STUDY AL-QUR'AN (ayat tentang sosial kemasyarakatan )

MAKALAH
STUDY AL-QUR’AN
( AYAT TENTANG SOSIAL KEMASYARAKATAN )

DOSEN PEMBIMBING : Lukmanul Hakim, S.Ud, MIRKH
Disusun
O
L
E
H

Kelompok  7:
1. NOPRIADI
2. FAHREZA EKA PARMANA
3. WAHYU KURNIAWAN

 UIN SULTAN SYARIF KASIM RIAU
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
MANAJEMEN B / SEMESTER IV
TA : 2016


KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum WR. WB.

Puji syukur atas kehadirat allah SWT, karena atas berkat dan rahmat nya lah kami dapat menyusun makalah kami ini yaitu ; “ AYAT TENTANG SOSIAL KEMASYARAKATAN “ meskipun banyak terdapat kekurangan di dalam nya dan juga kami berterima kasih pada bapak Lukmanul Hakim,S.Ud,MIRKH selaku dosen mata kuliah study al-qur’an yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai ayat tentang social kemasyarakatan. Kami juga menyadari sepenuh nya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna oleh sebab itu ,kami berharap adanya keritik saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang mengingat tidak ada sesuatu ynag sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat di pahami bagi siapapun ynag membaca nya. Sekira nya laporan ynag telah di susun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya .sebelumnya kami mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah kami .



Pekanbaru , 26 maret 2016


Penyusun
        BAB 1
PENDAHULUAN
 A. Latar belakang
Makalah ini saya tujukan khusus nya untuk teman-teman bagi yang beragama islam agar kita semua mengetahui ayat dan arti dari sosial kemasyarakatan karena sosial dan kemasyarakatan identik dengan kehidupan kita sehari-hari seiring dengan terjadinya penyelewengan dalam sosial dan kemasyarakatan yang tidak lagi berdasarkan syari’at agama kita yaitu agama islam.
B.     Rumusan masalah
Penulis telah menyusun beberapa masalah yang kan di bahas dalam makalah ini sebagai batasan dalam pembahasan bab isi. Beberapa masalah tersebut antara lain :
·         Arti dari ayat sosial kemasyarakatan
·         Tafsir ayat tentang sosial kemasyarakatan
B.     Tujuan penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam penulisan makalah ini sebagai berikut :
·         Untuk mengetahui apa itu ayat sosial kemasyarakatan
·         Untuk mengetahui arti ayat tentang sosial kemasyarakatan
·         Untuk mengetahui tafsir ayat tentang sosila kemasyarakatan







BAB 2
PEMBAHASAN
1 .SOSIAL
Pengertian sosial adalah bahwa sosial di artikan sebagai sekumpulan dan bukan lah pribadi sendiri. Sosial itu berkenaan dengan masyarakat dan di perlukan adanya komunikasi antar individu tersebut.
Dalam kehidupan berkelompok atau bermasyarakat inilah tradisi-tradisi keagamaan yang di miliki oleh individu menjadi bersifat komulatifdan kohesif, yang menyatukan keanekaragaman interpretasi dan sistem-sistem keyakinan keagamaan.Penyatuan ke naekaragaman itu dapat terjadi karena, pada hakikat nya, dalam setiap kehidupan berkelompok terdapat pola-pola interalsi tertentu yang melibatkan dua orang atau lebih dan dari pola-pola tersebut para anggota nya secara bersama memiliki satu tujuan atau tujuan-tujuan utama yang di wujudkan sebagai tindakan-tindakan berpola. Itu di mungkian kan karena kegiatan-kegiatan kelompok tersebut terarah tau terpimpin berdasarkan atas norma-norma yang di sepakati bersama, yang terwujud dari kehidupan berkelompok. Karena adanya norma-noram tersebut sebuah kelompok sebenarnya adalah juga sebuah sistem status, yang menggolong-golong kan para anggota-angotanya dalam status yang bertingkat-tingkat atau hierarki ynag masing-masing mempunyai kekuasaan dan kewenangan serta prestise yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan-tujuan utama yang ingin di capai oleh kelompok tersebut

Maka dari itu jangan lah kita membeda-bedakan suatu suku, agama, dan ras dalam kehidupan sosial karena Allah sangat membenci orang-orang yang membeda-bedakan suatu kaum seperti yang terkandung dalam surah berikut.1
1AGAMA : Dalam analisa dan interprestasi sosiologis/ Roland Robertson, Ed. ;penerjemah Achmad Fedyani Sayfuddin.—Ed., 1, Cet. 1.—Jakarta : Rajawali, 1998.




Surah Al-Hujarat ayat 13
$pkšr'¯»tƒâ¨$¨Z9$#$¯RÎ)/ä3»oYø)n=yz`ÏiB9x.sŒ4Ós\Ré&uröNä3»oYù=yèy_ur$\/qãè䩟@ͬ!$t7s%ur(#þqèùu$yètGÏ94¨bÎ)ö/ä3tBtò2r&yYÏã«!$#öNä39s)ø?r&4¨bÎ)©!$#îLìÎ=tã׎Î7yzÇÊÌÈ
13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
TAFSIR
Hai manusia, sesungguh nya kami menciptakan kalian dari asal yang sama, yaitu adam dan hawa.maka sebagian kalian tidak ada yang lebih mulia dari sebagian yang lain, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal, yakni kami menjadi kan kalian supaya saling mengenal, bukan untuk saling membanggakan nasab. Asy-syu’ub adalah kumpulan suku-suku yang besar, seperti rabi’ah. Mudhar dan khuzaimah yang membawahi beberapa suku, sedangkan qaba’il lebih kecil dari asy-syu’ub , seperti bani bakar dan rabi’ah dan bani tamim dari mudhar. Sesungguh nya orang yang paling mulai dintara kalian disisi allah orang yang paling bertakwa di atara kalian. Sesunguh nya allah maha mengetahui segala sesuatu lagi maha mengenakl inti-inti perkara dan rahasia-rahasia2
Ayat ini turun untuk menanggapi hinaan yang di terima bilal, ketika naik dinding ka’bah untuk melakukan adzan di hari pembebasan kota mekah .maka nabi saw. Memanggil orang-orang yang menghina bilaldan menegur sikap mereka yang membangga banggakan nasab.(ayat 13)7.
7Ensiklopedia al-qur’an : Prof. Dr. wahbah zuhaili, M.Bassam rusydi zain, Dr. M. Wahbi sualiaman, M. Adnan salim.
Masyarakat unggul yang hendak ditegakan islam dengan petunjuk Al-Qur’an ialah masyarakat yang memiliki etika yang luhur. Pada masyarkat itu setiap individu memiliki kehormatan yang tidak boleh disentuh.Ia merupakan kehormatan kolektif. Mengolok olok individu manapun berarti mengolok-olok pribadi umat.Sebab seluruh jamaah itu satu dan kehormatan nya pun satu.
             Ayat ini pun menegakan jalanan lain pada masyarakat yang utama lagi mulia ini seputar kemulian individu, kehormatannya, dan kebebasan nya sambil mendidik manusia dengan ungkapan yang menyentuh dan menakjubkan tentang cara membersihkan perasaan dan kalbunya.
            Untaian surah dimulai dengan panggilan kesayangan, “Hai orang-orang yang beriman.”Lalu ayat menyuruh mereka menjauhi banyak berprasangka.Sehingga mereka tidak membiarkan diri nya dirampas oleh setiap dugaan, kesamaran, dan keraguan yang dibisikan orang lain disekitarnya. Ayat itu memberikan alasan, “Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa “
            Tatkala larangan didasarkan atas banyak berprasangka, sedang aturannya menyebutkan bahwa sebagian prasangka itu merupakan dosa, maka pemberitahuan dengan ungkapan ini intinya agar manusia menjauhi buruk sangka apapun yang akan menjerumuskannya ke dalam dosa. Sebab, dia tidak tahu ungkapannya yang manakah yang menimbulkan dosa.
            Dengan cara inilah, Al-Qur’an membersihkan kalbu dari dalam agar tidak terkontaminasi dengan prasangka buruk, sehingga seseorang terjerumus kedalam dosa. Tetapi, Al-Qur’an membiarkannya tetap bersih dan terbebas dan terbebas dari bisikan dan keraguan sehingga menjadi putih.Dia menyayangi saudaranya tanpa dibarengi prasangka buruk.Hatinya bersih tanpa dikotori keraguan dan kesangsian dan hatinya tentram tanpa dikotori kegelisahan dan gundah.Alangkah nyamannya kehidupan dalam masyarakat yang terbebas dari aneka prasangka.
            Namun persoalannya dalam islam tidak berhenti sampai disana, tanpa atmosfer yang mulia dan elok tatkala membina hati dan prasaan. Bahkan, nash di atas menegakan prinsip berinteraksi dan jalinan seputar hak-hak orang lain yang hisup dalam masyarakatnya yang bersih. Sehingga, mereka tidak memperlakukan nya dengan prasangka dan menghukumi nya dengan keraguan.
Prasangka tidak menjadi landasan bagi keputusan mereka. Bahkan ia mesti lenyap dari masyarakat tersebut dari sekitar mereka. Rasulullah bersabda “ jika kamu berprasangka, ia tak akan terwujud” ( HR Thabrani ).(Al-hujarat Ayat 12)
Surah Al-Hujarat ayat 12
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#qç7Ï^tGô_$##ZŽÏWx.z`ÏiBÇd`©à9$#žcÎ)uÙ÷èt/Çd`©à9$#ÒOøOÎ)(Ÿwur(#qÝ¡¡¡pgrBŸwur=tGøótƒNä3àÒ÷è­/$³Ò÷èt/4=Ïtär&óOà2ßtnr&br&Ÿ@à2ù'tƒzNóss9ÏmŠÅzr&$\GøŠtBçnqßJçF÷d̍s3sù4(#qà)¨?$#ur©!$#4¨bÎ)©!$#Ò>#§qs?×LìÏm§ÇÊËÈ
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
TAFSIR
Hai orang-orang beriman, jauhi lah kebanyakan dari perasangka, yaitu dengan menyangka buruk kepada orang-orang yang baik, susungguh nya sebagian perasangka itu adalah dosa yang mengakibatkan azab, yaitu berprasangka buruk terhadap orang-orang yang baik.Adapun orang-orang yang jahat dan fasik, maka boleh berprasangka buruk kepada mereka dengan tanda-tanda yang tampak dari mereka. Jangan lah kalian mencaari-cari kesalahan dan aib orang yang tertutupi dan jangan lah sebagian dari kalian mengunjing sebagian yang lain. Ghibah adalah membicarakan apa yang dibenci oleh saudara mu ketika dia sedang tidak ada. Suka kah salah seorang diantara kalian memakai daging saudara nya yang sudah mati ?maksud nya ghibah serupa dengan memakan jasad manusia yang telah mati. Ini adalah gambaran kejahatan perbuatan yang mengunjing, sungguh gambaran yang menjijikan secara naluri dan akal.Maka daging manusia adalah haram dan menjijikan, begitu pula ghibah. Kedua nya sama sama perbuatan yang buruk dan bertawakal lah kepada allah dengan mengikuti perintahnya dan menjahui larangan nya. Sesungguh nya allah penerima taubat lagi maha penyayang kepada hamba-hamba nya yang bertaubat7
Ibnu juraij berkata “orang-orang berpendapat bahwa ayat ini turun pada salman al-farisi yang memiliki kebiasaan tidur sesudah makan, maka ada seorang laki-laki mengunjing kebiasaan nya.Lalu turunlah ayat ini.”(ayat 12)7
                7Ensiklopedia al-qur’an : Prof. Dr. wahbah zuhaili, M.Bassam rusydi zain, Dr. M. Wahbi sualiaman, M. Adnan salim.
Hubungan manusia dengan lingkungan
 Alam semesta beserta segala isi nya termasuk matahari, bulan, bintang, air, tanah, tumbuh-tumbuhan, dan hewan semuanya adalah ciptaan allah swtyang saling berhubungan satu sama lain, dan saling mempengaruhi dalam komposisi ekosistem yang serasi dan seimbang serta berjalan teratur dan semua itu diatur oleh yang maha kuasa ( allah swt ).9
9Depag RI,islam dan lingkungan hidup, yayasan swarna bhumy, jakarta, 1997, hal, 76
Alam semesta ini sangat cocok bagi kehidupan manusia karena semua itu di ciptakan untuk kepentingan manusia. Semua di ciptakan dengan keteraturan, keserasian dan keseimbangan ekosistem yang terdiri unsur-unsur alam yang saling berkaitankarena penciptaan dan pengaturan nya di tetapkan dan di tentukan oleh hukum allah swt.
Lingkungan adalah mencakup semua upaya atau kegiatan manusia di lingkungan nya,oleh karena itu lingkungan alami manusia daoat di lihat dari dua sudut pandang : yaitu di lihat dari sudut ruang dan dari sudut waktu. Sudut ruang dapat di lihat dari ekosistem adanya unsur-unsur aklam yang mempengaruhi satu sama lain, sedang kan sudut waktu dapat pula di lihat dari kegiatan dari waktu ke waktu, dari satu kurun ke kurun dan dari satu generasi kegenerasi dalam mengolah sumber daya alam. Dalam hal ini al-qur’an menyampai kan kepada manusia untuk selalu menelaah dan mempelajari ssejarah, karena di dalam sejarah banyak pelajaran yang dapat di ambil dari peristiwa-peristiwa masa silam yang mempunyai hubungan erat dengan alam semesta.
Dalam menjalani kehidupan ini, manusia selalu berhasil dan sukses, namun seketika kesuksesan tersebut lanyap dan hancur, di sebab kan oleh perilaku atau sikap manusia itu sendiri yang senang melanggar aturan-aturan allah, tentang alam semesta.
Alam semesta beserta segala isi nya termasuk matahari, bulan, bintang, air, tanah, tumbuh-tumbuhan, dan hewan semuanya adalah ciptaan allah swtyang saling berhubungan satu sama lain, dan saling mempengaruhi dalam komposisi ekosistem yang serasi dan seimbang serta berjalan teratur dan semua itu diatur oleh yang maha kuasa ( allah swt ).9
9Depag RI,islam dan lingkungan hidup, yayasan swarna bhumy, jakarta, 1997, hal, 76
Alam semesta ini sangat cocok bagi kehidupan manusia karena semua itu di ciptakan untuk kepentingan manusia. Semua di ciptakan dengan keteraturan, keserasian dan keseimbangan ekosistem yang terdiri unsur-unsur alam yang saling berkaitankarena penciptaan dan pengaturan nya di tetapkan dan di tentukan oleh hukum allah swt.
Lingkungan adalah mencakup semua upaya atau kegiatan manusia di lingkungan nya,oleh karena itu lingkungan alami manusia daoat di lihat dari dua sudut pandang : yaitu di lihat dari sudut ruang dan dari sudut waktu. Sudut ruang dapat di lihat dari ekosistem adanya unsur-unsur aklam yang mempengaruhi satu sama lain, sedang kan sudut waktu dapat pula di lihat dari kegiatan dari waktu ke waktu, dari satu kurun ke kurun dan dari satu generasi kegenerasi dalam mengolah sumber daya alam. Dalam hal ini al-qur’an menyampai kan kepada manusia untuk selalu menelaah dan mempelajari ssejarah, karena di dalam sejarah banyak pelajaran yang dapat di ambil dari peristiwa-peristiwa masa silam yang mempunyai hubungan erat dengan alam semesta.
Dalam menjalani kehidupan ini, manusia selalu berhasil dan sukses, namun seketika kesuksesan tersebut lanyap dan hancur, di sebab kan oleh perilaku atau sikap manusia itu sendiri yang senang melanggar aturan-aturan allah, tentang alam semesta.
Ketahuilah bahwa lingkungan hidup selalu mempunyai hubungan antar manusia dengan alam dan benda-benda sekitar nya. Disamping hubungan dengan alam dan benda sekitar nya,manusia juga mempuyai hubungan istimewa dengan sesama manusia sebagai makhluk social, dimana tidak bisa hidup tanpa teman atau sahabat. Hal ini bisa disebut dengan istilah lingkungan social kemasyarakatan. Hubungan tersebut terus mengalami perkembangan sesuai waktu dan zaman nya.apat diketahui pertambhan penduduk secara deret ukur menimbulkan dampak semakin banyak nya tuntutan kebutuhan hidup , sementara sumber daya alam jumlah nya terbatas26. Untuk itu manusia berupaya untuk mengembangkan dan melestarikan serta memelihara sumberdaya alam yang dapat di perbaharui agar tetap tersedia sepanjang waktu, sehingga dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
            Al-quran sebagai kitap suci dan menjadi pedoman dalam memelihara dan menjaga kelestarian lingkungan, tidak pernah mengingkari akan terjadinya persaingan antara sesama manusia. Namun dalam hari ini, Al-Quran selalu mengarah kan persaingan dalam melahirkan kebaikan-kebaikan yang membawa bagi kehidupan lingkungan social yang lebih baik.
            Dalam hal ini Rasulullah Saw menyampaikan kepala para sahabat sebagai berikut;
Dari ibnu abbas ; jangan lah kamu merugikan kamu sendiri dan orang lain, (HR.Ahmad dan Ibnu Majah).
            Lingkungan pada dasarnya dapat dibagi menjadi 3macam bentuk sebagai berikut ;
2-      Biological Enviroment ( lingkungan hayati )
3-      Social Enviroment ( lingkungan sosial budaya )

Lingkungan terdiri dari lingkungan benda-benda mati hidup disebut dengan istilah Abiosis. Dan makhluk hidup yang disebut dengan istilah Biosis, yang sebelumnya terbentuk secara alami.9
9Depag RI,islam dan lingkungan hidup, yayasan swarna bhumy, jakarta, 1997, hal, 76







2. MASYARAKAT
            Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu kecil atau besar yang terikat oleh satuan, adat, ritus atau hukum khas, dan hidup bersama.Demikian satu dari sekian banyak definisinya.Ada beberapa kata yang digunkan Al-Qur’an untuk menunjukkan kepada masyarakat atau kumpulan manusia. Antara lain : qawn, ummahsyu’ub, dan qabail. Disamping itu, Al-Qur’an juga memperkenalkan masyarakat dengan sifat tertentu, seperti al-mala’, al-mustakbirun, al-mustadh’afun, dan lain-lain.
            Walaupun Al-Qur’an bukan kitab ilmiah dalam pengertian umum kitab suci ini banyak sekali berbicara tentang masyarakat. Ini disebabkan fungsi utama kitab suci ini adalah mendorong lahirnya perubahan-perubahan positif dalam masyarakat, atau dalam istilah Al-Qur’an; lituk hrija an-nasminaz-zhulumati ilan nur ( mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya terang benderang). Dengan alas an yang sama, dapat dipahami mengapa kitap suci umat islam inin memperkenalkan sekian banyak hukum yang berkaitan dengan bangun runtuh nya suatu masyarakat bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Al-Qur’an merupakan buku pertama yang memperkenalkan hukum-hukum kemasyarakatan.
            Manusia adalah ”makhluk sosial“. Ayat kedua dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw, dapat di pahami sebagai salah satu ayat yang menjelas kan hal tersebut.
Dan janganlah di antara kamu mengunjing atau memanggil seseorang dengan panggilan yang tidak di sukai oleh Allah dan orang yg tergunjing merasa terhina dan jangan pernah kamu mengolok-olokkan suatu kaum seperti yang tertera pada ayat berikut ini :
Al-Qur’an memberitahukan etika tersebut melalui panggilan ke sayangan, “hai orang-orang yang beriman.” Dia melarang suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, sebab boleh jadi laki-laki yang di olok-olok itu lebih baik dalam pandangan Allah dari pada yang mengolok-olok. Mungkin juga wanita yang di olok-olok itu lebih baik dalam pertimbangan Allah dari pada yang mengolok-olok.
            Ungkapan ayat mengisyaratkan secara halus bahwa nilai-nilai lahir nya yang dilihat laki-laki dan wanita pada dirinya bukan nilai hakiki yang dijadikan pertimbangan oleh manusia. Disana ada sejumlah nilai lain yang tidak mereka ketahui dan hanya diketahui Allah serta dijadikan pertimbangan oleh sebagian hamba karena itu, kadang-kadang orang kaya menghina orang miskin, orang kuat menghina orang lemah dan orang yang sempurna menghina orang yang cacat. Kadang-kadang orang pandai yang propesional menghina orang lugu yang hanya jadi pelayan.Kadang-kadang orang yang beranak menghina orang yang mandul dan yang hanya dapat mengurus anak yatim.Kadang wanita cantik menghina wanita buruk, pemudi menghina nenek-nenek, wanita yang sempurna menghina wanita yang cacat dan wanita kaya menghina yang miskin. Hal-hal di atas dan perkara lain nya merupakan nilai duniawi yang tidak dapat dijadikan ukuran. Timbangan Allah dapat naik dan turun bukan oleh timbangan duniawi itu.
            Al-Qur’an tidak cukup dengan menyampaikan isyarat ini, bahkan menyentuh emosi persaudaraan atas keimanan.Al-Qur’an menceritakan bahwa orang-orang yang beriman itu seperti satu tubuh.Barang siapa yang mengolok nya berarti mengolok-olok keseluruhan nya. “jangan lah kamu mencela dirimu sendiri” Al-lumzu berarti aib. Tetapi, kata itu memiliki gaung dan cakupan yang menegaskan bahwa ia bersifat lahiriah, bukan aib yang bersifat maknawiah.
Termasuk mengolok-olok dan mencela ialah memanggil dengan pangialan yang tidak disukai pemiliknya serta ia merasa terhina dan ternoda dengan panggila itu. Diantara hak seoran mukmin yang wajib diberikan mukmin lain ialah dia tidak memanggil nya dengan sebutan yang dikuasai nya. Diantara kesantunan seorang mukmin ialah dia tidak menyakiti saudara nya dengan hal semacam ini. Rasulullah telah mengubah beberapa nama dan panggilan yang dimiliki orang jahiliah, karena nama atau panggilan itu menyinggung dan mencela perasaan nya yang lembut dan hati nya yang mulia.
Setelah ayat di atas mengisaratkan nilai-nilai yang hakiki menurut pertimbangan Allah dan setelah menyentuh rasa kesaudaraan nya, bahkan perasaan bersatu dengan diri yang satu, ayat selanjutnya mengusik konsep keimanan dan mewanti-wanti kaum mukmin agar jangan sampai kehilangan sifat yang mulia, menodai sifat itu, dan menyalahinya dengan melalukan olok-olok, cacian, pemanggilan yang buruk3.
3M.Quraish Shihab pakar tafsir Indonesia : wawancara Al-Quran


seburuk-buruk panggilan ialah ( panggilan ) yang buruk sesudah iman pemanggial itu bagaikan murtat dari keimanan. Ayat ini mengencam dengan memandangnya sebagai kezaliman, padahal kezaliman itu merupakan kata lain syirik, “dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”Demikian lah, ayat-ayat diatas telah mencanangkan prinsip-prinsip kesantunan diri bagi masyarakat yang unggul dan mulia tersebut seperti dalam surah . (Al-Hujarat :11)
surah Al-Hujarat (ayat 11)
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäŸwöyó¡o×Pöqs%`ÏiBBQöqs%#Ó|¤tãbr&(#qçRqä3tƒ#ZŽöyzöNåk÷]ÏiBŸwurÖä!$|¡ÎS`ÏiB>ä!$|¡ÎpS#Ó|¤tãbr&£`ä3tƒ#ZŽöyz£`åk÷]ÏiB(Ÿwur(#ÿrâÏJù=s?ö/ä3|¡àÿRr&Ÿwur(#rât/$uZs?É=»s)ø9F{$$Î/(}§ø©Î/ãLôœew$#ä-qÝ¡àÿø9$#y÷èt/Ç`»yJƒM}$#4`tBuröN©9ó=çGtƒy7Í´¯»s9'ré'sùãNèdtbqçHÍ>»©à9$#ÇÊÊÈ
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

[1409] Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
[1410] Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

TAFSIR
Hai orang-orang yang beriman,jangan lah orang laki-laki dari suatu kaum merendah kan laki-laki dari kaum yang lain,karena boleh jadi mereka yang direndah kan lebih baik dari sisi allah dari mereka yang merendahkan atau menghina dan juga pula wanita-wanita merendah kan wanita lain,karena boleh jadi wanita-wanita yang direndahkan lebih baik dari wanita yang merendahkan dan jangan lah sebagian kalian mencela sebagian yang kalian dengan perkataan atau isyarat dan jangan lah kalian saling memanggil dengan gelar yang buruk dan tidak disenangi. Seburuk-buruk panggilan seseorang sesudah dia beriman adalah fasik dan kafir.barang siapa yang tidak bertaubat dari apa yang dilarang allah maka mereka itulah orang-orang yang zalim terhadap diri sendiri dengan mempersiapkan diri untuk dihazab7.
Ayat ini turun pada rombongan bani tamim, yang juga pada mereka turun surah ini. Mereka menghina sahabat-sahabat nabi saw. Yang miskin,tatkala orang-orang bani tamim itu melihat keadaan kaum muslimin yang menyedihkan. Maka ayat ini turun kepada orang-orang yang beriman di antara mereka (ayat 11)7
7Ensiklopedia al-qur’an : Prof. Dr. wahbah zuhaili, M.Bassam rusydi zain, Dr. M. Wahbi sualiaman, M. Adnan salim.
Khalaqal insane min alaq’ bukan saja di artikan sebagai “ menciptakan manusia dari segumpal darah “ atau “ sesuatu berdempet di dinding rahim”, teiapi juga dapat dipahami sebagai “ diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain atau tidak dapat hidup sendiri”. Ayat lain dalam konteks ini adalah surat Al-Hujarat ayat 13. Dalam ayat tersebut, secara tegas dinyatakan bahwa manusia diciptakan terdiri dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menurut Al-Qur’an, manusia secara fitri adalah makhluk sosial dan hidup bermasyarakat merupakan satu keniscayaan bagi mereka. Tingkat kecerdasan, kemampuan, dan status sosial manusia menurut Al-Qur’an berbeda-beda3
3M.Quraish Shihab pakar tafsir Indonesia : wawancara Al-Quran
           


A.      FUNGSI-FUNGSI AGAMA DALAM MASYARAKAT
·                     Agama dan pendekatan fungsional
Sebagai mana kami nyatakan di muka adalah pada fungsinya dalam masyarakat. Istilah fungsi, seperti kita ketahui, menunjuk kepada sumbangan yanhg di berikan agama, atau lemabaga sosial yang lain, untuk mempertahan kan ( ketuhanan ) masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus menerus. Dengan demikian perhatian kita adalah peranan yang telah dan masih di main kan oleh agama dalam rangka mempertahan kan kelangsungan hidup masyarakat tersebut. Dengan usaha menganalisa fungsi-fungsi sosial tingakah laku keagamaan kita harus berhati-hati membedakan antara yang ingin di capai oleh anggota suatu kelompok pemeluk tertentu dan akibat yang tidak di kehendaki dari tingkah laku mereka dalam kehidupan masyarakat. Dan Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum atau kelompok tersebut, berupa kenikmatan dan kesehatan jiwa raga, hingga mereka mengubah apa ynag ada pada diri mereka sendiri, dari ketaatan nya kepada Allah SWT, seperti surah yang di turunkan berikut :
Ar-ra’d ayat 11
¼çms9×M»t7Ée)yèãB.`ÏiBÈû÷üt/Ïm÷ƒytƒô`ÏBur¾ÏmÏÿù=yz¼çmtRqÝàxÿøtsô`ÏB̍øBr&«!$#3žcÎ)©!$#ŸwçŽÉitóãƒ$tBBQöqs)Î/4Ó®Lym(#rçŽÉitóãƒ$tBöNÍkŦàÿRr'Î/3!#sŒÎ)uryŠ#ur&ª!$#5Qöqs)Î/#[äþqߟxsù¨ŠttB¼çms94$tBurOßgs9`ÏiB¾ÏmÏRrߊ`ÏB@A#urÇÊÊÈ
11. bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

[767] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.
[768] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.
TAFSIR
Allah menjelaskan dalam ayat ini, bahwa dia tidak merubah keadaan suatu kaum, berupa kenikmatan dan kesehatan jiwa raga, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri dari ketaatan nya kepada allah SWT. Maksud nya adalah allah tidak merampas kenikmatan suatu kaum yang telah di berikan kepada mereka, hingga mereka merubah ketaatan dan amal shalih8(ayat 11)
8 Tafsir Adhwa’ul Bayan / Syikh Asy- Syanqithi : penerjemah , Bari, Rifa’I, Muhammad fauzun, Rahim Mustafa, editor DR. Yusuf Baihaqi, Jakarta PUSTAKA AZZAM 2007
Karena Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat ynag telah di anugerahkan nya pada suatu kaum. Hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri dan sesungguh nya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui seperti yang terkandung dalam surat Qs. Al-Anfaal ayat 53:
Al-anfal ayat 53
y7Ï9ºsŒ cr'Î/©!$#öNs9à7tƒ#ZŽÉitóãBºpyJ÷èÏoR$ygyJyè÷Rr&4n?tãBQöqs%4Ó®Lym(#rçŽÉitóãƒ$tBöNÍkŦàÿRr'Î/ žcr&ur©!$#ììÏJyÒOŠÎ=tæÇÎÌÈ
53. (siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621], dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
                                                                       
[621] Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.


TAFSIR
Allah menyebutkan dalam ayat ini bahwa Allah tidak merubah nikmat yang di berikan kepada seseorang, kecuali karena dosa yang di perbuat nya. Allah menjelas kan arti ini pada ayat-ayat yang lain, seperti firman nya, kecuali di karebnakan dosa yang di perbuat nya. Allah menjelas kan arti ini pada ayat-ayat yang lain, seperti firman nya yang berisi” sesungguh nya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum maka tak ada yang dapat menolak nya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain dia “(Qs.Ar-Raad’ [13]:11) dan firman nya yang berisi dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah di sebabkan oleh perbuatan tangan mu sendiri, dan Allah memaaf kan sebagian besar ( dari kesalahan-kesalahan mu). (Qs. Asy-Syuuraa [42]:30). Dan firman nya yang berisi apa saja nikmat Allah yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpa mu, maka dari ( kesalahan ) dirimu sendiri.” (Qs. An-Nisaa’ [4] : 79).4
..4 Tafsir al-qur’an, pengantar :syaikh muhammmad bin shalih al-utsaimin, Syaikh Abdullah bin abdul aziz al-aqil
·         Sumbangan agama terhadap pemeliaharaan masyarakat
Dengan demikian, unsur-unsur pokok apakah yang di pelukan untuk mempertahan kan kelangsungan hidup masyarakat, dan sumbangan apakah yang di berikan masyarakat kepada masyarakat-masyarakat tersebut ?pertama masyarakat mempunyai kebutuhan-kebutuhan tertentu untuk kelangsungan hidup dan pemeliharaan nya sampai batas minimal, dan kedua, agama berfunsi memenuhi sebagian diantara kebutuhan-kebutuhan itu, meskipun mungkin terdapat beberapa kontradiksi dan ketidak cocokan dalam cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
·         Agama dan pengintegrasian nilai-nilai
Bagi umat manusia untuk dalam jangka waktu yang cukup lama nersepakat mengatur tingkah laku mereka sesuai denga bermacam-macam larangan dan perintah yang satu sama lain tidak bertalian. Banyak nya krisis disiplin dalam kehidupan penjara, militer atau sekolah menunjukan bahwa konsensus kelompok cenderung gagal.Ketika disiplin itu di perlakukan dengan sewenang-wenang tidak normal dan karena nya tidak berarti lagi.Dalam keadaan krisis semacam itu kelompok-kelompok bisa di persatukan kembali dalam satu barisan dengan menggunakan kekuatan fsik. Akan tetapi sejarah menjadi saksi bahwa masyarakat tidak dapat di pertahan kan keutuhan nya dalam jangka waktu alam hanya yang menggunakan kekuatan fisik itu.
·         Agama dan pengukuhan nilai-nilai
Seandai nya kita dapat melupakan berita-berita induk yang mencolok di surat-surat kabar dan memperhatikan tingkah laku masyarakat banyak pada umum nya barang kali kita merasa heran karena ternyata sebagian besar di antara mereka kebanyakan masyarakat betul-betul melaksanakan kewajiban-kewajiban sosial mereka. Kenapa demikian ?suatu pejelasan yang mudah di ingat ialah kekuatan adat kebiasaan kekuatan memaksa dari adat yang bersifat absolute dan yang di dukung oleh sikap ketidak pedulian manusia.
·         Peranan agama di bidang sosial beberapa kesimpulan dan permasalahan
Peranan sosial agama dilihat terutama sebagai sesuatu yang mempersatukan dalam pengertian harfiah nya, agama menciptakan suatu ikatan bersama baik di antara angota-angota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka.Kerena nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial di dukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan, maka agama menjamin cenderung melestarikan nilai-nilai sosial.Fakta yang menunjukan bahwa nilai-nilai keagamaan itu sacral berarti nilai-nilai keagamaan tersebut tidak mudah di ubah karena ada nya perubahan-perubahan konsepsi-konsepsi kegunaan dan kesenangan duniawi.
·         Agama dan sosialisasi individu
Dengan demikian suatu kelengkapan yang penting bagi terlaksana nya peranan agama sebagai pemersatu adalah sumbangan fungsional terhadap proses sosialisasi dari masing-masing anggota masyarakat. Setiap individu di saat ia tumbuh menjadi dewasa memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk mengarah kan aktifitas nya dalam masyarakat dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiaan nya sehingga tidak ada lagi perdebatan-perdebatan tentang Allah, karena Allah adalah tuhan kami dan tuhan kamu : bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalan kamudan hanya kepada nya lah kami mengikhlaskan hati yang tercantum dalam pembahasan (Qs. Al-Baqarah ayat  :139) .6
.6Agama dan masyarakat/Elizabeth K. Notingham ;penerjemah, Abdul Muis Naharong, Ed. 1.,Cet.6-Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 1996.

Surah Al-Baqarah
Al-baqarah ayat 139
ö@è%$oYtRq_!$ysè?r&Îû«!$#uqèdur$uZš/uöNà6š/uur!$oYs9ur$oYè=»yJôãr&öNä3s9uröNä3è=»yJôãr&ß`øtwUur¼çms9tbqÝÁÎ=øƒèCÇÊÌÒÈ
139. Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan Kami tentang Allah, Padahal Dia adalah Tuhan Kami dan Tuhan kamu; bagi Kami amalan Kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya Kami mengikhlaskan hati,
TAFSIR
Al hasan berkata, “ orang-orang ( yahudi dan nashrani ) mengklaim diri mereka dengan berkata,” kami lebih berhak terhadap Allah dari pada kalian. Sebab kami adalah anak-anak dan kekasih-kekasih Allah. Selain itu, juga karena nenek moyang kami ( telah) meraih status itu dan kitab-kiatb kami telah di nyatakan demikian. Juag karena kami tidak pernah menyembah berhala.”
Denagn demikian makna ayat ini adalah.“ katakana lah kepada mereka wahai muhammad. Yakni katakan lah kepada orang-orang yahudi dan nasrani yang mengklaim bahwa mereka adalah anak Allah dan kekasih  Nya, bahkan mereka pun mengklaim bahwa mereka lebih berhak terhadap Allah dari pada kalian, karena nenek moyang mereka (telah meraih status itu) dan kitab-kitab mereka pun ( telah di nyatakan demiakian),  apakah kamu memperdepatkan dengan kami, yakni apakah kalian mengajak kami untuk berdebat tentang klaim kalian, sementara tuhan itu satu, dan setiap orang itu tergantung kepada perbuatan masng-masing. Jika demikian, pengaruh apa yang di timbul kan dari lebih dahulu memeluk suatu agama.
Makna dari firman Allah” tentang Allah“ adalah tentang agama, pendekatan diri, dan langkah menuju kepada nya.
Qira’ah mayoritas ulama’ adalah apakah kamu memperdebat kan dengan kami. Dalam hal ini, perlu di ketahui bahwa menyatukan dua huruf sejenis yang mempunyai harakat yang sama merupakan satu hal yang di perbolehkan. Sebab huruf yang kedua itu seoalah terpiasah dari huruf yang pertama.
Sementara itu ibnu muhaisim membaca dengan attuhaajunanaa ‘apakah kamu memperdebat kan dengan kami ‘ denganmengidghamkan huruf nun yang pertama pada huruf nunyang kedua, karena kedua huruf ini sejenis. An-Nuhas berkata, “hal ini di perboleh kan , namun hal ini menyalahi aturan. Boleh juag di baca : atuhaajuuni dengan membuang huruf nunyang kedua. Hal ini sebagai mana yang di lakukan oleh Nafi’ pada firman Allah : maka denag cara bagai mana kah ( terlaksana nya) berita gembira yang kamu kabarkan ini, “ (Qs. Hijr[15] : 55 ) dimana dia membacanya menjadi : fabimaa tubasyyiruuni8
8 Tafsir Ath-Thabari/Abu Ja’far Muhammad bin Ath Thabari, penerjemah, Absan askan, editor, besus hidayat amin, Jakarta : Pustaka Azzam 2007

B.     MANUSIA ANGGOTA MASYARAKAT
Tidak dapat di ragukan lagi bahwa tujuan utama al-qur’an adalah menegakkan sebuah tata masyarakat yang adil, berdasarkan etika, dan dapat bertahan di muka bumi ini. Apakah individu yang lebih penting sedang masyarakat adalah instrumen yang di perlukan di dalam penciptaan nya atau sebaliknya, itu hanya merupakan sebuah masalah akademis, karena tampak nya individu dan masyarakat tidak dapat di pisah kan. Tidak ada individu yang hidup tanpa masyarakat.
Jika ada perselisihan dan peperangan antara kelompok-kelompok muslim, al-qur’an menyerukan agar di angkat seorang penengah. Jika salah satu kelompok tersebut menolak penengahan ini maka kelompok tersebut harus di perangi.
Al-qur’an menekan kan persamaan manusia yang esensil ini karena di antara semua mahluk hidup bangsa manusia sajalah yang memilki ke unikan : sebagian di antara nya mereka merasa lebih unggul dari pada yang lain-lain nya.
Al-qur’an memerintah kan kepada kaum muslimin bahwa mereka lebih baik mengeluar kan harta kekayaan mereka di atas jalan allah dan dengan demikian mereka “berpiutang kepada allah yang akan di bayar allah dengan berlipat ganda” dari pada membunga kan uang untuk menghirup darah-darah orang miskin sehingga timbul rasa kemasyarakatan antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin5
5Tema Pokok Al-qur’an : Fazlur Rahman, Bandung, 1417 H – 1996 M
Al-Qur’an memberitahukan etika tersebut melalui panggilan ke sayangan, “hai orang-orang yang beriman.” Dia melarang suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, sebab boleh jadi laki-laki yang di olok-olok itu lebih baik dalam pandangan Allah dari pada yang mengolok-olok. Mungkin juga wanita yang di olok-olok itu lebih baik dalam pertimbangan Allah dari pada yang mengolok-olok.
            Ungkapan ayat mengisyaratkan secara halus bahwa nilai-nilai lahir nya yang dilihat laki-laki dan wanita pada dirinya bukan nilai hakiki yang dijadikan pertimbangan oleh manusia. Disana ada sejumlah nilai lain yang tidak mereka ketahui dan hanya diketahui Allah serta dijadikan pertimbangan oleh sebagian hamba karena itu, kadang-kadang orang kaya menghina orang miskin, orang kuat menghina orang lemah dan orang yang sempurna menghina orang yang cacat. Kadang-kadang orang pandai yang propesional menghina orang lugu yang hanya jadi pelayan.Kadang-kadang orang yang beranak menghina orang yang mandul dan yang hanya dapat mengurus anak yatim.Kadang wanita cantik menghina wanita buruk, pemudi menghina nenek-nenek, wanita yang sempurna menghina wanita yang cacat dan wanita kaya menghina yang miskin. Hal-hal di atas dan perkara lain nya merupakan nilai duniawi yang tidak dapat dijadikan ukuran. Timbangan Allah dapat naik dan turun bukan oleh timbangan duniawi itu.
            Al-Qur’an tidak cukup dengan menyampaikan isyarat ini, bahkan menyentuh emosi persaudaraan atas keimanan.Al-Qur’an menceritakan bahwa orang-orang yang beriman itu seperti satu tubuh.Barang siapa yang mengolok nya berarti mengolok-olok keseluruhan nya. “jangan lah kamu mencela dirimu sendiri” Al-lumzu berarti aib. Tetapi, kata itu memiliki gaung dan cakupan yang menegaskan bahwa ia bersifat lahiriah, bukan aib yang bersifat maknawiah.
Termasuk mengolok-olok dan mencela ialah memanggil dengan pangialan yang tidak disukai pemiliknya serta ia merasa terhina dan ternoda dengan panggila itu. Diantara hak seoran mukmin yang wajib diberikan mukmin lain ialah dia tidak memanggil nya dengan sebutan yang dikuasai nya. Diantara kesantunan seorang mukmin ialah dia tidak menyakiti saudara nya dengan hal semacam ini. Rasulullah telah mengubah beberapa nama dan panggilan yang dimiliki orang jahiliah, karena nama atau panggilan itu menyinggung dan mencela perasaan nya yang lembut dan hati nya yang mulia.
Setelah ayat di atas mengisaratkan nilai-nilai yang hakiki menurut pertimbangan Allah dan setelah menyentuh rasa kesaudaraan nya, bahkan perasaan bersatu dengan diri yang satu, ayat selanjutnya mengusik konsep keimanan dan mewanti-wanti kau mukmin agar jangan sampai kehilangan sifat yang mulia, menodai sifat itu, dan menyalahinya dengan melalukan olok-olok, cacian, pemanggilan yang buruk.
seburuk-buruk panggilan ialah ( panggilan ) yang buruk sesudah iman pemanggial itu bagaikan murtat dari keimanan. Ayat ini mengencam dengan memandangnya sebagai kezaliman, padahal kezaliman itu merupakan kata lain syirik, “dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”Demikian lah, ayat-ayat diatas telah mencanangkan prinsip-prinsip kesantunan diri bagi masyarakat yang unggul dan mulia tersebut seperti dalam surah . (Al-Hujarat :11)
surah Al-Hujarat (ayat 11)
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäŸwöyó¡o×Pöqs%`ÏiBBQöqs%#Ó|¤tãbr&(#qçRqä3tƒ#ZŽöyzöNåk÷]ÏiBŸwurÖä!$|¡ÎS`ÏiB>ä!$|¡ÎpS#Ó|¤tãbr&£`ä3tƒ#ZŽöyz£`åk÷]ÏiB(Ÿwur(#ÿrâÏJù=s?ö/ä3|¡àÿRr&Ÿwur(#rât/$uZs?É=»s)ø9F{$$Î/(}§ø©Î/ãLôœew$#ä-qÝ¡àÿø9$#y÷èt/Ç`»yJƒM}$#4`tBuröN©9ó=çGtƒy7Í´¯»s9'ré'sùãNèdtbqçHÍ>»©à9$#ÇÊÊÈ
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

[1409] Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
[1410] Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.
TAFSIR
Hai orang-orang yang beriman,jangan lah orang laki-laki dari suatu kaum merendah kan laki-laki dari kaum yang lain,karena boleh jadi mereka yang direndah kan lebih baik dari sisi allah dari mereka yang merendahkan atau menghina dan juga pula wanita-wanita merendah kan wanita lain,karena boleh jadi wanita-wanita yang direndahkan lebih baik dari wanita yang merendahkan dan jangan lah sebagian kalian mencela sebagian yang kalian dengan perkataan atau isyarat dan jangan lah kalian saling memanggil dengan gelar yang buruk dan tidak disenangi. Seburuk-buruk panggilan seseorang sesudah dia beriman adalah fasik dan kafir.barang siapa yang tidak bertaubat dari apa yang dilarang allah maka mereka itulah orang-orang yang zalim terhadap diri sendiri dengan mempersiapkan diri untuk dihazab2.
2Tafsir Al Qurthubi/Syaikh Imam Al Qurthubi ; penerjemah, Fathurrahman, Ahmad Hotib ; editor, Mukhlis B. Mukti-Jakarta : Pustaka Azzam, 2007
Ayat ini turun pada rombongan bani tamim, yang juga pada mereka turun surah ini. Mereka menghina sahabat-sahabat nabi saw. Yang miskin,tatkala orang-orang bani tamim itu melihat keadaan kaum muslimin yang menyedihkan. Maka ayat ini turun kepada orang-orang yang beriman di antara mereka (ayat 11)2
2Tafsir Al Qurthubi/Syaikh Imam Al Qurthubi ; penerjemah, Fathurrahman, Ahmad Hotib ; editor, Mukhlis B. Mukti-Jakarta : Pustaka Azzam, 2007


C.   STRATIFIKASI MASYARAKAT MENURUT AL-QUR’AN
.10 Ada beberapa kata yang digunakan al-Qur’an untuk menunjuk kepada masyarakat atau kumpulan manusia antara lain; Qoum, Ummah, Syu’ub dan Qabail. Disamping itu, al-Qur’an juga memperkenalkan masyarakat dengan
sifat-sifat tertentu seperti; al-mala’, al-mustakbirun, al-mustadh afun, dan lainlain.11 Setiap masyarakat mempunyai ciri khas dan pandangan hidupnya. Mereka melangkah berdasarkan kesadaran tentang hal tersebut, inilah yang melahirkan watak dan kepribadiannya yang khas. Dalam hal ini al-Qur’an menjelaskan: “Demikianlah kami menjadikan indah (di mata) setiap masyarakat perbuatan mereka”.Suasana kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat itu, demikian juga ukuran-ukuran hal/sesuatu yang dianggap penting dan memiliki nilai lebih akan dianggap sebagai sesuatu yang berharga, dan kemudian melahirkan stratifikasi di dalam masyarakat tersebut. Menurut hemat penulis, selain al-Qur’an sebagai kitab suci, juga berfungsi sebagai petunjuk untuk menata kehidupan umat manusia (Islam), sekaligus merupakan ajaran wahyu dari Tuhan yang memiliki pandangan sendiri tentang masyarakat, dan tentang nilai-nilai sosial sebagai sebuah sistem aturan (nilai) yang dianutnya. Sistem nilai itulah pada gilirannya menjadikan sesuatu hal/barang menjadi dihargai oleh masyarakt (islam) dan kemudian melahirkan stratifikasi sosial dalam kehidupannya. Nilai-nilai sosial dari ajaran wahyu itu
           
jadi dapat disimpulkan dari pembahasan di atas bahwa pengertian sosial kemasyarakatan itu adalah hubungan dan interaksi sesama manusia yang harus di lakukan dengan baik sebab manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dan pertolongan orang lain (sosial kemasyaralkatan )

10 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007), h. 319

11 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, 319







BAB 3
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan yaitu  “ ayat tentang sosial kemasyarakatan “ maka di ambil kesimpulan :
ü Dalam kehidupan bermasyarakat kita harus berinteraksi satu sama lain seperti yang di anjurkan oleh Nabi Muhammad melalui dasar-dasar islam karena kita tidak mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
ü Kita di larang untuk mengolok-olok kan dan memanggil seseorang dengan panggilan gelar yang tidak di sukai pemilik nya serta dia merasa terhina dan ternoda dengan panggilan itu atau menggunjing antar sesama manusia demi kesenangan semata dan tertawa di atas penderitaan orang lain, maka dari itu Rasullah SAW melarang kita melakukan nya seperti surah yang di turunkan pada (surah al-hujurat : 11)
ü Janganlah di antara kita berprasangka buruk terhadap orang lain karena berprasangka itu adalah dosa dan jangan lah kita membicara kan keburukan seseorang tanpa sebelumnya kita tahu apa yang benar-benar terjadi serta jangan pernah terpengaruh dengan omongan seseorang yang belum pasti kebenarannya
ü Dan jangan lah saling membedakan suku dan agama serta rasa tau warna kulit karena allah menciptakan kita berbeda-beda untuk saling mengenal dan menyayangi satu sama lain sehingga terciptalah keanekaragaman dalam hidup bermasyarakat


KRITIK
Kehidupan sosial dan bermasyarakat seharus nya harus ada niai-nilai atau aturan-aturan yang sesuai dengan norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak menyalahi aturan-atura yang bisa membuat seseorang itu terpengaruh buruk oleh sikap dan tingkah laku yang abnormal.
SARAN
Seharus nya dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat kita harus berprilaku  baik dan bisa menjadi contoh untuk orang banyak sehingga dengan demikian akan terciptalah sebuah sosial dan kemasyarakatan yang madani dan ketentraman lingkungan serta menciptakan masyarakat yang berahlak baik, berprestasi, berkualitas, yang memberiakan dampak positip dalam kehidupan baik sekarang maupun kehidupan yang akan kita lalui.
     REKOMENDASI
Berdasarkan kesimpulan yang telah di paparkan, maka penulis mengajukan rekomendasi yang di pandang berguna dan yang dapat mempertimbang kan agar dapat meningkatkan kompetensi pada kawan-kawan sekalian.
Kepada kawan-kawan sekalian di harapkan kita dapat bersosialisasi dan bermasyarakat yang baik serta dapat menciptakan suasana yang tentram dan damai, jauhilah mengunjing dan memanggil dengan sebutan gelar yang tidak di sukai oleh teman kita atau kita sebab perilaku tersebut sangat di benci Rasulullah karena orang yang kita  panggil dengan sebutan gelar atau menggunjingnya akan terasa terhina dengan perbuatan kita yang tidak ada norma-norma dalam sosial dan kemasyarakatan





DAFTAR PUSTAKA
1AGAMA : Dalam analisa dan interprestasi sosiologis/ Roland Robertson, Ed. ;penerjemah Achmad Fedyani Sayfuddin.—Ed., 1, Cet. 1.—Jakarta : Rajawali, 1998.
2Tafsir Al Qurthubi/Syaikh Imam Al Qurthubi ; penerjemah, Fathurrahman, Ahmad Hotib ; editor, Mukhlis B. Mukti-Jakarta : Pustaka Azzam, 2007
                3M.Quraish Shihab pakar tafsir Indonesia : wawancara Al-Quran
            4 Tafsir al-qur’an, pengantar :syaikh muhammmad bin shalih al-utsaimin, Syaikh Abdullah bin abdul aziz al-aqil
   5Tema Pokok Al-qur’an : Fazlur Rahman, Bandung, 1417 H – 1996 M
  .6Agama dan masyarakat/Elizabeth K. Notingham ;penerjemah, Abdul Muis Naharong, Ed. 1.,Cet.6-Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 1996.
   7Ensiklopedia al-qur’an : Prof. Dr. wahbah zuhaili, M.Bassam rusydi zain, Dr. M. Wahbi sualiaman, M. Adnan salim.
8 Tafsir Ath-Thabari/Abu Ja’far Muhammad bin Ath Thabari, penerjemah, Absan askan, editor, besus hidayat amin, Jakarta : Pustaka Azzam 2007
9Depag RI,islam dan lingkungan hidup, yayasan swarna bhumy, jakarta, 1997, hal, 76
10 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007), h. 319

11 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, 319


                                                           


Post a Comment

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates