelas kan arti ini pada ayat-ayat yang lain,
seperti firman nya yang berisi” sesungguh nya Allah tidak mengubah keadaan
suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum maka tak ada yang
dapat menolak nya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain dia
“(Qs.Ar-Raad’ [13]:11) dan firman nya yang berisi dan apa musibah yang menimpa
kamu maka adalah di sebabkan oleh perbuatan tangan mu sendiri, dan Allah memaaf
kan sebagian besar ( dari kesalahan-kesalahan mu). (Qs. Asy-Syuuraa [42]:30).
Dan firman nya yang berisi apa saja nikmat Allah yang kamu peroleh adalah dari
Allah, dan apa saja bencana yang menimpa mu, maka dari ( kesalahan ) dirimu
sendiri.” (Qs. An-Nisaa’ [4] : 79).4
..4 Tafsir
al-qur’an, pengantar :syaikh muhammmad bin shalih al-utsaimin, Syaikh Abdullah
bin abdul aziz al-aqil
·
Sumbangan
agama terhadap pemeliaharaan masyarakat
Dengan
demikian, unsur-unsur pokok apakah yang di pelukan untuk mempertahan kan
kelangsungan hidup masyarakat, dan sumbangan apakah yang di berikan masyarakat
kepada masyarakat-masyarakat tersebut ?pertama masyarakat mempunyai
kebutuhan-kebutuhan tertentu untuk kelangsungan hidup dan pemeliharaan nya
sampai batas minimal, dan kedua, agama berfunsi memenuhi sebagian diantara
kebutuhan-kebutuhan itu, meskipun mungkin terdapat beberapa kontradiksi dan
ketidak cocokan dalam cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
·
Agama
dan pengintegrasian nilai-nilai
Bagi
umat manusia untuk dalam jangka waktu yang cukup lama nersepakat mengatur
tingkah laku mereka sesuai denga bermacam-macam larangan dan perintah yang satu
sama lain tidak bertalian. Banyak nya krisis disiplin dalam kehidupan penjara,
militer atau sekolah menunjukan bahwa konsensus kelompok cenderung gagal.Ketika
disiplin itu di perlakukan dengan sewenang-wenang tidak normal dan karena nya
tidak berarti lagi.Dalam keadaan krisis semacam itu kelompok-kelompok bisa di
persatukan kembali dalam satu barisan dengan menggunakan kekuatan fsik. Akan
tetapi sejarah menjadi saksi bahwa masyarakat tidak dapat di pertahan kan
keutuhan nya dalam jangka waktu alam hanya yang menggunakan kekuatan fisik itu.
·
Agama
dan pengukuhan nilai-nilai
Seandai
nya kita dapat melupakan berita-berita induk yang mencolok di surat-surat kabar
dan memperhatikan tingkah laku masyarakat banyak pada umum nya barang kali kita
merasa heran karena ternyata sebagian besar di antara mereka kebanyakan
masyarakat betul-betul melaksanakan kewajiban-kewajiban sosial mereka. Kenapa
demikian ?suatu pejelasan yang mudah di ingat ialah kekuatan adat kebiasaan
kekuatan memaksa dari adat yang bersifat absolute dan yang di dukung oleh sikap
ketidak pedulian manusia.
·
Peranan
agama di bidang sosial beberapa kesimpulan dan permasalahan
Peranan
sosial agama dilihat terutama sebagai sesuatu yang mempersatukan dalam
pengertian harfiah nya, agama menciptakan suatu ikatan bersama baik di antara
angota-angota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang
membantu mempersatukan mereka.Kerena nilai yang mendasari sistem-sistem
kewajiban sosial di dukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan, maka agama
menjamin cenderung melestarikan nilai-nilai sosial.Fakta yang menunjukan bahwa
nilai-nilai keagamaan itu sacral berarti nilai-nilai keagamaan tersebut tidak
mudah di ubah karena ada nya perubahan-perubahan konsepsi-konsepsi kegunaan dan
kesenangan duniawi.
·
Agama
dan sosialisasi individu
Dengan
demikian suatu kelengkapan yang penting bagi terlaksana nya peranan agama sebagai
pemersatu adalah sumbangan fungsional terhadap proses sosialisasi dari
masing-masing anggota masyarakat. Setiap individu di saat ia tumbuh menjadi
dewasa memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk
mengarah kan aktifitas nya dalam masyarakat dan berfungsi sebagai tujuan akhir
pengembangan kepribadiaan nya sehingga tidak ada lagi perdebatan-perdebatan
tentang Allah, karena Allah adalah tuhan kami dan tuhan kamu : bagi kami amalan
kami dan bagi kamu amalan kamudan hanya kepada nya lah kami mengikhlaskan hati
yang tercantum dalam pembahasan (Qs. Al-Baqarah ayat :139) .6
.6Agama
dan masyarakat/Elizabeth K. Notingham ;penerjemah, Abdul Muis Naharong, Ed.
1.,Cet.6-Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 1996.
Surah
Al-Baqarah
Al-baqarah
ayat 139
ö@è%$oYtRq_!$ysè?r&Îû«!$#uqèdur$uZ/uöNà6/uur!$oYs9ur$oYè=»yJôãr&öNä3s9uröNä3è=»yJôãr&ß`øtwUur¼çms9tbqÝÁÎ=øèCÇÊÌÒÈ
139. Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan Kami
tentang Allah, Padahal Dia adalah Tuhan Kami dan Tuhan kamu; bagi Kami amalan
Kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya Kami mengikhlaskan hati,
Al
hasan berkata, “ orang-orang ( yahudi dan nashrani ) mengklaim diri mereka
dengan berkata,” kami lebih berhak terhadap Allah dari pada kalian. Sebab kami
adalah anak-anak dan kekasih-kekasih Allah. Selain itu, juga karena nenek
moyang kami ( telah) meraih status itu dan kitab-kiatb kami telah di nyatakan
demikian. Juag karena kami tidak pernah menyembah berhala.”
Denagn
demikian makna ayat ini adalah.“ katakana lah kepada mereka wahai muhammad.
Yakni katakan lah kepada orang-orang yahudi dan nasrani yang mengklaim bahwa
mereka adalah anak Allah dan kekasih
Nya, bahkan mereka pun mengklaim bahwa mereka lebih berhak terhadap
Allah dari pada kalian, karena nenek moyang mereka (telah meraih status itu)
dan kitab-kitab mereka pun ( telah di nyatakan demiakian), apakah kamu memperdepatkan dengan kami, yakni
apakah kalian mengajak kami untuk berdebat tentang klaim kalian, sementara
tuhan itu satu, dan setiap orang itu tergantung kepada perbuatan masng-masing.
Jika demikian, pengaruh apa yang di timbul kan dari lebih dahulu memeluk suatu
agama.
Makna
dari firman Allah” tentang Allah“
adalah tentang agama, pendekatan diri, dan langkah menuju kepada nya.
Qira’ah
mayoritas ulama’ adalah apakah kamu memperdebat kan dengan kami. Dalam hal ini,
perlu di ketahui bahwa menyatukan dua huruf sejenis yang mempunyai harakat yang
sama merupakan satu hal yang di perbolehkan. Sebab huruf yang kedua itu seoalah
terpiasah dari huruf yang pertama.
Sementara
itu ibnu muhaisim membaca dengan attuhaajunanaa
‘apakah kamu memperdebat kan dengan kami ‘ denganmengidghamkan huruf nun yang pertama pada huruf nunyang kedua, karena kedua huruf ini
sejenis. An-Nuhas berkata, “hal ini di perboleh kan , namun hal ini menyalahi
aturan. Boleh juag di baca : atuhaajuuni dengan membuang huruf nunyang kedua. Hal ini sebagai mana
yang di lakukan oleh Nafi’ pada firman Allah : maka denag cara bagai mana kah (
terlaksana nya) berita gembira yang kamu kabarkan ini, “ (Qs. Hijr[15] : 55 )
dimana dia membacanya menjadi : fabimaa tubasyyiruuni8
8
Tafsir Ath-Thabari/Abu Ja’far Muhammad bin Ath
Thabari, penerjemah, Absan askan, editor, besus hidayat amin, Jakarta : Pustaka
Azzam 2007
B.
MANUSIA
ANGGOTA MASYARAKAT
Tidak
dapat di ragukan lagi bahwa tujuan utama al-qur’an adalah menegakkan sebuah
tata masyarakat yang adil, berdasarkan etika, dan dapat bertahan di muka bumi
ini. Apakah individu yang lebih penting sedang masyarakat adalah instrumen yang
di perlukan di dalam penciptaan nya atau sebaliknya,
itu hanya merupakan sebuah masalah akademis, karena tampak nya individu dan
masyarakat tidak dapat di pisah kan. Tidak ada individu yang hidup tanpa
masyarakat.
Jika
ada perselisihan dan peperangan antara kelompok-kelompok muslim, al-qur’an
menyerukan agar di angkat seorang penengah. Jika salah satu kelompok tersebut
menolak penengahan ini maka kelompok tersebut harus di perangi.
Al-qur’an
menekan kan persamaan manusia yang esensil ini karena di antara semua mahluk
hidup bangsa manusia sajalah yang memilki ke unikan : sebagian di antara nya
mereka merasa lebih unggul dari pada yang lain-lain nya.
Al-qur’an
memerintah kan kepada kaum muslimin bahwa mereka lebih baik mengeluar kan harta
kekayaan mereka di atas jalan allah dan dengan demikian mereka “berpiutang
kepada allah yang akan di bayar allah dengan berlipat ganda” dari pada membunga
kan uang untuk menghirup darah-darah orang miskin sehingga timbul rasa
kemasyarakatan antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin5
5Tema
Pokok Al-qur’an : Fazlur Rahman, Bandung, 1417 H – 1996 M
Al-Qur’an memberitahukan etika tersebut melalui
panggilan ke sayangan, “hai orang-orang yang beriman.” Dia melarang suatu kaum
mengolok-olok kaum yang lain, sebab boleh jadi laki-laki yang di olok-olok itu
lebih baik dalam pandangan Allah dari pada yang mengolok-olok. Mungkin juga
wanita yang di olok-olok itu lebih baik dalam pertimbangan Allah dari pada yang
mengolok-olok.
Ungkapan ayat mengisyaratkan secara
halus bahwa nilai-nilai lahir nya yang dilihat laki-laki dan wanita pada
dirinya bukan nilai hakiki yang dijadikan pertimbangan oleh manusia. Disana ada
sejumlah nilai lain yang tidak mereka ketahui dan hanya diketahui Allah serta
dijadikan pertimbangan oleh sebagian hamba karena itu, kadang-kadang orang kaya
menghina orang miskin, orang kuat menghina orang lemah dan orang yang sempurna
menghina orang yang cacat. Kadang-kadang orang pandai yang propesional menghina
orang lugu yang hanya jadi pelayan.Kadang-kadang orang yang beranak menghina
orang yang mandul dan yang hanya dapat mengurus anak yatim.Kadang wanita cantik
menghina wanita buruk, pemudi menghina nenek-nenek, wanita yang sempurna
menghina wanita yang cacat dan wanita kaya menghina yang miskin. Hal-hal di
atas dan perkara lain nya merupakan nilai duniawi yang tidak dapat dijadikan
ukuran. Timbangan Allah dapat naik dan turun bukan oleh timbangan duniawi itu.
Al-Qur’an tidak cukup dengan
menyampaikan isyarat ini, bahkan menyentuh emosi persaudaraan atas
keimanan.Al-Qur’an menceritakan bahwa orang-orang yang beriman itu seperti satu
tubuh.Barang siapa yang mengolok nya berarti mengolok-olok keseluruhan nya.
“jangan lah kamu mencela dirimu sendiri” Al-lumzu berarti aib. Tetapi, kata itu
memiliki gaung dan cakupan yang menegaskan bahwa ia bersifat lahiriah, bukan
aib yang bersifat maknawiah.
Termasuk mengolok-olok dan mencela ialah memanggil
dengan pangialan yang tidak disukai pemiliknya serta ia merasa terhina dan
ternoda dengan panggila itu. Diantara hak seoran mukmin yang wajib diberikan
mukmin lain ialah dia tidak memanggil nya dengan sebutan yang dikuasai nya.
Diantara kesantunan seorang mukmin ialah dia tidak menyakiti saudara nya dengan
hal semacam ini. Rasulullah telah mengubah beberapa nama dan panggilan yang
dimiliki orang jahiliah, karena nama atau panggilan itu menyinggung dan mencela
perasaan nya yang lembut dan hati nya yang mulia.
Setelah ayat di atas mengisaratkan nilai-nilai yang
hakiki menurut pertimbangan Allah dan setelah menyentuh rasa kesaudaraan nya,
bahkan perasaan bersatu dengan diri yang satu, ayat selanjutnya mengusik konsep
keimanan dan mewanti-wanti kau mukmin agar jangan sampai kehilangan sifat yang
mulia, menodai sifat itu, dan menyalahinya dengan melalukan olok-olok, cacian,
pemanggilan yang buruk.
“seburuk-buruk
panggilan ialah ( panggilan ) yang buruk sesudah iman pemanggial itu bagaikan
murtat dari keimanan. Ayat ini mengencam dengan memandangnya sebagai
kezaliman, padahal kezaliman itu merupakan kata lain syirik, “dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka
mereka itulah orang-orang yang zalim.”Demikian lah, ayat-ayat diatas telah
mencanangkan prinsip-prinsip kesantunan diri bagi masyarakat yang unggul dan
mulia tersebut seperti dalam surah . (Al-Hujarat :11)
surah
Al-Hujarat (ayat 11)
$pkr'¯»ttûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäwöyó¡o×Pöqs%`ÏiBBQöqs%#Ó|¤tãbr&(#qçRqä3t#ZöyzöNåk÷]ÏiBwurÖä!$|¡ÎS`ÏiB>ä!$|¡ÎpS#Ó|¤tãbr&£`ä3t#Zöyz£`åk÷]ÏiB(wur(#ÿrâÏJù=s?ö/ä3|¡àÿRr&wur(#rât/$uZs?É=»s)ø9F{$$Î/(}§ø©Î/ãLôew$#ä-qÝ¡àÿø9$#y÷èt/Ç`»yJM}$#4`tBuröN©9ó=çGty7Í´¯»s9'ré'sùãNèdtbqçHÍ>»©à9$#ÇÊÊÈ
11. Hai orang-orang yang beriman,
janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi
yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan
perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih
baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil
dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan Barangsiapa yang tidak bertobat,
Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
[1409] Jangan
mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana
orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
[1410] Panggilan
yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti
panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik,
Hai kafir dan sebagainya.
TAFSIR
Hai orang-orang
yang beriman,jangan lah orang laki-laki dari suatu kaum merendah kan laki-laki
dari kaum yang lain,karena boleh jadi mereka yang direndah kan lebih baik dari
sisi allah dari mereka yang merendahkan atau menghina dan juga pula
wanita-wanita merendah kan wanita lain,karena boleh jadi wanita-wanita yang
direndahkan lebih baik dari wanita yang merendahkan dan jangan lah sebagian
kalian mencela sebagian yang kalian dengan perkataan atau isyarat dan jangan
lah kalian saling memanggil dengan gelar yang buruk dan tidak disenangi.
Seburuk-buruk panggilan seseorang sesudah dia beriman adalah fasik dan
kafir.barang siapa yang tidak bertaubat dari apa yang dilarang allah maka
mereka itulah orang-orang yang zalim terhadap diri sendiri dengan mempersiapkan
diri untuk dihazab2.
2Tafsir
Al Qurthubi/Syaikh Imam Al Qurthubi ; penerjemah, Fathurrahman, Ahmad Hotib ;
editor, Mukhlis B. Mukti-Jakarta : Pustaka Azzam, 2007
Ayat ini turun pada rombongan bani tamim, yang juga
pada mereka turun
surah ini. Mereka menghina sahabat-sahabat nabi saw. Yang miskin,tatkala
orang-orang bani tamim itu melihat keadaan kaum muslimin yang menyedihkan. Maka
ayat ini turun kepada orang-orang yang beriman di antara mereka (ayat 11)2
2Tafsir
Al Qurthubi/Syaikh Imam Al Qurthubi ; penerjemah, Fathurrahman, Ahmad Hotib ;
editor, Mukhlis B. Mukti-Jakarta : Pustaka Azzam, 2007
C. STRATIFIKASI MASYARAKAT MENURUT
AL-QUR’AN
.10 Ada beberapa kata yang digunakan al-Qur’an untuk
menunjuk kepada masyarakat atau kumpulan manusia antara lain; Qoum, Ummah,
Syu’ub dan Qabail. Disamping itu, al-Qur’an juga memperkenalkan masyarakat
dengan
sifat-sifat tertentu seperti; al-mala’, al-mustakbirun, al-mustadh
afun, dan lainlain.11 Setiap masyarakat mempunyai ciri khas dan pandangan
hidupnya. Mereka melangkah berdasarkan kesadaran tentang hal tersebut, inilah
yang melahirkan watak dan kepribadiannya yang khas. Dalam hal ini al-Qur’an
menjelaskan: “Demikianlah kami menjadikan indah (di mata) setiap masyarakat
perbuatan mereka”.Suasana kemasyarakatan dengan sistem nilai yang
dianutnya mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat itu, demikian juga
ukuran-ukuran hal/sesuatu yang dianggap penting dan memiliki nilai lebih akan
dianggap sebagai sesuatu yang berharga, dan kemudian melahirkan stratifikasi di
dalam masyarakat tersebut. Menurut hemat penulis, selain al-Qur’an sebagai
kitab suci, juga berfungsi sebagai petunjuk untuk menata kehidupan umat manusia
(Islam), sekaligus merupakan ajaran wahyu dari Tuhan yang memiliki pandangan
sendiri tentang masyarakat, dan tentang nilai-nilai sosial sebagai sebuah
sistem aturan (nilai) yang dianutnya. Sistem nilai itulah pada gilirannya
menjadikan sesuatu hal/barang menjadi dihargai oleh masyarakt (islam) dan
kemudian melahirkan stratifikasi sosial dalam kehidupannya. Nilai-nilai sosial
dari ajaran wahyu itu
jadi dapat disimpulkan dari pembahasan di atas bahwa pengertian
sosial kemasyarakatan itu adalah hubungan dan interaksi sesama manusia yang
harus di lakukan dengan baik sebab manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa
bantuan dan pertolongan orang lain (sosial kemasyaralkatan )
10 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan,
2007), h. 319
11 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, 319
BAB 3
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari hasil
pembahasan yaitu “ ayat tentang sosial
kemasyarakatan “ maka di ambil kesimpulan :
ü Dalam
kehidupan bermasyarakat kita harus berinteraksi satu sama lain seperti yang di
anjurkan oleh Nabi Muhammad melalui dasar-dasar islam karena kita tidak mampu
hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
ü Kita
di larang untuk mengolok-olok kan dan memanggil seseorang dengan panggilan
gelar yang tidak di sukai pemilik nya serta dia merasa terhina dan ternoda
dengan panggilan itu atau menggunjing antar sesama manusia demi kesenangan
semata dan tertawa di atas penderitaan orang lain, maka dari itu Rasullah SAW
melarang kita melakukan nya seperti surah yang di turunkan pada (surah
al-hujurat : 11)
ü Janganlah
di antara kita berprasangka buruk terhadap orang lain karena berprasangka itu
adalah dosa dan jangan lah kita membicara kan keburukan seseorang tanpa
sebelumnya kita tahu apa yang benar-benar terjadi serta jangan pernah
terpengaruh dengan omongan seseorang yang belum pasti kebenarannya
ü Dan
jangan lah saling membedakan suku dan agama serta rasa tau warna kulit karena
allah menciptakan kita berbeda-beda untuk saling mengenal dan menyayangi satu
sama lain sehingga terciptalah keanekaragaman dalam hidup bermasyarakat
KRITIK
Kehidupan
sosial dan bermasyarakat seharus nya harus ada niai-nilai atau aturan-aturan
yang sesuai dengan norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak menyalahi
aturan-atura yang bisa membuat seseorang itu terpengaruh buruk oleh sikap dan
tingkah laku yang abnormal.
SARAN
Seharus
nya dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat kita harus berprilaku baik dan bisa menjadi contoh untuk orang
banyak sehingga dengan demikian akan terciptalah sebuah sosial dan
kemasyarakatan yang madani dan ketentraman lingkungan serta menciptakan masyarakat
yang berahlak baik, berprestasi, berkualitas, yang memberiakan dampak positip
dalam kehidupan baik sekarang maupun kehidupan yang akan kita lalui.
REKOMENDASI
Berdasarkan
kesimpulan yang telah di paparkan, maka penulis mengajukan rekomendasi yang di
pandang berguna dan yang dapat mempertimbang kan agar dapat meningkatkan
kompetensi pada kawan-kawan sekalian.
Kepada
kawan-kawan sekalian di harapkan kita dapat bersosialisasi dan bermasyarakat
yang baik serta dapat menciptakan suasana yang tentram dan damai, jauhilah
mengunjing dan memanggil dengan sebutan gelar yang tidak di sukai oleh teman
kita atau kita sebab perilaku tersebut sangat di benci Rasulullah karena orang
yang kita panggil dengan sebutan gelar
atau menggunjingnya akan terasa terhina dengan perbuatan kita yang tidak ada
norma-norma dalam sosial dan kemasyarakatan
DAFTAR PUSTAKA
1AGAMA
: Dalam analisa dan interprestasi sosiologis/ Roland Robertson, Ed. ;penerjemah
Achmad Fedyani Sayfuddin.—Ed., 1, Cet. 1.—Jakarta : Rajawali, 1998.
2Tafsir
Al Qurthubi/Syaikh Imam Al Qurthubi ; penerjemah, Fathurrahman, Ahmad Hotib ;
editor, Mukhlis B. Mukti-Jakarta : Pustaka Azzam, 2007
3M.Quraish
Shihab pakar tafsir Indonesia : wawancara Al-Quran
4 Tafsir
al-qur’an, pengantar :syaikh muhammmad bin shalih al-utsaimin, Syaikh Abdullah
bin abdul aziz al-aqil
5Tema
Pokok Al-qur’an : Fazlur Rahman, Bandung, 1417 H – 1996 M
.6Agama dan masyarakat/Elizabeth
K. Notingham ;penerjemah, Abdul Muis Naharong, Ed. 1.,Cet.6-Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada 1996.
7Ensiklopedia
al-qur’an : Prof. Dr. wahbah zuhaili, M.Bassam rusydi zain, Dr. M. Wahbi
sualiaman, M. Adnan salim.
8
Tafsir Ath-Thabari/Abu Ja’far Muhammad bin Ath
Thabari, penerjemah, Absan askan, editor, besus hidayat amin, Jakarta : Pustaka
Azzam 2007
9Depag
RI,islam dan lingkungan hidup, yayasan swarna bhumy, jakarta, 1997, hal, 76
10 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an,
(Bandung: Mizan, 2007), h. 319
11 M. Quraish Shihab, Wawasan
al-Qur’an, 319
Post a Comment